Terorisme di Mata Seorang Mahasiswa

Posted: September 27, 2010 in otak atik otak

Mendengar kata “terorisme” belakangan ini memang sangat menyeramkan. Mengapa tidak? Akhir-akhir ini telah terjadi serangkaian aksi-aksi yang mengganggu ketentraman orang banyak. Saya lihat di kamus, kata ”teror” berarti usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau kelompok. Ditambah imbuhan –isme, “terorisme” berarti penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik). Menurut saya, kata kuncinya adalah kekerasan untuk menciptakan ketakutan. Menyeramkan bukan?

Terorisme bukanlah hal baru di muka bumi ini, hanya belakangan ini digalakkan lagi untuk mencapai tujuan sperti yang dijelaskan di atas. Kemungkinan bukan hanya tujuan politik, tapi ada tujuan-tujuan lainnya. Saya tidak tahu pasti karena saya bukan merupakan pengamat teroris, saya hanya ingin menguraikan pandangan yang menggeliat di otak saya. Mengapa hal ini bisa muncul kembali? Dalam menjawab ini, saya hanya berspekulasi bahwa cara ini dipakai karena cara-cara lain yang dianggap lebih normatif tidak lagi dapat mengakomodasi pencapaian tujuan orang-orang/kelompok yang berada di balik terorisme tersebut. Penyampaian aspirasi melalui anggota parlemen, penyampaian pendapat melalui media,  penyampaian pesan singkat ataupun surat secara langsung ke presiden, dan masih banyak cara lain yang dianggap normatif tidak lagi menjadi alat yang ampuh secara khusus dalam mencapai tujuan politik. Kok, tidak ampuh lagi? Ya iya, di era reformasi yang aneh ini, masing-masing orang lebih mementingkan diri sendiri. Sangat jarang orang-orang yang benar-benar mau berbuat untuk kepentingan orang lain. Adapun, cuma segelintir dan pasti akan terbawa arus dengan derasnya orang-orang yang egois itu. Menurut saya, itu kenyataan yang ada saat ini. Okelah kalau mereka menolak disebut mementingkan diri sendiri, tapi mereka pasti lebih mementingkan kepentingan kelompok, kaum, golongan, dan masih banyak kotak-kotak lain yang tetap saja hanya merupakan sebagian dari semua kepentingan.

Dari sisi pelaku teror, sebegitu tidak percayanya lagi mereka terhadap orang-orang yang menjadi perwakilan mereka di legislatif, ataupun pemimpin yang menjadi pemangku kebijakan di negeri ini, mereka pun ambil tindakan sendiri. Terorisme menurut mereka adalah cara yang terbaik. Kalau dilihat-lihat dan didengar-dengar, tujuan dari para teroris pun bukan merupakan tujuan atau kepentingan banyak orang, tetap saja merupakan kepentingan segelintir yang mungkin memang adalah mayoritas. Saya baca di media, kegiatan terorisme ini terkait dengan usaha untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Begitupun tujuannya, saya menganggap bahwa ini hanya tujuan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab dengan membawa agama sebagai tameng untuk mencapai tujuannya. Saya pun percaya bahwa tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan kekerasan untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, teroris memanfaatkan kesempatan ini sebagai alat untuk menciptakan ketakutan di masyarakat dan menghilangkan kepercayaan terhadap penyelanggara negara, sehingga teroris nantinya menawarkan sesuatu yang mereka anggap paling tepat sehingga mereka memperoleh kesempatan untuk mencapai tujuannya tersebut.

Nah, menurut pemahaman saya, hal yang terjadi adalah benturan kepentingan atau istilahnya dikenal dengan konflik kepentingan (conflict of interest). Bagaimana memecahkan masalah ini? Ini  hanya ide seorang mahasiswa yang berpikir sederhana. Saya beranggapan bahwa masalah ini dapat diselesaikan dengan dialog terbuka. Dialog yang dilakukan dengan pikiran jernih, kejujuran, rendah hati, dan kemauan yang kuat untuk mencapai suatu tujuan yang mengakomodasi kepentingan semua orang. Solusi ini memang terkesan normatif dan merupakan solusi yang biasa-biasa saja, tapi kalau memang dapat terlaksana dengan baik, masalah pun terpecahkan.

Beginilah kira-kira saya menggambarkan pemahaman saya tentang terorisme yang sedang marak di negara ini. Akan ada banyak hal yang dapat diperdebatkan dari pendapat saya ini. Apapun itu, saya terbuka untuk kritik, saran, dan apapun terhadap apa yang menjadi buah pikiran saya ini, kiranya dapat menambah khasanah berpikir saya. Semoga terorisme tidak semakin marak, dan di lain pihak , kepercayaan terhadap penyelenggara negara ini dapat dipulihkan. Jayalah Indonesia!

Niko Simamora,

Bandung, 27 September 2010



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s