Lihat gaya hidupmu, kawan!

Posted: May 7, 2012 in otak atik otak
Tags: , , ,

Berkaca dari keberadaan orang-orang di sekeliling kita, tentunya memiliki sedikit banyak pengaruh dalam diri kita masing-masing. Dengan kata lain, kita akan cenderung mengadopsi gaya hidup orang lain yang menurut kita baik dan membuang jauh-jauh hal yang lagi-lagi menurut kita kurang baik. Ya, setiap pribadi adalah pemimpin setidaknya untuk dirinya sendiri dan prinsip kepemimpinan adalah pengaruh, walaupun dalam lingkup yang kecil.

Berbicara tentang gaya hidup, pertama-tama dibentuk dalam keluarga lalu kemudian lingkungan-lingkungan yang lain mengikutinya. Keluarga sebagai lembaga dasar pembentukan manusia dasar sebelum terjun ke dalam lingkup pergaulan di luar keluarga. Pengaruh ayah dan ibu tentunya menjadi pembentuk dasar setiap anak, entah itu besar atau kecil, sadar maupun tak sadar. Setelah itu, baru kemudian lingkungan yang mempengaruhi. Lingkungan, dalam hal ini, akan banyak ragamnya. Pertama-tama lingkungan tempat tinggal, sekolah/kampus, klub hobi, kantor, gereja, masjid, dan lain-lain.

Penerapan gaya hidup yang kita terima dari orang lain terkadang terjadi pertukaran yang mungkin tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Contohnya, ketika kita melihat bagaimana seorang anak pengusaha yang sudah barang tentu memiliki kecukupan atau bahkan kelebihan materi akan cenderung memiliki gaya hidup yang mewah, terlihat dari cara berpakaian, kendaraan yang dipakainya, peralatan komunikasi yang dipakainya, dan sebagainya. Kita bandingkan dengan seorang anak sederhana dari kabupaten dengan kemampuan materi orangtuanya yang pas-pasan, gaya hidupnya pun tidak akan mewah. Nah, ketika kedua orang tersebut bergaul dekat, secara sadar maupun tidak, akan terjadi pertukaran pola pikir. Dikarenakan keduanya saling ingin menunjukkan rasa empati. Sederhananya, si anak kaya akan cenderung untuk memilih pola hidup sederhana dan si anak sederhana dengan segala daya upaya berusaha menampilkan diri terlihat mewah. Hal ini memang tergolong kasuistik, namun acapkali terjadi.

Berdasarkan kasus di atas, terjadinya perubahan pola pikir tersebut akan mempengaruhi kehidupan masing-masing ke depan. Si anak kaya bisa dikatakan mudah untuk menjadi orang yang sederhana, karena hanya butuh menurunkan standar hidupnya. Namun bisa berbeda dengan si anak sederhana, yang dengan susah payah harus menaikkan standar hidupnya dengan hal-hal yang pas-pasan. Saya ingatkan kembali bahwa ini adalah hal yang kasuistik. Oleh karena itu, bila dilihat dampak ke depan dalam masing-masing kehidupannya, si anak kaya menjadi positif dan si anak sederhana terkesan negatif.

Sebaiknya seperti apa, sih? Menurut saya, baiklah masing-masing hidup dalam standar hidup yang cukup baginya. Pertama-tama, usahakan jangan terpengaruh dengan gaya hidup yang menekankan materi. Yang kedua, bila materi kita memang memungkinkan untuk memiliki gaya hidup di atas standar, silakan saja asalkan tetap memiliki batas hingga tidak terkesan berfoya-foya. Dan saya ingatkan kembali, bahwa pemahaman yang benar akan rasa cukup membawa kita kepada kehidupan berkelimpahan, penuh syukur dan tanpa iri hati. Lihat gaya hidupmu, kawan!

Ruang Hidrografi Lantai 4, Labtek IX-C, ITB,

7 Mei 2012, 00.37, Niko Saripson P Simamora

Advertisements
Comments
  1. seems like I’m ur number 1 fan… hehehehhe
    mengingatkan aku jaman2 kuliah
    yang cenderung seperti si anak yg pas2an
    mencoba menaikkan standar hidupnya..
    akhirnya terjadilah hedonisme..
    tobat aku bah…
    hahahhaha
    thx udah diingatkan kembali lewat tulisanmu bro..
    Tuhan memberkati..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s