Sindrom Kekuasaan

Posted: June 26, 2013 in otak atik otak
Tags: , , ,

Betapa beruntung nasib seorang Ester ketika Raja Ahasyweros-raja atas seratus dua puluh tujuh daerah dari India sampai Etiopia- mengangkatnya menjadi ratu menggantikan Ratu Wasti yang dilengserkan dari permaisuri hanya karena menolak menaati titah raja, yang bila dipikir-pikir cukup sederhana. Bila dibandingkan saat ini, mungkin ratu itu habis diolok-olok oleh perempuan lain di lingkungan kerajaan padahal hanya diminta ‘tepe-tepe’ oleh Raja Ahasyweros.

Bila diperhatikan, hal itu menjadi sebuah sindrom kekuasaan pertama yang muncul di kalangan istana. Raja dengan segala kekuasaannya memiliki kewenangan yang tak terbatas atas segala hal, selama itu di daerah kekuasaannya. Di lain sisi, Ratu Wasti pun tak mau kalah. Emang lu aja yang bisa berkuasa, Gua juga pengen. Mungkin itu yang mendasari beliau tidak menghiraukan titah sang Suami.

Raja atas bisikan dari pembesar-pembesar yang juga memiliki sindrom kekuasaan akhirnya membuang sang ratu. Tragis sekali. Kecenderungan manusia memang selalu ingin menampilkan kekuasaannya, apalagi laki-laki. Jadilah Raja Ahasyweros tanpa permaisuri, sehingga sesuai pesan dari pembesar-pembesar, diadakanlah sayembara untuk mencari perempuan-perempuan tercantik yang beruntung dari seluruh negeri untuk dijadikan Ratu.

Berita itu santer hingga ke telinga Mordekhai, orang buangan dari Yerusalem yang tinggal di sekitar Benteng Susan. Ia pada waktu itu mengasuh Hadasa, anak saudara ayahnya yang sudah yatim piatu. Ester, sebutan lain Hadasa, adalah seorang yang elok perawakannya dan cantik parasnya. Ia pun turut sayembara dan mengikuti prosedur yang ada. Dalam pada itu, Mordekhai senantiasa mendukung dengan berjalan tiap-tiap hari dari depan istana untuk mengetahui keadaan jagoannya itu.

Ester menjadi seorang ratu, namun Ia tetap menghargai Mordekhai sebagai ayah angkatnya. Mordekhai pun begitu, tidak serta merta merasa dekat dengan lingkaran kekuasaan. Bahkan mereka masing saling kontak, begitupun ketika Mordekhai mengetahui persekongkolan untuk membunuh raja. Mereka bekerja sama secara apik. Ester menjadi informan kepada raja, Mordekhai pun tidak serta merta merasa sok pahlawan.

Sindrom kekuasaan kemudia terpancar dari Haman, pembesar yang dinaikkan pangkatnya oleh raja pada saat itu sudah mengetahui keberadaan Mordekhai  dan bangsanya. Sindrom kekuasaan memang dipengaruhi  oleh motif pribadi. Ia kemudian melapor kepada raja dan ingin memunahkan mereka. Mordekhai tak punya kuasa menghadapinya, ia pun hanya bisa berkabung dan diikuti oleh bangsanya sehingga kedengaran kepada Ratu Ester.

Dengan segala upaya, Ratu Ester memanfaatkan kekuasaannya untuk sebesar-besar keselamatan bangsanya. Inilah sindrom kekuasaan yang positif. Kekuasaan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kesejahteraan banyak orang. Pada akhirnya, kekuasaan yang dimanfaatkan dengan benar memberikan kemenangan kepada semua orang. Haman pun harus mati di tempat penyulaan yang disediakannya untuk Mordekhai. Di lain sisi, Mordekhai semakin dihormati bahkan diberikan ‘bintang mahaputra adipradana’ oleh Raja Ahasyweros. Menarik sekali bukan?

 

Jakarta, 26 Juni 2013, 18.50

Niko Saripson P Simamora

Diadaptasi dari Ester 1-10

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s