Hidup Masih Harus Terus Berjalan

Posted: December 20, 2015 in cerpen, Uncategorized
Tags: , , , ,

 

“Tutup!”

Teriakan itu muncul dari seorang pemuda di pintu paling belakang bus Trans Jakarta tipe gandeng yang melayani tujuan Grogol-PGC setelah penumpang masuk ke dalam bus. Pemuda itu menggunakan kaos oblong hitam yang polos, celana jins berwarna gelap dan kakinya beralaskan sandal. Bisa dipastikan bahwa si pemuda itu bukan petugas dari bus Trans Jakarta.

Bus pun berjalan di jalurnya, semua orang di dalam seperti pada umumnya hanya berdiam. Sebagian ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang baca koran, ada yang tidur, dan pastinya tidak ada interaksi. Si pemuda yang berdiri di dekat pintu itu memegang batang besi pegangan di pintu tersebut, bahkan ia  memeluk pegangan itu dan merapatkan mukanya ke kaca pintu itu.

“Yang LIPI, Gatot Subroto, persiapan!” terucap teriakan dari si pemuda sambil masih berpegangan pada besi di pintu ketika bus mendekati halte Gatot Subroto-LIPI, “ Yang Gatot Subroto LIPI,” teriaknya lagi.

Ketika bus berhenti di halte Gatot Subroto LIPI, ada satu penumpang yang keluar, sementara si pemuda kembali berteriak,” Gatot Subroto LIPI!”. Melihat tidak ada yang bergerak keluar, si pemuda pun dengan segera berteriak, “Tutup!”

Tepat saat pintu akan ditutup, ada seorang bapak yang baru tersadar bahwa ia harusnya turun di situ. Sebenarnya, si bapak masih punya kesempatan untuk bisa keluar bus dengan segera, namun karena sudah ada sinyal bunyi bahwa pintu akan ditutup, si pemuda pun menghalangi si bapak.

“Maaf, Pak sudahditutup,” ucapnya kepada si Bapak.

Ada kesan kecewa dari si bapak, namun ia cepat menerima kenyataan bahwa si pemuda itu menghalanginya untuk keluar meski ia masih punya kesempatan. Si pemuda pun mengingatkan untuk turun di halte selanjutnya. Si bapak itu orangnya sabar dan bisa menerima.

Bus kembali berjalan menuju halte selanjutnya. Ketika mendekati halte Gatot Subroto Jamsostek, si pemuda kembali teriak,” Persiapan yang Gatot Subroto Jamsostek!”.

Ketika tiba di halte Gatot Subroto Jamsostek, si bapak yang tadi belum keluar pun segera bergegas keluar.  Namun, tidak ada yang penumpang yang masuk dari halte itu. Si pemuda pun cepat berteriak, “Tutup!”, sambil ia melihat ke belakang dari luar pintu. Entah apa yang dia lihat.

Selama bus berjalan menuju halte selanjutnya, si pemuda kembali memeluk besi pegangan di pintu itu. Ia memejamkan mata dan terkadang terlihat mulutnya komat-kamit. Setelah bus akan mendekati halte, si pemuda membuka mata dan kembali berteriak,”Persiapan yang Kuningan Barat! Transit Ragunan Dukuh Atas!”. Ada beberapa penumpang yang turun, namun tidak ada yang naik dari halte itu.

Bus kembali melaju. Ketika mendekati halte Pancoran Barat, si Pemuda kembali berteriak,”Pancoran Barat! Persiapan!”. Saat bus berhenti, Ia akan berdiri persis seperti petugas bus Trans Jakarta. Kakinya akan mengangkang menginjak lantai halte dan lantai bus pada saat bersamaan. Ia memastikan penumpang  yang keluar maupun masuk bus sudah aman, setelah itu ia berteriak, “Tutup pintu!”.

Saat bus sedang melaju, di kursi bagian belakang sempat terjadi keributan antara seorang Bapak yang duduk di bawah dengan seorang pemuda yang duduk di bagian atas. Pasalnya, si bapak merasa si pemuda itu menginjak celana si bapak. Namun, si pemuda membantah karena kakinya tidak bergerak sama sekali. Si pemuda pun menunjukkan posisi kakinya sedari tadi, apalagi ada seorang bapak yang menumpang duduk di tangga untuk mencapai deretan bangku belakang tersebut. Si bapak yang merasa tidak terima dengan jawaban si pemuda, bukan permintaan maaf yang ada malah sikap menantang. Si bapak itu terlihat cepat naik emosinya.

Adu mulut sempat terjadi antara mereka berdua. Si bapak yang awalnya sibuk dengan ponselnya, sempat menyimpan ponselnya dan mengatur gerakan seperti ingin mendatangi si pemuda. Sementara si pemuda dengan gaya menantang tetap duduk santai. Namun, beberapa penumpang mengingatkan untuk saling menahan diri sehingga tidak terjadi keributan yang lebih besar lagi. Sementara si pemuda yang berdiri di dekat pintu tidak terpengaruh dengan keributan tersebut. Ia hanya berdiri, merapatkan badannya di pintu.

Begitulah si pemuda selalu melakukan aktivitasnya seolah-olah menjadi seorang petugas bus Trans Jakarta. Halte Pancoran Tugu, Cawang Ciliwung, dan BNN pun dilewati dengan seperti itu. Ketika memasuki halte UKI Cawang, si pemuda ternyata ikut turun. Lalu keluar halte. Ia memberi salam kepada beberapa petugas di situ. Sepertinya ia cukup familiar dengan para petugas di situ.

Salah seorang petugas Trans Jakarta di halte itu pun bercerita bahwa si pemuda itu bernama Toni. Ia dulu petugas onboard Trans Jakarta. Saat ini ia sudah dikeluarkan karena menderita penyakit jiwa. Ia adalah petugas ketika terjadi kecelakaan penumpang di bus jurusan PGC-Grogol dua bulan lalu. Penumpang itu terjepit saat akan masuk karena pintu segera tertutup, terjatuh lalu kemudian sempat tertabrak bus yang di belakangnya. Itu sebabnya ia masih sering naik bus dan bersikap seperti petugas Trans Jakarta, namun sangat bersikap hati-hati dan mengutamakan keselamatan penumpang. Tapi sayang kondisi psikologisnya tidak memungkinkannya lagi untuk bekerja di Trans Jakarta.

Hidup masih harus terus berjalan.

 

Jakarta, 20 Desember 2015, 18.15

Niko Saripson P Simamora

Advertisements
Comments
  1. zahradiian95 says:

    Ini fiksi atau non fiksi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s