Archive for the ‘otak atik otak’ Category

Sore itu, langit cukup cerah dan cuaca pun bersahabat untuk keluar rumah (baca: kosan orang yang saya tumpangi 🙂 ). Setelah sepanjang hari mendekam di kosan untuk melawan rasa pusing di kepala dengan bantuan sebutir tablet mengandung paracetamol keluaran sebuah perusahaan farmasi yang berpusat di kota ini, Bandung. Udara di luar rumah terasa lebih segar, suasana terasa lebih hangat, pemandangan lebih menarik (tentu anda mengerti pemandangan seperti apa 🙂 ).

Perjalanan diawali dengan ketidakpastian arah tujuan. Tentu saja. Tidak ada perencanaan sebelumnya, namanya juga mau raun-raun alias seputaran alias jalan-jalan santai. Melewati Monumen Perjuangan, terasa ramai karena ada acara pameran bisnis. Sepintas timbul pemikiran untuk memulai bisnis, dimotivasi lagi dengan ada beberapa teman yang sudah merintis bisnis dan mulai berkembang. Pemikiran tersebut berlalu seiring langkah kaki beranjak menuju tempat lain.

Kali ini, kaki terhenti di kawasan hiburan pendidikan (terjemahan dari sebuah tempat di pagargunung). Buku. Ya, tempat itu dipenuhi buku, terutama buku-buku lama yang bila sepintas dilihat sangat menarik. Sangat menarik berarti setiap melihat satu buku timbul keinginan untuk membacanya, namun terpintas lagi buku lain, timbul lagi keinginan membaca, begitu seterusnya. Sangat menarik bukan?hehe. Tidak terasa sejam berlalu hanya berkutat di dinding buku(setiap dindingnya disandarkan lemari buku). Keinginan hati ingin meminjam banyak buku, namun setelah dipikir-pikir, belum tentu semua akan dibaca mengingat jadwal yang sudah tidak teratur alias serba dadakan.

Langkah kaki beranjak meninggalkan tempat itu berjalan menuju arah yang belum terpikirkan hingga tidak sengaja perhatianku tertuju kepada pedagang helm di tepi jalan yang sedang membenahi barang dagangannya untuk disimpan dalam sebuah mobil pengangkut barang berbak terbuka. Bukan orangnya yang menarik perhatianku, pun bukan mobil pengangkut barangnya, apalagi harga helmnya. Nah benar! Helmnya menarik perhatianku.

Ada berbagai macam jenis helm, dapat dibagi berdasarkan harganya, modelnya, kualitasnya, dan lain-lain (yang saya tidak tahu lagi). Saya memandang helm itu sebagai sebuah pola pikir. Ketika kita melihat-lihat helm mana yang menarik kita akan mencobanya sambil bercermin mungkin atau bertanya kepada penjualnya ataupun hanya merasa-rasakan kalau helm itu nyaman atau tidak. Terpikirkan olehku ketika kita juga mengadopsi pola pikir, kita akan memilah dan kemudian memilih mana yang cocok bagi diri kita. Yang menjadi perhatian adalah dari segi mana kita merasa nyaman dan cocok dengan “helm” (baca:pola pikir) tersebut.

Imajinasiku mengangkasa jauh menerawang ke area yang aku pun tidak mengerti kenapa bisa mengarah ke situ. Sambil menyentuh-nyentuh kepala, aku membayangkan sedang memakai “helm” siapa? “Helm” yang aku pakai sekarang masih standar kah atau sudah mulai tergerus pola-pola helm lain yang sejauh ini cukup mempengaruhiku. “Helm” dunia acapkali kugunakan ketika aku tahu bahwa ada “helm” ilahi yang standarnya paling tinggi melampaui semua standar “helm” yang ada di dunia. “Helm” ilahi itu memang kadang tidak menarik, tidak modis, warnanya norak, dsb. Tapi satu hal, “helm” itu paling kuat menjaga kepala agar tetap aman. Nah, sekarang helm siapa yang kau pakai? (sambil tunjuk hidung sendiri).

Bandung, 6 Mei 2013, 13.15

Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Mimpi Yang Kenyataan

Posted: March 22, 2013 in otak atik otak
Tags:

 

Bangun pagi hari ini terasa berbeda. Ada sebuah perasaan yang tak biasa. Dimulai dari bangun pagi yang lebih awal dari hari-hari sebelumnya, bahkan lebih awal dari alarm kawan-kawan sekamar yang biasanya akan terus sahut-menyahut dari jam lima pagi sampai jam setengah tujuh. Ya, ada empat orang sekamar, walau kapasitas kamar berenam dengan tiga buah tempat tidur bertingkat. Satu pasang tempat tidur sering ditinggal penghuninya karena tidak tahan dengan pengatur suhu ruangan yang selalu dipasang tidak lebih dari enam belas derajat. Dua orang itu akan mencari kamar dimana suhu ruangannya lebih dari atau sama dengan suhu kamar pada umumnya. Empat orang lainnya tetap bertahan dengan posisi dua di atas dua di bawah. Alarm dua orang di atas ini yang sering sahut-menyahut  di pagi hari. Namun pagi hari ini, mereka kalah denganku. Apa-apaan ini.

Selimut sempat kutarik dan kurapatkan lagi ke tubuhku, tapi mata tak mau menutup lagi. Perasaan yang tak biasa itu cukup menggangguku. Dengan perasaan seperti itu, aku mengambil keputusan untuk keluar kamar menuju toilet. Kubuka pintu kamar, di luar sudah mulai sibuk ternyata. Kamarku hanya berjarak dua kamar dengan toilet. Dengan langkah terbata-bata, aku menuju toilet. Ternyata sudah banyak yang antri. Lah, di pagi-pagi seperti ini, sepuluh toiletpun masih kurang, pikirku. Jelas saja. Ada kurang lebih seratus orang penghuni blok ini dengan jumlah kamar enam belas. Satu orang tiap kamar yang terbangun sepagi ini, masih akan membuat orang mengantri.

Kualihkan langkahku, tak kuambil waktu mengantri. Kudekati wastafel, kubuka kran sedikit, kubasuh mukaku seadanya. Yang penting cukup segar bagiku untuk melangkah ke arah aula makan. Perasaan aneh ini membawaku bergerak tanpa berpikir panjang. Setibanya di aula makan yang berjarak sekitar lima puluh meter dari blok kamarku. Sebelum masuk, terlebih dahulu menempelkan kartu makan yang sudah dibagikan oleh kontraktor penyedia layanan makanan dan hiburan sejak aku masuk ke kamp ini. Kunikmati sarapan pagi ini, menu sarapan yang sudah  enam kali persis kumakan selama di sini. Sambil terus menikmati makanan, aku coba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum-sebelumnya.

Tiba-tiba kutersenyum. Aku bermimpi sewaktu tidur. Sambil mengunyah makananku, aku teringat akan mimpiku. Mimpiku cukup aneh, namun menyenangkan. Harapanku, mimpiku jadi mimpi yang kenyataan. Amin.

 

Tanjung Ulie, 22 Maret 2013. 15.22 WIT

Niko Saripson P Simamora

Membongkar Pusara Korupsi

Posted: January 12, 2013 in otak atik otak
Tags:

Perilaku korupsi yang sudah mendarah daging di republik ini memang sudah menjadi agenda spesifik yang sedang diupayakan untuk diberantas dari segala aspek yang memungkinkan. Aktor utamanya memang diorganisasikan dalam sebuah badan yang dikenal sebagai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan sebuah harapan untuk menggiring semua aspek yang kena-mengena dengan korupsi memiliki semangat untuk tidak akan korupsi lagi sambil tetap bekerja untuk bersih-bersih dari noda besar hingga debu kecil yang masih hinggap. Semangat ini harus senantiasa dijadikan roh dalam pemberantasan korupsi sehingga darah maupun daging yang koruptif bisa dijernihkan kembali.

Tidak mudah memutar haluan untuk mengubah kebiasaan korupsi yang sudah mendarah daging tersebut, bahkan ditengarai sebagai sebuah perilaku yang sistemik, sehingga muncul gebrakan untuk mengubah sistem. Hal ini tentu menjadi sebuah tesis yang perlu dikaji lebih dalam lagi. Pernyataan ini berawal dari pengakuan seorang wakil rakyat, pesohor sekaligus terpidana korupsi yang divonis 4,5 tahun oleh majelis hakim. Kritikan terhadap sistem menjadi ‘kambing hitam’ yang cukup normatif untuk digembar-gemborkan alih-alih mengakui motif pribadi bahkan kelompok untuk mengambil keuntungan dan menyukseskan kepentingan sepihak. Entahlah! Kecenderungan manusia memang akan selalu mempertahankan diri, kata lain dari menyerang balik, untuk menghindarkan diri dari rasa bersalah yang seharusnya menjadi aib.

Di lain sisi, pendapat seorang ahli hukum tata negara menyebutkan bahwa sebaik apapun sistem yang dirancang tetap akan berhadapan dengan kenyataan bahwa korupsi akan selalu dilakukan dengan segala kreativitas yang muncul bersamanya. Hal ini harus kembali dipahami sebagai kecenderungan manusia yang sudah dipengaruhi oleh dosa kesayangan, sehingga akan terus berusaha melakukan dosa tersebut bagaimanapun kondisinya. Kita bisa berkaca pada pernyataan seorang pengacara asal Inggris, Francis Bacon (1561-1626), “Manusia berpikir sesuai kecenderungannya, berbicara sesuai dengan apa yang dia pelajari, tetapi bertindak sesuai kebiasaannya”.

Kecenderungan seperti di atas juga diutarakan oleh seorang anggota parlemen yang melakukan penelitian untuk memperoleh gelar doktornya. Dikatakan bahwa motif ekonomi dan kekuasaan menjadi faktor utama terjadinya perilaku korupsi yang hingga detik ini masih menggurita di kalangan wakil rakyat. Dengan sendirinya, tidaklah heran melihat segelintir anggota parlemen yang diproses hukum akibat masalah korupsi. Hal ini tidak terjadi hanya di pusat, juga menular hingga daerah dengan ‘kreativitas’ yang minim sehingga lebih terkesan lazim dan menjadikan masyarakat seolah-olah toleran. Solusi yang ditawarkan untuk mengantisipasi hal tersebut secara umum dapat dipahami sebagai sebuah perbaikan sistem dalam proses pengerahan/rekrutmen anggota legislatif dan juga untuk instansi/lembaga lain.

Merujuk kembali kepada pendapat ahli hukum tata negara tersebut, bahwa yang mendesak untuk dilakukan saat ini adalah menegakkan peraturan yang ada setegak-tegaknya sebelum dievaluasi kembali dalam rangka merancang sistem dan/atau peraturan untuk menajamkan taring pemberantasan korupsi. Inipun menjadi tugas segala lini dalam pengorganisasian negeri ini. Tantangan terbesar adalah menegakkan hukum yang setegas-tegasnya dan seadil-adilnya terhadap perbuatan korupsi yang bisa dijadikan preseden untuk memberikan efek jera dan takut untuk memulai korupsi. Dengan sendirinya, perilaku korupsi menjadi sesuatu yang diharamkan di negeri ini.

Oleh karena itu, semangat antikorupsi menjadi sesuatu yang harus progresif diperjuangkan secara terus menerus. Tidak ada kata lelah untuk berhenti bahkan jeda sesaat. Efek korupsi yang tidak kelihatan kasat mata secara tak sadar akan terus menggerus kesejahteraan umum bahkan lebih dari itu akan merusak kehormatan bangsa sendiri. Pusara-pusara korupsi yang selama ini dibangun di banyak lembaga yang seharusnya menjadi pelayan masyarakat di negeri ini harus segera dibongkar paksa secara sadis melebihi usaha-usaha penggusuran rakyat kecil. Atas nama kesejahteraan rakyat, tidak ada tempat bagi pusara-pusara yang dibangun secara koruptif di negeri ini.

 

Bandung, 12 Januari 2012, 17.00

Niko Saripson P Simamora

 

Cuaca hari ini tampak cerah melingkupi Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi, berjarak sekitar 152 km ke arah barat daya dari ibukota provinsi, Medan. Waktu tempuh bisa mencapai 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan umum maupun pribadi dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam. Bila menuju ke sana, jangan lupa membawa bekal jaket, syal, maupun pakaian hangat karena akan disambut dengan udara segar yang dingin khas pegunungan. Pun hari ini, cuaca cerah tak pernah sepi ditemani udara segar nan dingin tersebut. Kaki umumnya takkan sanggup menapak di lantai keramik karena begitu dinginnya, kecuali telah terbiasa.

Pak Arko, seorang pegawai negeri sipil di daerah tersebut, masuk kantor dan mengerjakan tugas-tugas kantor dengan baik. Ia adalah salah satu abdi negara yang patut ditiru di kantor karena integritas dan dedikasinya yang tinggi, bukan hanya di kantor juga di lingkungan sekitar rumahnya, di gereja dan terutama di keluarganya. Hidupnya sederhana dan bersahaja. Bila dibandingkan dengan rekan-rekan di kantor, tak banyak yang menyangka bahwa Pak Arko adalah pejabat tinggi di daerah itu. Namun, Pak Arko tetap harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, khususnya untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga tingkat pendidikan yang paling tinggi.

Pesan singkat masuk ke telepon Pak Arko, dengan serta merta Pak Arko membuka dan membacanya.

Puhun (paman), jadi kita hari ini kan? Kami tunggu di kosan kami ya, Puhun. Terima kasih”

Pak Arko pun membaca sambil tersenyum dan kemudian membalas dengan singkat.

“Oke”

Suasana hati Pak Arko seketika menjadi cerah, senyumnya mengisyaratkan semangat ketika menerima pesan singkat tersebut apalagi waktu kala itu sudah mendekati jam istirahat kantor.

Ketika jam istirahat, Pak Arko langsung bergegas menuju rumah untuk terlebih dahulu makan masakan istrinya. Setelah itu, Pak Arko langsung bergegas menuju rumah kos untuk menjemput tiga orang anak muda yang masih sekolah di sekolah kejuruan teknik yang tidak jauh dari rumahnya. Ketiga anak muda tersebut sudah siap siaga menanti sejak tadi dan mereka langsung tersenyum ketika melihat mobil Pak Arko sudah mendekati mereka. Dengan bergegas, mereka pun langsung masuk ke mobil. Satu orang duduk di samping Pak Arko yang mengemudi dan dua orang lainnya duduk di belakang mereka.

Nggo mangan ke? (sudah makan kalian?)” tanya Pak Arko.

Nggo, Puhun! (sudah Paman)” jawab Kelleng yang berada di samping Pak Arko.

Situhu ngo? (beneran kan?)” tanya Pak Arko memastikan.

Ue Puhun! (Iya Paman)” seru ketiga pemuda secara spontan.

Oh, ingo. Berangkat mo kita ti! (Oh, begitu. Berangkatlah kita ya!)” ucap Pak Arko sambil mengemudikan mobilnya menuju ladang.

Pak Arko memang orang yang supel dan mudah bergaul. Ia bisa berkomunikasi dalam bahasa Batak Pakpak sementara Pak Arko sendiri berasal dari Batak Toba. Meskipun sama-sama etnis Batak, tetapi sub-etnis tersebut memiliki bahasa masing-masing yang sangat berbeda satu sama lain. Dengan memiliki kemampuan bahasa daerah tersebut, Pak Arko sangat mudah bergaul dengan penduduk daerah tersebut, khususnya anak-anak muda yang merantau dari desa ke Sidikalang untuk bersekolah. Anak-anak muda tersebut banyak yang bekerja sampingan setelah pulang sekolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya dengan menjadi pemetik kopi di ladang Pak Arko.

Kopi adalah komoditas utama dari Sidikalang, bahkan Sidikalang dijuluki Kota Kopi. Daerah-daerah sekitar bahkan sangat mengenal Kopi Sidikalang yang dianggap memiliki kualitas kopi yang bagus dengan aroma yang menggoda bagi setiap pecinta kopi. Kebanyakan lahan di daerah ini ditanami kopi, khususnya kopi arabika dan sebagian kopi robusta. Salah satunya di ladang Pak Arko yang merupakan warisan dari orangtuanya. Ladang seluas kurang lebih dua hektar tersebut ditanami kopi sejak dua tahun yang lalu. Sebelumnya, ladang tersebut adalah sawah yang kemudian dikeringkan oleh Pak Arko karena produksi yang semakin menurun dan jaringan air yang mengering.

Letak ladang Pak Arko semakin strategis karena berada tepat di samping lokasi Taman Wisata Iman Dairi. Taman wisata iman itu merupakan sebuah taman wisata yang didirikan untuk mendukung dan mewujudkan kerukunan hidup antarumat beragama. Pada awal didirikan, taman wisata iman tersebut ditujukan untuk lima agama yang diakui di Indonesia yang dibagi dalam 4 (empat kawasan), yaitu Kawasan Budha, Kawasan Nasrani (Protestan dan Katolik), Kawasan Hindu, dan Kawasan Islam. Setiap kawasan dikembangkan menurut kebutuhan dan perkembangan agama masing-masing disertai fasilitas-fasilitas yang memungkinkan setiap pengunjung dapat melakukan ibadah menurut agama masing-masing, baik secara pribadi maupun secara komunal. Setiap kawasan pun terbuka untuk semua pengunjung dan dihubungkan satu sama lain sehingga pengunjung dapat mengunjungi semua kawasan di taman wisata tersebut.

Pak Arko sangat bersemangat bila mengunjungi ladang tersebut. Ia merasa seperti bangun pagi yang memberi semangat ketika menghirup udara segar di situ dan memandangi hijaunya tanam-tanaman yang diharapkan tumbuh subur dan memberikan hasil yang maksimal.

Dengan lama perjalanan sekitar lima belas menit, mereka pun tiba di ladang dan bergegas menuju pondok yang ada di ladang tersebut. Ketiga pemuda tersebut dengan sangat bersemangat lalu mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang sudah sering mereka pakai untuk bekerja. Masing-masing mereka akan menggunakan caping, membawa satu ember dan karung goni.

Eta, eta krejo! (Ayo, ayo kerja!)” seru Pak Arko menyemangati.

Etaaa! (Ayooo!)” jawab ketiga pemuda dengan bersemangat.

Ketiganya dengan segera berpencar mencari tempat masing-masing untuk memetik kopi yang sudah memerah biji-bijinya. Sementara Pak Arko hanya tersenyum melihat mereka yang berlalu dari pandangannya. Pak Arko pun lalu bergegas kembali ke kantor karena waktu istirahatnya sudah hampir habis.

Pak Arko adalah salah satu dari banyak pegawai di kantornya yang juga turut menanam kopi untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup terutama pendidikan anak-anak dalam keluarga masing-masing. Hasil kopi tersebut memang memberikan keuntungan yang cukup besar kala panen. Tak salah, orang-orang di daerah tersebut menyebut kopi tersebut sebagai kopi sigarar utang (pembayar utang). Dan seringkali, obrolan-obrolan di kantin kantor dihiasi dengan saling berbagi tentang keadaan tanaman kopi di ladang masing-masing. Pak Arko pun terkadang turut serta untuk menjaga pertumbuhan kopi di ladangnya tetap bagus.

Sore hari tiba, Pak Arko pun bergegas meninggalkan kantor dan terlebih dahulu menuju rumah untuk berganti pakaian. Ia juga kerapkali mengajak istri dan anak-anaknya untuk turut serta apabila tidak memiliki kesibukan. Untuk hari itu, istrinya tidak bisa karena mengikuti latihan koor ibu-ibu di gereja, sementara kedua putranya sibuk dengan kursus masing-masing. Kedua puterinya saat ini sedang menuntut ilmu di Bandung. Pak Arko pun berangkat seorang diri.

Waktu pada saat itu sekitar dua puluh menit lewat dari pukul lima sore. Pak Arko tiba di ladangnya dan juga melakukan hal yang dilakukan ketiga pemuda tadi, berganti pakaian kerja, memakai caping dan membawa ember beserta karung goni. Ia terlebih dahulu memastikan apakah ketiga pemuda masih ada di ladang tersebut.

“Hoi…!” teriak Pak Arko.

“Hoooiiii…!” sahut ketiga pemuda tersebut hampir serentak.

Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing diikuti Pak Arko yang dalam sekejap langsung hanyut dalam kegiatan memetik biji-biji kopi merah dari pokoknya. Mereka terlihat begitu sibuk sehingga jarang sekali terjadi percakapan selama mereka memetik biji-biji kopi tersebut. Tak terasa, gelap mulai datang, ketika itu pukul enam sore, Pak Arko pun langsung mengajak untuk menghentikan aktivitasnya dan beranjak ke pondok.

Setelah bekerja, biasanya salah seorang dari pemuda akan memanaskan air dengan cerek kaleng di atas tungku yang disusun dari tiga buah batu dengan kayu bakar. Sejenak mereka akan berbincang-bincang terlebih dahulu sambil ada juga dari pemuda tersebut menyalakan rokok, sementara Pak Arko sendiri tidak merokok. Pak Arko akan terlebih dahulu menanyakan banyaknya biji kopi yang mereka kumpulkan. Biasanya mereka bisa mengumpulkan biji kopi masing-masing satu karung penuh dan hari itu pun mereka mengumpulkan seperti biasa. Pak Arko terkadang mengiming-imingi bayaran lebih bila mereka mampu mengumpulkan lebih, tetapi jarang sekali mereka memperolehnya. Ketiga pemuda itu tidak terlalu peduli dengan hal itu, yang penting bagi mereka bisa mendapat tambahan uang disertai rokok dan kopi gratis.

Pak Arko pun mengajak mereka untuk membereskan semua peralatan,  menggabungkan semua biji kopi yang di petik ke dalam sebuah karung yang lebih besar di dalam pondok. Setelah itu, mereka pun berganti pakaian dan bergegas untuk pulang. Pak Arko akan mengantarkan mereka terlebih dahulu ke tempat kos mereka, baru kemudian kembali ke rumahnya.

Di rumahnya, Pak Arko sudah ditunggu untuk makan malam bersama. Ibu Arko sudah mempersiapkan makanan untuk makan malam mereka. Pak Arko terkadang membawa buah tangan dari ladang berupa sayur-sayuran yang juga ditanam di sekitar pondok. Ada tomat-tomat kecil, cabe rawit, labu siam dan daun singkong. Setelah makan malam, Pak Arko akan menanyakan aktivitas kedua putranya, Arif dan Iman, kemudian mereka akan diperbolehkan belajar. Pak Arko sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya sehingga ia akan terus berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya, terutama untuk masalah pendidikan.

***

Keesokan harinya, seperti biasa, Pak Arko akan mengantarkan kedua puteranya ke sekolah terlebih dahulu sebelum mengikuti apel pagi di kantor. Pekerjaan di kantor dilakukan seperti biasa oleh Pak Arko, banyak dokumen-dokumen yang diletakkan di atas mejanya. Pak Arko selalu dengan teliti memeriksanya sebelum membubuhkan tanda tangan maupun sekedar paraf untuk didisposisikan lagi. Begitulah kesibukan Pak Arko di kantor sebelum waktu istirahat tiba.

Waktu istirahat sudah semakin dekat, Pak Arko sesekali memandang telepon selulernya, menanti datangnya pesan singkat dari pemuda pemetik kopi. Namun, tiba-tiba telepon di meja Pak Arko berdering. Pak Arko pun mengangkat.

“Halo, selamat siang, Pak Arko! Belum istirahat kan?” terdengar suara dari telepon tersebut.

Dengan sedikit mengernyitkan dahi, Pak Arko sepertinya sedang berpikir tentang suara dari telepon yang terdengar familiar.

“Selamat siang, Pak! Oh, belum Pak!” jawab Pak Arko setelah mengetahui bahwa suara dari telepon tersebut adalah Pak Heri, Sekretaris Daerah, pimpinan dari Pak Arko sendiri.

“Bisa datang ke ruangan saya, Pak! Ada hal yang ingin saya bicarakan!” ujar Pak Heri.

“Bi-bisa, Pak!” jawab Pak Arko sedikit terbata-bata dan ragu-ragu karena saat itu juga telepon selulernya berbunyi menandakan adanya pesan singkat yang masuk.

Dengan bergegas, Pak Arko menuju ruangan pimpinan tanpa sempat membalas pesan singkat yang masuk ke telepon selulernya. Ia pun menemui Pak Heri yang ditemani tiga orang bapak-bapak dan seorang ibu. Dua orang dari bapak-bapak tersebut terlihat berasal dari luar negeri bila diperhatikan perawakannya, sementara yang lain adalah warga pribumi.

“Pak Arko, perkenalkan Bapak-Bapak dan Ibu ini!” ucap Pak Heri ketika melihat Pak Arko datang seraya berdiri mengajak bersalaman dengan tamu-tamunya, ”Bapak/Ibu datang dari Medan untuk melakukan penelitian tentang kopi”, lanjut Pak Heri, “Pak Arko ini salah satu orang yang cukup menekuni tentang kopi,” tambah Pak Heri lagi.

Pak Arko pun menyalami mereka satu per satu sambil memperkenalkan nama masing-masing. Kedua bule itu berasal dari Jerman ditemani oleh dua orang dosen pertanian Universitas Sumatera Utara. Setelah itu mereka duduk bersama-sama dan melakukan perbincangan. Pak Arko sesekali memandangi telepon selulernya, tetapi belum sempat membalas pesan singkat tersebut karena menghormati suasana perbincangan di ruangan tersebut. Perbincangan mereka cukup panjang bahkan melewati waktu istirahat.

Awalnya Pak Arko tidak begitu tertarik dengan perbincangan tersebut hingga pada akhirnya Pak Heri memberikan perintah agar Pak Arko menjadi pemandu bagi tamu-tamu tersebut selama mereka melakukan kunjungan di Sidikalang. Pak Arko pun menjadi lebih fokus dan semakin memperhatikan arah pembicaraan tersebut. Para tamu pun memohon kesediaan untuk bisa diantarkan ke lokasi yang ditanami kopi. Tanpa berpikir panjang, Pak Arko berinisiatif untuk mengajak mereka ke ladangnya. Pak Arko pun terlebih dahulu memohon izin dari Pak Heri. Pak Heri pun terlihat menyetujui. Pak Arko dan para tamu tersebut pun meninggalkan ruangan Pak Heri.

“Mari Bapak-Bapak dan Ibu! Ikut saya saja, saya bisa antarkan ke ladang kopi yang tidak jauh dari sini,” ujar Pak Arko mengajak tamu-tamu tersebut.

Sebelum bergegas ke ladang, Pak Arko telebih dahulu membalas pesan singkat dari telepon selulernya untuk mengajak ketiga pemuda yang biasa bekerja memetik kopi di ladangnya. Ia pun menjemput ketiga pemuda tersebut yang sempat kelihatan cemas karena menunggu cukup lama. Tamu-tamu tersebut pun mengikuti Pak Arko dengan mobil mereka sendiri. Mereka pun menuju ladang Pak Arko.

Sesampainya di sana, Pak Arko mengajak para tamu-tamu tersebut untuk melihat-lihat tanaman kopi yang ada di ladang tersebut. Ketiga pemuda melakukan aktivitas mereka seperti biasa, sementara kedua orang bule tersebut dengan antusias langsung menuju ke tanaman-tanaman kopi tersebut, memandang-mandang, sambil sesekali memetik biji dan daunnya. Mereka terlihat begitu tertarik dan langsung memanggil temannya orang pribumi tersebut. Mereka pun berbincang-bincang sejenak. Setelah itu, salah seorang Bapak tersebut mendatangi Pak Arko.

“Pak Arko, berapa luas ladang ini?” tanya Pak Budi.

“Oh, sekitar dua hektar, Pak.” Jawab Pak Arko.

“Apa bisa kami jadikan tempat penelitian kami?” tanya Pak Budi, “Kedua Bapak tersebut sangat tertarik dengan tanaman kopi di sini”, ucap Pak Budi sambil menunjuk ke arah bule tersebut.

“Mmmhhh..” Pak Arko bergumam sambil berpikir.

“Tenang saja, Pak! Bapak tetap bisa melakukan aktivitas  seperti biasa, kami akan memantau beberapa batang pohon kopi di sini, sambil kami juga akan menanam yang baru,” tukas Pak Budi, “Kami pun akan membayar sewa selama kami di sini,” lanjut Pak Budi lagi.

“Oh, oke!” Pak Arko mengangguk tanda sepakat.

Pak Budi pun langsung menuju kedua bule tersebut dan berbincang-bincang dalam bahasa Inggris. Kedua bule tersebut tampak sangat senang mendengar penjelasan Pak Budi tersebut. Mereka pun melanjutkan dengan berkeliling sekitar ladang tersebut. Pak Arko sesekali diajak berbicara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kedua bule tersebut melalui Pak Budi. Waktu pun berlalu begitu cepat ketika sore sudah tiba. Mereka pun segera bergegas meninggalkan ladang tersebut.

***

Setelah enam bulan, produksi kopi dari ladang Pak Arko semakin meningkat. Hal ini berkat bantuan dari tenaga ahli yang masih terus meneliti di ladang Pak Arko. Pak Arko pun mulai menambah pekerja baru untuk memetik kopi di ladangnya. Bahkan seterusnya, tidak hanya hasil kopi saja yang bertambah, bule-bule tersebut juga kerap kali mengundang banyak orang dari luar daerah untuk studi banding di kebun tersebut sambil mengajak mereka berwisata di Taman Wisata Iman Dairi. Hal itu pun turut meningkatkan kunjungan wisata dan ketertarikan untuk mengembangkan produksi kopi di Dairi.

 

Bandung, 15 Desember 2012, 15.00

Niko Saripson P Simamora

 

Education is the magic of life. Apart from the formal and informal, education process is part of life that can be understood as a process of absorption of the values ​​of life and live it to survive. Therefore, education should be the basis for life development. And education should be introduced early on in nature in a true corridor. It does not give the direct results that are invisible, but rather leads to the processing of the values ​​into the subconscious that when growing up recycled into a valuable memories that bring awareness effect.

Currently, education is limited as a process of face to face in the classroom between teachers and students. Education is limited as a process that time bordered for a subject and burdened with the tasks. Education designed to obtain a degree and a certain predicate which then becomes something that “wow” in the public eye. Educational institutions owned only given permission to minister. In fact, education is currently a site prospective business because the greater the chances are judged by the level of financial gain.

What are the effects of the limited understanding of education? All the people vying for educational institutions that offer luxury facilities, teaching staff who “educated”, title promises, programs are “minimized” to a reach “maximized” competency. In fact, everything will be developing educational field instantaneous. Made an instant political education, education is made for leadership, management education is made, and many other things that match. No one does wrong, but does with it, all the respect for education? No. Even with things like that, education becomes an easy thing and all things can be achieved by selecting a specific education to specific interests.

So, what to do? l’histoiredoit être répété. History should be repeated! We return to the day in which researchers and inventors of the concept of science that is still used now. How did they leave school and learn from nature and natural phenomenon. How did they find the concept is not taught in school and even considered crazy because it is different from what the teacher been gave. Education is free to produce something extraordinary. They have been educating the future through their concepts.

How does this apply today? It is not easy, but not impossible. Education must be returned to its spirit, how to humanize humans. Education is the cultural life of an independent and responsible. Let your children learn freely, in accordance with the interests and talents, their nature will be formed. Let the teachers teach freely without the rigid burden, nature will tell them what is most important is taught. Let the institutions still exist, but only as a rest house for discussion and exchange ideas, in the end nature will be a place to practice each of the study.

Finally, the whole education has been a magical life. Human existence becomes something that is prioritized and each human is responsible for a better civilization. Thus, the general welfare and peace is the result of absorption of these life values ​​that shape the culture of life, regardless of the boundaries of existing ones. Social awareness will be higher so that result harmony in building a social progress for each individual. Educating the future, not just an empty dream, but a hope that can be achieved even starting from today. We can!

 

Niko Saripson P Simamora

Sebelum membahas lebih dalam tentang pemimpin muda, perlu disepakati terlebih dahulu bahwa yang dimaksud pemimpin muda di sini adalah pemimpin maupun tokoh-tokoh yang sudah cukup dikenal secara nasional dengan rentang usia di bawah lima puluh tahun. Klasifikasi ini hanya didasarkan bahwa rentang usia tersebut secara umum menjadi puncak karier seseorang untuk berkarya dan masih jauh dari umur pensiun.

Jumlah pemimpin muda kini semakin meningkat, dari kalangan pejabat daerah hingga pentas politik nasional kini sudah mulai memunculkan wajah-wajah muda. Kemunculannya pun sangat menarik, karena berasal dari beragam latar belakang yang menunjukkan bahwa semua bidang saat ini sedang diwabahi sindrom pemimpin muda. Pemimpin muda sejauh ini dianggap bersih, enerjik, dan membawa perubahan. Golongan muda semakin tumbuh mekar, golongan tua mulai ditinggalkan.

Bila dirinci sedikit, mekarnya pemimpin muda dapat kita lihat mulai dari munculnya pucuk pimpinan partai secara nasional, diikuti dengan sesama pemimpin muda yang mengisi pos legislatif, lalu merambah ke dunia eksekutif di daerah yang diisi wajah-wajah muda juga memunculkan menteri-menteri muda di pusat bahkan ada yang belum menginjak usia empat puluh tahun ketika diangkat menjadi menteri, dunia kampus pun turut terstimulasi dengan munculnya dekan dan rektor muda, dunia bisnis pun tak mau ketinggalan. Kalangan muda saat ini tidak sebatas pada low management atau mentok di middle management, tetapi sudah merambah top management.

Kepemimpinan muda bukan produk baru yang dihembuskan akhir-akhir ini. Bahkan bila dirunut ke belakang, sejarah bangsa ini sendiri pun pernah menuliskannya. Bung Karno menjadi Presiden pertama negeri ini pada usia 44 tahun dengan wakilnya, Bung Hatta berusia 43 tahun menjadikan mereka masuk sebagai bagian dari presiden dan wakil presiden termuda di dunia. Begitupun Adam Malik, menjadi salah satu perdana menteri termuda di dunia ketika diangkat pada usia 44 tahun. Panglima Perang Indonesia pernah dijabat oleh Jenderal Besar Soedirman ketika masih berusia 23 tahun. Jelaslah bahwa kebutuhan pemimpin muda sejak dulu hingga sekarang bahkan untuk masa depan akan terus didambakan kehadirannya.

Kenyataan di atas seharusnya dapat dijadikan perbandingan dengan keadaan saat ini. Kepemimpinan muda saat ini masih menyisakan tanda tanya besar akan kualitas dan keandalannya. Bila masa lampau, tokoh-tokoh tersebut telah membuktikan kualitas dan keandalannya, bahkan cita rasanya masih dibawa-bawa hingga sekarang sebagai bumbu utama oleh beberapa kalangan untuk menarik simpati publik. Sementara cita rasa kepemimpinan sekarang belum terasa sedapnya, bahkan sudah mulai dimuntahkan ketika baru beberapa saat saja mencicipinya.

Keberadaan wajah-wajah muda yang muncul kini sudah ramai berurusan dengan penegak hukum. Hal ini menjadikan prestasi-prestasi yang sebelumnya diraih seolah menjadi garam tawar yang kehilangan rasa. Hambar. Maraknya kasus yang menyertakan pemimpin-pemimpin muda, dari kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelecehan terhadap kaum lemah dan masih banyak kasus lain yang belum terekspos dan ditutup-tutupi bisa memunculkan pesimisme baru bahwa kaderisasi kepemimpinan belum menunjukkan hasil yang baik.

Kualitas kepemimpinan muda saat ini akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuknya. Keberadaan golongan-golongan tua pun tidak bisa diabaikan bahkan perlu disoroti ketika melakukan kaderisasi kepemimpinan. Nilai kepemimpinan apa yang diturunkan oleh para pemimpin pendahulu dan keteladanan apa yang bisa diambil dari mereka merupakan faktor yang mempengaruhi kepemimpinan saat ini. Bila masalah-masalah klasik seperti yang  telah disebutkan di atas yang justru subur dibandingkan gebrakan-gebrakan perubahan, maka golongan tua harus terbuka dan mau bertanggung jawab akan hal tersebut sambil berusaha untuk tetap memberikan teladan-teladan yang positif.

Cermin kepemimpinan masa lalu yang buruk harus menjadi bahan pelajaran seluruh elemen masyarakat. Bila selama ini, kepemimpinan buruk dianggap bersumber dari sistem yang buruk, sudah saatnya bahwa kepemimpinan harus dikembalikan ke rel sesungguhnya yaitu untuk menjadi pelayan dan memunculkan pemimpin-pemimpin baru yang progresif. Lagu lama mengatakan bahwa ‘guru harus lebih pintar dari murid’ harus diubah menjadi ‘guru harus menjadikan murid lebih pintar dari dirinya’ yang dalam hal ini bahwa kepemimpinan harus menghasilkan bibit-bibit yang berbuah lebih banyak dan lebih manis.

Muncullah kiranya Pemimpin Muda yang bernasib baik.

 

Bandung, 9 Desember 2012, 15.34

Niko Saripson P Simamora

Integritas

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “integritas” berarti mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Di dalam pengertian tersebut, harus digarisbawahi adanya pernyataan “kesatuan yang utuh”. Hal ini bisa dikaitkan dengan ilmu matematika yang dikenal dengan integral. Hitung integral mensyaratkan suatu perhitungan matematika yang memuat seluruh nilai yang terdapat dalam suatu batas interval penghitungan yang ditetapkan dan umumnya digambarkan dalam sebuah grafik. Bila hitung integral dilakukan dengan benar maka hasil yang ditunjukkan pasti benar dan dapat digunakan untuk melakukan perhitungan matematika selanjutnya.

Kesatuan yang utuh menjadi kunci penting dalam memahami makna integritas. Hal yang kecil akan sangat mempengaruhi kesatuan yang utuh tersebut. Oleh karena itu, pendidikan dan pemahaman integritas harus menjadi agenda besar banyak pihak dalam melakukan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Integritas merupakan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Integritas harus menjadi faktor pengali bernilai nol dan satu dalam melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai umat manusia. Nol berarti kurang atau bahkan tidak memiliki integritas, sementara satu berarti memiliki integritas.

Karena begitu luasnya makna integritas ini, tentu tidak gampang menilai seseorang apakah berintegritas, kurang berintegritas atau tidak berintegritas. Untuk dapat melakukan penilaian tersebut, Andrian Gostik & Dana Telford merumuskan 10 (sepuluh) karakteristik yang mencirikan integritas tersebut, yaitu :

  1. Menyadari bahwa hal-hal kecil itu penting.
  2. Menemukan yang benar (saat orang lain hanya melihat hal yang abu-abu).
  3. Bertanggung jawab.
  4. Menciptakan budaya kepercayaan.
  5. Menepati janji.
  6. Peduli melakukan kebaikan yang lebih besar.
  7. Jujur dan rendah hati.
  8. Bertindak bagaikan tengah diawasi.
  9. Berada di antara orang-orang yang berintegritas.
  10. Konsisten.

Kebijakan Publik

Kebijakan secara umum menurut Said Zainal Abidin (Said Zainal Abidin, 2004:31-33) dapat dibedakan dalam tiga tingkatan:

  1. Kebijakan umum, yaitu kebijakan yang menjadi pedoman atau petunjuk pelaksanaan baik yang bersifat positif ataupun yang bersifat negatif yang meliputi keseluruhan wilayah atau instansi yang bersangkutan. Dalam kebijakan publik, hal ini dapat dilihat sebagai sebuah undang-undang.
  2. Kebijakan pelaksanaan, yaitu kebijakan yang menjabarkan kebijakan umum. Untuk tingkat pusat, dilihat sebagai peraturan pemerintah tentang pelaksanaan suatu undang-undang.
  3. Kebijakan teknis, yaitu kebijakan operasional yang berada di bawah kebijakan pelaksanaan.

Kebijakan Publik adalah suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama yang harus ditaati dan berlaku mengikat seluruh warganya. Setiap pelanggaran akan diberi sanksi sesuai dengan bobot pelanggarannya yang dilakukan dan sanksi dijatuhkan didepan masyarakat oleh lembaga yang mempunyai tugas menjatuhkan sanksi (Nugroho R., 2004; 1-7). Secara umum, kebijakan publik dapat dipahami sebagai hukum dan peraturan yang bila tidak ditaati akan memiliki konsekuensi bagi diri sendiri maupun orang lain dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan publik. Di samping itu, kebijakan publik juga mencakup kepentingan yang luas sehingga memiliki fungsi yang strategis.

Sementara, kebijakan publik dapat dibedakan menjadi 3 bentuk : tertulis (undang-undang, perda, dsb.), ucapan pejabat publik (pidato, pengarahan, wawancara),dan perilaku pejabat publik.

Dalam sebuah kebijakan publik, yang menjadi perhatian utama adalah kepentingan publik dibandingkan kepentingan pribadi maupun kelompok. Namun, dalam perumusan dan penyusunannya dilakukan oleh beberapa orang atau kelompok yang diberi tanggung jawab melaksanakannya. Dengan kata lain, publik jarang sekali atau bahkan tidak ikut dalam melakukan perumusan dan penyusunan kebijakan publik. Kenyataan ini menyisakan ruang pertanyaan yang besar untuk menguji akuntabilitas dari produk kebijakan publik tersebut, apakah memihak kepentingan publik atau hanya mengakomodasi kepentingan pribadi maupun kelompok.

Pembuatan maupun penyusunan kebijakan publik harus didasarkan pada perilaku publik. Perilaku yang dimaksud adalah fenomena maupun kecenderungan yang terjadi pada masyarakat dimana belum diatur dalam suatu peraturan yang tertulis. Sebagai contoh, disahkannya Undang-Undang 15 Tahun 2003 Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang menggantikan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002. Kebijakan itu diambil berdasarkan fenomena terorisme yang terjadi dan sangat meresahkan masyarakat khususnya saat peledakan bom di Bali akhir 2002 yang menewaskan ratusan orang termasuk wisatawan asing. Dengan adanya kebijakan ini, negara menyatakan perang terhadap tindakan terorisme sekaligus melindungi warganya.

Kebijakan yang diambil pada contoh di atas dinilai sebagai kebijakan yang cepat dan tanggap terhadap kepentingan publik. Di lain pihak, tidak semua kebijakan publik bisa dibuat secara cepat dan tepat. Fenomena ini menjadikan pembuatan kebijakan publik merupakan sebuah proses yang kompleks. Oleh karena itu, banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Untuk mempermudah hal tersebut dilakukan pemodelan dalam kebijakan publik. Pemodelan dalam kebijakan publik didefinisikan sebagai simplifikasi permasalahan melalui parameter maupun aspek-aspek yang dipilih untuk sebuah tujuan tertentu. Karakteristik dari model yang dihasilkan harus :

–          Sederhana dan jelas (clear)

–          Tepat (precise)

–          Dapat dikomunikasikan (communicable)

–          Dapat diatur agar lebih baik (manageable)

–          Menjelaskan konsekuensi (consequences)

Ada berbagai macam model dalam kebijakan publik, yaitu :

1. Model Institusional

Model ini umumnya dilakukan oleh instansi maupun perangkat negara seperti legislatif, eksekutif dan yudikatif.

2. Model Elit-Massa

Model kebijakan ini didominasi oleh elit pada tingkatan atas yang membawahi lebih banyak massa di bagian bawahnya.

3. Model Inkremental

Model kebijakan yang melanjutkan kebijakan-kebijakan yang telah ada dengan melakukan sedikit modifikasi akibat adanya keterbatasan.

4. Model Kelompok

Model kebijakan yang dipengaruhi oleh beberapa orang yang tergabung dalam sebuah kelompok tertentu.

5. Model Sistem

Model kebijakan yang melakukan pendekatan melalui tiga pendekatan utama, yaitu masukan (input), proses, dan keluaran (output).

6. Model Rasional

Model kebijakan yang menggunakan asas rasionalitas dalam mengakomodasi kepentingan publik.

7. Model Proses

Model kebijakan yang mengidentifikasi hal-hal yang dekat dengan sebuah proses perumusan kebijakan.

8.  Model Pilihan Publik

Model kebijakan yang didasarkan pada opini yang berkembang di publik.

Setiap model memiliki perbedaan fokus dan aspek yang berperan dalam menentukan kebijakan publik. Oleh sebab itu, kajian yang mendalam dan mimbar-mimbar diskusi harus menjadi faktor pendukung dalam pemilihan model kebijakan.

Aspek Integritas Dalam Kebijakan Publik

Integritas sebagai kesatuan yang utuh harus menjadi prasyarat dalam perumusan, pembuatan dan bahkan pelaksanaan kebijakan publik. Keberadaan orang-orang tertentu sebagai pemegang andil dalam perumusan, pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus memperhatikan hal ini. Ibarat masakan sayur, integritas adalah garam yang menjadi rasa sehingga membuat sayur tersebut dapat dinikmati. Ketiadaan garam menyebabkan kehambaran.

Namun, dalam kenyataannya tidak semua pihak dapat memahami pentingnya integritas dalam kebijakan publik. Faktor yang mempengaruhi dalam kebijakan publik saat ini masih didominasi oleh kepentingan. Kepentingan yang sama mempengaruhi produk kebijakan yang dihasilkan, sehingga hanya mengakomodasi kesejahteraan bagi segelintir orang. Hal ini menambah tugas dalam melakukan pengawasan terhadap pengelolaan kebijakan tersebut.

Akan sangat berbeda bila integritas menjadi dasar utama dalam kebijakan publik. Keberadaan integritas harus hadir dalam setiap tingkatan kebijakan, pemilihan model pembuatan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan tersebut. Dengan adanya aspek integritas, dapat memperingan tugas pengawasan dalam perumusan, pembuatan, dan pelaksanaan kebijakan publik.

Akhirnya, penjelasan di atas harus kita sinergikan dengan cita-cita pendiri bangsa Indonesia yang telah memikirkannya dulu.

“Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” (kutipan alinea IV Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945).

Ide luhur yang tercantum di atas telah menjadi sebuah rumusan akan pentingnya integritas dalam kebijakan publik. Rumusan Pancasila sangat superior sebagai dasar pengelolaan kebijakan publik (…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…). Sudah saatnya bangsa ini bangkit dan kembali menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara ini.

Hiduplah Indonesia Raya!!!

 

Oleh : Niko Saripson P Simamora