Mengecap Penghubung Rasa

Posted: May 18, 2017 in puisi, Uncategorized

Panas

Rasa yang akan banyak dihindari

Tapi tanpa dia, enggan menembus embun
Memancar hangat untuk sanubari
Memberi jawaban atas dahaga batin
Alami saja, nikmati!

Keras
Hentakan kata dihujam, tak sedap nian
Tekanan darah bisa mendidih naik
Kuatkah kakimu menginjak tanpanya?
Tegaknya gambaran akan simbol perjuangan
Lalukan saja, langkahkan!

Tegas
Ya katakan ya, tidak katakan tidak
Apa yang di luar itu pengaruh si mamon
Memang akan sangat mengusik kenyamanan
Tetapkan, mau memberi perubahan atau hangat saja
Ikrarkan saja, sorak sorai!

Apa itu dikotomi pun trikotomi?
Ada penghubung, arungi saja!

Palembang, 18 Mei 2017, 11.40
Niko Saripson P Simamora

Awan lembut biasanya engkau teduh

Sejuk kesanmu ketika bersanding cakrawala

Semua harapan membubung ke arahmu

Tak ada kesan keraguan, sekali lagi, teduh

 

Langkah kaki menapak dengan riang

Bahagia dan gembira bergelora di tanahmu

Cerita hanya menjadi pelengkap rasa

Apa ya? Oh iya, teduh

 

Tetiba teduhmu hilang ditelan gelap

Kenapa engkau menutupi asa yang terbang

Sudah fasih ia menghiasi hari-hari tak menentu

Insan berkasih yang selalu membara merekah

 

Hei pekat suram pembawa rasa hampa!

Jangan pernah muncul membawa kebosanan

Sesimu hanya sesaat saja sebelum tertiup

Keteguhan jiwa ternyata punya kekuatan dahsyat

 

Di ufuk sana, sudah cerah membawa kehangatan

Bersinar surya tak terduga

Hantaran sengatnya mengusik hingga sanubari

Iya, teduh. Rasanya teduh.

 

Bandung, 10 Mei 2017, 22:10

Niko Saripson P Simamora

Penyandang Nama

Posted: April 24, 2017 in puisi, Uncategorized
Tags: , , , ,

Hai teruna muda,

Kuatkanlah hatimu sekarang

Jadilah orang-orang gagah perkasa

Sekalipun hancur hatimu

Memandang lebur bukit di sekelilingmu

 

Kepermaian negeri sedang dipertaruhkan

Apakah tumbuh rombongan bebal

Tangannya bebas tidak terikat

Kakinya melangkah enteng tidak dirantai

Telah lama mereka menghendaki ini

 

Penguasa adil pun turut berduka

Meratapi gugurnya seorang besar

Yang diurapi harusnya bisa terhindar

Biarlah kekuasaan memihak kebajikan

Meskipun akan selalu terlihat lemah

 

Tidak ada jalan menuju tujuannya

Buta dan timpang akan datang mengenyahkan

Semesta alam menyertai

Sebab makin besar kuasa melingkupinya

Bersiap untuk ambil kendali

 

Hei, para penyandang nama.

 

Bandung, 24 April 2017, 08:13

Niko Saripson P Simamora

Palang Moral

Posted: March 24, 2017 in puisi, Uncategorized
Tags: , , , , , ,

Hei penguasa,

Tuan-tuan para pembesar,

Perih nian hati meringis

Saat menatap wajahmu

Hmmm, sumringah betul…

 

Apakah gerangan di otakmu

Ketika hasrat hanya memburu rente

Sebegitu rabunkah inderamu

Sudah tuli atau bahkan mati rasa

Aduh, miris…

 

Tuanku laras pengemban tampuk,

Lintaskan sejenak saja di ubun-ubun

Bagaimana para awam ingin hidup

Sederhana saja, tak muluk-muluk

Nah, meniadakan lapar…

 

Pikir kami tidak masuk akal

Kalian begitu cerdik cendekia

Tega bersekutu untuk membohongi nurani

Ke manakah palang moral itu

Ngeri ah…

 

Ketika langkahmu enteng

Tenang menjalin komplotan

Cobalah berlama-lama di pemondokanmu

Rasakan indahnya saat bersama keluarga

Itu saja…

 

Saatnya waktu terbang melayang

Engkau terpisah dari kerabatmu

Namamu rusak

Perlukah sesal itu

Pikirkan!!!

 

Bandung, 24 Maret 2007, 09:01 WIB

Niko Saripson P Simamora

Aku terhilang dalam hujan
Awan menelan energiku

Harapanku padamu oh matahari
Kehangatanmu sumber tenagaku

Angin turut mengusik impianku
Mengapa mengganggu nyamanku

Aku kembali dalam pelukan
Teduh mendekap jiwaku

Cium mesra penuh kasih
Melewatkan andil pengacau

Mereka tak berarti bagiku
Aku hanya untukmu

Ternyata…

Bandung, 5 Maret 2017, 01:12
Niko Saripson P Simamora

Sri Baginda Raja

Posted: March 4, 2017 in puisi, Uncategorized
Tags: , , , , , ,

Yang mulia
Yang dimuliakan
Yang termulia
Sri Baginda Raja

Kasta tertinggi dari umat
Semua kepala tunduk menghadap
Gegap gempita menyambut
Srimanganti padat bersusun pembesar

Dipertuan menjadi simbol otoritas dunia
Diwariskan dari Sang Khalik
Kepadanya diberikan besar kuasa
Titahnya merima jadi niscaya

Paduka pula bermakna lapik
Alas sandaran insan jelata
Menumpu seluruh keluh kesah
Engkau diraja pun dihamba

Bandung, 4 Maret 2017, 07:46
Niko Saripson P Simamora

Kejarlah kebenaran dan kasih

Niscaya ia akan memberikan kehidupan

Lebih dari itu ditambahkannya kehormatan

 

Melakukan keadilan diharapkan semua orang

Yang lurus hatinya suka memaksakannya

Namun itu begitu menakutkan bagi si jahat

 

Ketekunan menjadi makanan sehari-hari

Membunuh keengganan untuk turun tangan

Jangan kau tiru si pemalas

 

Kelimpahan dirancangkan oleh tangan yang rajin

Tanpa rasa ingin disesak

Ketika kekurangan begitu dipaksakan terjadi

 

Orang bijak bersukacita dalam kediamannya

Harta yang indah lagi minyak mengisi ruangnya

Jangan pernah mengundang si bebal ke dalamnya

 

Memelihara perkataan sebagai penyejuk jiwa

Mulut dan lidah menjadi saluran kebaikan

Kesukaran menjadi urung menyapanya

 

Bandung, 21 Februari 2017, 06:15 WIB

Niko Saripson P Simamora