Dia hadir 

Sebagai utusan

Esensinya abadi

Oknum Keilahian

Bukan tubuh

Pula daging

Apalagi tulang

Roh Kekekalan

Pribadi ketiga

Trinitas Agung

Bekerja luarbiasa

Membangun kepekaan

Suara Kebenaran

Sebagai Penolong

Abai ruang

Elakkan ruang

Sebagai Penghibur

Kita yatim

Pun Piatu

Dalam ketidakramahan

Dunia fana

Sebagai Pembimbing

Dalam kekudusan

Serta kebenaran

Yang sepenuh

Harus utuh

Bandung, 4 Juni 2017, 23:40 WIB

Niko Saripson P Simamora

Dia hadir 

Sebagai utusan

Esensinya abadi

Oknum Keilahian

Bukan tubuh

Pula daging

Apalagi tulang

Roh Kekekalan

Pribadi ketiga

Trinitas Agung

Bekerja luarbiasa

Membangun kepekaan

Suara Kebenaran

Sebagai Penolong

Abai ruang

Elakkan ruang

Sebagai Penghibur

Kita yatim

Pun Piatu

Dalam ketidakramahan

Dunia fana

Sebagai Pembimbing

Dalam kekudusan

Serta kebenaran

Yang sepenuh

Harus utuh

Bandung, 4 Juni 2017, 23:40 WIB

Niko Saripson P Simamora

Gunjing Pancasila?

Posted: June 1, 2017 in puisi
Tags: ,

Hari kelahiran menjadi sejarah yang tak terlupakan

Semua insan memakluminya sebagai saat sakral

Tiada alasan untuk mengabaikan, bahkan sarat pengulangan

Selagi masih ada nafas, syukurilah momentum itu

 

Begitupun ideologi sebuah negara majemuk yang kaya sumber daya

Kemunculannya hanya karena sebuah karunia

Warisan para pendahulu yang memiliki visi jauh ke depan

Tentu tidak mudah merumuskannya, apalagi memeliharanya secara konsisten

 

Ketika euforia akan kehadiranmu sedang dirayakan

Pun masih ada yang hilang rasa

Menggunjing Pancasila

Tanpa alasan yang bisa diterima nurani

 

Bagi kami engkau masih yang paling mutakhir

Peninggalan sejarah yang paling berharga

Bukan hanya di bumi nusantara, bahkan di jagad raya

Biar kami tetap setia menjaga dengan segala daya upaya

Bandung, 1 Juni 2017, 19.35 WIB

Niko Saripson P Simamora

Ada sesak yang menyentuh dada

Tatkala harapan yang sudah diumbar terbang menjadi debu

Perjuangan yang telah dikerjakan seketika menjadi nol

Fisikawan bilang, kamu tidak berusaha meski berlari sejauh mungkin

Namun kembali ke tempat semula

Berpindahlah meski perlahan, raihlah tujuan baru itu!

 

Kepala mu sempoyongan dengan kondisi ini?

Bayangan akan sebuah kebahagiaan telah redup menjadi uap

Kebersamaan bisa menimbulkan ketidaknyamanan

Matematikawan bilang, kamu akan tidak terdefenisi meski nilaimu begitu tinggi

Namun limitmu tidak ditentukan

Sadarlah bahwa nilaimu harus sedemikian rupa, tidak perlu sempurna!

 

Untuk kesekian kalinya, hidup semakin dipertajam

Realita tersaji begitu kejam, keras dan tanpa pandang bulu

Harapan, kebahagiaan, kepuasan dan apapun yang kau inginkan, sebutkan itu!

Seketika bisa sirna

Aku tegaskan, bahwa gambaran besar bukan kau yang pegang

Jalani saja, selangkah demi selangkah!

 

Untuk kesekian kalinya,

Bersandarlah pada yang punya rencana

Dia yang Agung

 

Bandung, 29 Mei 2017, 11:34 WIB

Niko Saripson P Simamora

Look at the sun

Warming but even heating

Perfectly imperfect

 

Look at the star

Shining only when it is darkened

Perfectly imperfect

 

Look at the moon

Glowing while reflecting a ray

Perfectly imperfect

 

Look at the earth

Moving around with uncertainty

Perfectly imperfect

 

Living the life

Fully surrender

Even it is perfectly imperfect

Jakarta, 25 Mei 2017, 09.40 WIB

Niko Saripson P Simamora

Mengecap Penghubung Rasa

Posted: May 18, 2017 in puisi, Uncategorized

Panas

Rasa yang akan banyak dihindari

Tapi tanpa dia, enggan menembus embun
Memancar hangat untuk sanubari
Memberi jawaban atas dahaga batin
Alami saja, nikmati!

Keras
Hentakan kata dihujam, tak sedap nian
Tekanan darah bisa mendidih naik
Kuatkah kakimu menginjak tanpanya?
Tegaknya gambaran akan simbol perjuangan
Lalukan saja, langkahkan!

Tegas
Ya katakan ya, tidak katakan tidak
Apa yang di luar itu pengaruh si mamon
Memang akan sangat mengusik kenyamanan
Tetapkan, mau memberi perubahan atau hangat saja
Ikrarkan saja, sorak sorai!

Apa itu dikotomi pun trikotomi?
Ada penghubung, arungi saja!

Palembang, 18 Mei 2017, 11.40
Niko Saripson P Simamora

Awan lembut biasanya engkau teduh

Sejuk kesanmu ketika bersanding cakrawala

Semua harapan membubung ke arahmu

Tak ada kesan keraguan, sekali lagi, teduh

 

Langkah kaki menapak dengan riang

Bahagia dan gembira bergelora di tanahmu

Cerita hanya menjadi pelengkap rasa

Apa ya? Oh iya, teduh

 

Tetiba teduhmu hilang ditelan gelap

Kenapa engkau menutupi asa yang terbang

Sudah fasih ia menghiasi hari-hari tak menentu

Insan berkasih yang selalu membara merekah

 

Hei pekat suram pembawa rasa hampa!

Jangan pernah muncul membawa kebosanan

Sesimu hanya sesaat saja sebelum tertiup

Keteguhan jiwa ternyata punya kekuatan dahsyat

 

Di ufuk sana, sudah cerah membawa kehangatan

Bersinar surya tak terduga

Hantaran sengatnya mengusik hingga sanubari

Iya, teduh. Rasanya teduh.

 

Bandung, 10 Mei 2017, 22:10

Niko Saripson P Simamora