Posts Tagged ‘cerpen’

 

“Tutup!”

Teriakan itu muncul dari seorang pemuda di pintu paling belakang bus Trans Jakarta tipe gandeng yang melayani tujuan Grogol-PGC setelah penumpang masuk ke dalam bus. Pemuda itu menggunakan kaos oblong hitam yang polos, celana jins berwarna gelap dan kakinya beralaskan sandal. Bisa dipastikan bahwa si pemuda itu bukan petugas dari bus Trans Jakarta.

Bus pun berjalan di jalurnya, semua orang di dalam seperti pada umumnya hanya berdiam. Sebagian ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang baca koran, ada yang tidur, dan pastinya tidak ada interaksi. Si pemuda yang berdiri di dekat pintu itu memegang batang besi pegangan di pintu tersebut, bahkan ia  memeluk pegangan itu dan merapatkan mukanya ke kaca pintu itu.

“Yang LIPI, Gatot Subroto, persiapan!” terucap teriakan dari si pemuda sambil masih berpegangan pada besi di pintu ketika bus mendekati halte Gatot Subroto-LIPI, “ Yang Gatot Subroto LIPI,” teriaknya lagi.

Ketika bus berhenti di halte Gatot Subroto LIPI, ada satu penumpang yang keluar, sementara si pemuda kembali berteriak,” Gatot Subroto LIPI!”. Melihat tidak ada yang bergerak keluar, si pemuda pun dengan segera berteriak, “Tutup!”

Tepat saat pintu akan ditutup, ada seorang bapak yang baru tersadar bahwa ia harusnya turun di situ. Sebenarnya, si bapak masih punya kesempatan untuk bisa keluar bus dengan segera, namun karena sudah ada sinyal bunyi bahwa pintu akan ditutup, si pemuda pun menghalangi si bapak.

“Maaf, Pak sudahditutup,” ucapnya kepada si Bapak.

Ada kesan kecewa dari si bapak, namun ia cepat menerima kenyataan bahwa si pemuda itu menghalanginya untuk keluar meski ia masih punya kesempatan. Si pemuda pun mengingatkan untuk turun di halte selanjutnya. Si bapak itu orangnya sabar dan bisa menerima.

Bus kembali berjalan menuju halte selanjutnya. Ketika mendekati halte Gatot Subroto Jamsostek, si pemuda kembali teriak,” Persiapan yang Gatot Subroto Jamsostek!”.

Ketika tiba di halte Gatot Subroto Jamsostek, si bapak yang tadi belum keluar pun segera bergegas keluar.  Namun, tidak ada yang penumpang yang masuk dari halte itu. Si pemuda pun cepat berteriak, “Tutup!”, sambil ia melihat ke belakang dari luar pintu. Entah apa yang dia lihat.

Selama bus berjalan menuju halte selanjutnya, si pemuda kembali memeluk besi pegangan di pintu itu. Ia memejamkan mata dan terkadang terlihat mulutnya komat-kamit. Setelah bus akan mendekati halte, si pemuda membuka mata dan kembali berteriak,”Persiapan yang Kuningan Barat! Transit Ragunan Dukuh Atas!”. Ada beberapa penumpang yang turun, namun tidak ada yang naik dari halte itu.

Bus kembali melaju. Ketika mendekati halte Pancoran Barat, si Pemuda kembali berteriak,”Pancoran Barat! Persiapan!”. Saat bus berhenti, Ia akan berdiri persis seperti petugas bus Trans Jakarta. Kakinya akan mengangkang menginjak lantai halte dan lantai bus pada saat bersamaan. Ia memastikan penumpang  yang keluar maupun masuk bus sudah aman, setelah itu ia berteriak, “Tutup pintu!”.

Saat bus sedang melaju, di kursi bagian belakang sempat terjadi keributan antara seorang Bapak yang duduk di bawah dengan seorang pemuda yang duduk di bagian atas. Pasalnya, si bapak merasa si pemuda itu menginjak celana si bapak. Namun, si pemuda membantah karena kakinya tidak bergerak sama sekali. Si pemuda pun menunjukkan posisi kakinya sedari tadi, apalagi ada seorang bapak yang menumpang duduk di tangga untuk mencapai deretan bangku belakang tersebut. Si bapak yang merasa tidak terima dengan jawaban si pemuda, bukan permintaan maaf yang ada malah sikap menantang. Si bapak itu terlihat cepat naik emosinya.

Adu mulut sempat terjadi antara mereka berdua. Si bapak yang awalnya sibuk dengan ponselnya, sempat menyimpan ponselnya dan mengatur gerakan seperti ingin mendatangi si pemuda. Sementara si pemuda dengan gaya menantang tetap duduk santai. Namun, beberapa penumpang mengingatkan untuk saling menahan diri sehingga tidak terjadi keributan yang lebih besar lagi. Sementara si pemuda yang berdiri di dekat pintu tidak terpengaruh dengan keributan tersebut. Ia hanya berdiri, merapatkan badannya di pintu.

Begitulah si pemuda selalu melakukan aktivitasnya seolah-olah menjadi seorang petugas bus Trans Jakarta. Halte Pancoran Tugu, Cawang Ciliwung, dan BNN pun dilewati dengan seperti itu. Ketika memasuki halte UKI Cawang, si pemuda ternyata ikut turun. Lalu keluar halte. Ia memberi salam kepada beberapa petugas di situ. Sepertinya ia cukup familiar dengan para petugas di situ.

Salah seorang petugas Trans Jakarta di halte itu pun bercerita bahwa si pemuda itu bernama Toni. Ia dulu petugas onboard Trans Jakarta. Saat ini ia sudah dikeluarkan karena menderita penyakit jiwa. Ia adalah petugas ketika terjadi kecelakaan penumpang di bus jurusan PGC-Grogol dua bulan lalu. Penumpang itu terjepit saat akan masuk karena pintu segera tertutup, terjatuh lalu kemudian sempat tertabrak bus yang di belakangnya. Itu sebabnya ia masih sering naik bus dan bersikap seperti petugas Trans Jakarta, namun sangat bersikap hati-hati dan mengutamakan keselamatan penumpang. Tapi sayang kondisi psikologisnya tidak memungkinkannya lagi untuk bekerja di Trans Jakarta.

Hidup masih harus terus berjalan.

 

Jakarta, 20 Desember 2015, 18.15

Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Senyum Damai Si Bapak Tua

Posted: December 12, 2014 in cerpen
Tags: , , , , ,

Mobil tuanya bertingkah lagi. Rasa kesal pasti ada dalam hatinya. Tapi, dia pintar menyembunyikan ekspresinya. Senyum masih merona dari wajahnya. Mencoba merasa damai terpancar dari bahasa tubuhnya. Jangan sampai keadaan mempengaruhinya. Ia yang harus menguasai keadaan.

Mobil itu sebenarnya tidak terlalu tua. Masih tergolong mobil lama yang banyak beredar di jalanan. Tentu, masih lebih tua bis-bis metro mini di ibukota. Awalnya sangat bangga ketika mendapatkan mobil tersebut di masa menjelang pensiun. Namun, ternyata mobil yang diperoleh dari sahabatnya itu tidak bisa diandalkan lagi. Itu yang dirasakannya setelah mengobrak-abrik jalanan dengan mobil itu selama dua tahun belakangan. Dan saat ini, adalah kali kedua mobil bongsor itu bertingkah.

Setelah dioperasi habis alias bongkar mesin, ternyata sakitnya tidak sembuh total. Mobil itu ibarat tubuh yang terkena malaria. Kalau sudah pernah sembuh, jangan pikir bisa sembuh total. Sesekali pasti akan muncul lagi, dan bahkan bisa lebih parah terutama ketika daya tahan tubuh sedang menurun. Mungkin itu yang sedang dialami si harimau itu.

Si Bapak tua itu ke luar dari mobil. Mencoba mengutak-atik telepon genggamnya, mencari-cari kontak yang bisa dihubungi untuk membantunya.

“Halo, bos? Lagi di mana?” tanya si bapak tua.

“Lagi di bengkel, ada apa lagi?” tanya si kontak di seberang.

“Bisa minta tolong?” tanya si bapak tua lagi,” Mobil lagi rusak ini, harus diderek,” lanjutnya.

Tuttt..tuttt..tuttt..

Terdengar komunikasi yang sengaja diputus oleh si kontak di seberang. Si bapak tua tersenyum. Menghibur diri, mengundang damai kembali bersemayam di hatinya.

Hari semakin sore, gelap temaram sudah muncul menggayuti lokasi Si bapak tua dan mobilnya. Hatinya mulai sunyi. Tetap masih tersenyum mengutak-atik telepon genggamnya. Belum ada kontak lain yang dia hubungi. Masih ragu-ragu, antara menghubungi yang sebelumnya atau tidak. Di tengah keraguan, ia duduk sejenak di dalam mobil.

Ia pun tertidur karena kelelahan seharian mengerjakan ladangnya.

Pagi harinya, ia terbangun. Ia sudah berada di rumah. Ia lalu bergerak ke luar rumah. Senyum seketika terpancar di wajahnya. Damai begitu damai, lebih damai saat ia bingung ketika mobilnya bermasalah lagi.

“Pa, besok pakai mobil baru ini, ya. Jangan pakai yang bekas itu lagi!” ucap istrinya, “ Ini hadiah dari si bontot mu, dia nggak mau ditelepon buat ngederek mobil,” lanjutnya.

“Ah, syukurlah!!!” senyum damai si bapak tua merekah lagi.

Jakarta, 12 Desember 2014, 13.25
Niko Saripson P Simamora

Kisah Anak Juragan Bus

Posted: June 4, 2014 in cerpen
Tags: , , , ,

Sudah menjadi kebiasaan Jaka, setelah mengantar kekasihnya ke rumah dengan menggunakan taksi, ia akan berganti angkutan tepat di perempatan jalan yang cukup jauh dari rumah kekasihnya itu. Hal itu ia lakukan karena sebenarnya ia tidak menikmati perjalanan dengan menggunakan taksi karena pengatur udara yang membuat ia pusing. Namun, karena ia di dalam bersama kekasihnya, ia melupakan itu dan lebih menikmati berbincang dengan pujaan hatinya itu. Setelah sendiri, ia akan berhenti tepat di tempat bus kopantas biman yang menunggu penumpang, lalu naik ke dalamnya.

Di dalam bus, acapkali ia memperhatikan seorang anak kecil yang ngamen di dalam bus. Sebelum memulai aksinya, anak kecil itu akan membagi-bagikan amplop kepada penumpang yang satu persatu memenuhi bus itu. Setelah itu, ia akan mulai bernyanyi. Nyanyian yang ia dendangkan tidak terlalu terdengar dengan jelas. Ia hanya kelihatan bergumam, sambil sesekali tersenyum mencolek sebagian penumpang yang kemungkinan sudah sering ia lihat di bus itu. Sesudah bernyanyi, ia akan bergerak kembali mengambil amplop-amplop yang ia bagikan sebelumnya. Untuk beberapa penumpang ia seolah memaksa untuk memberikan uang, dan kebanyakan akhirnya memberikan juga. Sementara yang lain, tidak ia lakukan seperti itu.

Kegiatan itu menjadi sebuah hiburan bagi Jaka, sehabis melakukan kebiasaannya mengantar pacarnya. Ia sangat tertarik memperhatikan gerak-gerik anak kecil itu, sambil terkadang membayangkan masa kecilnya dan juga hal-hal lain yang berhubungan dengan dunia anak kecil. Usia anak itu sekitar lima atau enam tahun. Masih sangat belia dan sepantasnya tidak berada di tempat seperti itu sendiri dan mencari uang. Dalam jam-jam seperti itu, anak kecil itu seharusnya ada di rumah dan belajar. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang Jaka bayangkan. Jaka selalu tidak habis pikir akan keadaan itu. Ia pun berusaha sedapat mungkin untuk tidak memberi karena ia menganggap hal itu hanya akan memanjakan dan selanjutnya menjadi sebuah kebiasaan bagi si anak. Jaka pun beranggapan dengan tidak memberi membuat si anak tidak betah dengan keadaan seperti itu sehingga akan mengambil keputusan untuk tidak lagi mengamen. Sebegitu jauh memang pikiran Jaka, si pemuda yang idealis, konservatif dan kaku.

Suatu hari, Jaka kembali dari mengantar kekasihnya dengan taksi dan berhenti tepat di tempat di mana bus kopantas biman menunggu penumpang. Namun, ia cukup terkejut ketika mengetahui bahwa tidak ada bus yang berhenti dan menunggu penumpang. Awalnya Jaka berpikir bahwa kemungkinan bus itu masih belum tiba, sehingga ia berdiri saja menunggu. Setelah setengah jam menunggu, ternyata bus yang ia tunggu-tunggu belum datang juga, sementara sudah cukup banyak penumpang yang menunggu. Satu jam berlalu dan bus pun belum datang.

Beberapa penumpang setia bus itu sudah tampak gusar dan mulai mengeluhkan keadaan itu. Sementara Jaka sebagai seorang pemuda yang sabar kelihatan masih santai saja. Ia masih mengharapkan bus itu akan segera datang. Namun, tunggu punya tunggu tidak datang juga hingga akhirnya seorang Polisi yang sedang beristirahat dari mengatur lalu lintas menghampiri penumpang.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian mungkin sedang menunggu bus kopantas biman yang sering berhenti di sini ya?” tanya Pak Polisi tersebut.

“Iya, iya…” jawab para penumpang.

Jaka pun tak ketinggalan mendekat untuk mendengar informasi dari Pak Polisi tersebut.

“Jadi begini, semua supir dan kondektur yang bekerja untuk perusahaan bus tersebut sedang tidak bekerja karena melayat anak bos mereka yang meninggal tadi pagi. Jadi, bapak ibu sekalian silakan mencari angkutan yang lain” kata Pak Polisi menjelaskan.

Terlihat wajah-wajah penumpang yang bingung dengan penjelasan Pak Polisi tersebut sambil berlalu bubar dari tempat itu. Sebagian lagi ada yang bergumam, mungkin kesal karena sudah menunggu lama. Sementara itu, Jaka terlihat mengerutkan dahi dan tidak berterima dengan penjelasan singkat Pak Polisi tersebut. Ia pun langsung menemui Pak Polisi tersebut.

“Pak, kenapa supir dan kondektur tidak bekerja hanya karena anak bosnya meninggal?” tanya Jaka penasaran.

“Begini mas, kalau mas sering perhatikan, anak kecil yang mengamen di bus, dialah anak bos yang punya perusahaan bus itu” jawab Pak Polisi.

“Hah?Trus Pak?” tanya Jaka lagi.

“Anak itu sebenarnya sudah berumur tiga puluh tahun, tetapi karena menderita sebuah penyakit yang belum diketahui namanya membuat beliau kelihatan seperti anak kecil. Karena mengidap penyakit itu, ia susah bergaul di sekolah dan lingkungannya. Sehingga ia memilih untuk hidup di jalan dan bergaul dengan supir dan kondektur. Karena supir dan kondektur merasa dekat dengan anak itu, mereka rela tidak bekerja hari ini” jawab Pak Polisi dengan jelas.

Jaka terhenyak mendengar cerita Pak Polisi itu. Sambil mengucapkan terima kasih, Jaka berlalu dari Pak Polisi itu. Ia pun berjalan mencari angkutan lain sambil bergumam dalam hati, “Ternyata hidup tidak melulu apa yang tampak di luar”.

 

Jakarta, 4 Juni 2014, 15.30

Niko Saripson Pandapotan Simamora

Cuaca hari ini tampak cerah melingkupi Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi, berjarak sekitar 152 km ke arah barat daya dari ibukota provinsi, Medan. Waktu tempuh bisa mencapai 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan umum maupun pribadi dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam. Bila menuju ke sana, jangan lupa membawa bekal jaket, syal, maupun pakaian hangat karena akan disambut dengan udara segar yang dingin khas pegunungan. Pun hari ini, cuaca cerah tak pernah sepi ditemani udara segar nan dingin tersebut. Kaki umumnya takkan sanggup menapak di lantai keramik karena begitu dinginnya, kecuali telah terbiasa.

Pak Arko, seorang pegawai negeri sipil di daerah tersebut, masuk kantor dan mengerjakan tugas-tugas kantor dengan baik. Ia adalah salah satu abdi negara yang patut ditiru di kantor karena integritas dan dedikasinya yang tinggi, bukan hanya di kantor juga di lingkungan sekitar rumahnya, di gereja dan terutama di keluarganya. Hidupnya sederhana dan bersahaja. Bila dibandingkan dengan rekan-rekan di kantor, tak banyak yang menyangka bahwa Pak Arko adalah pejabat tinggi di daerah itu. Namun, Pak Arko tetap harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, khususnya untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga tingkat pendidikan yang paling tinggi.

Pesan singkat masuk ke telepon Pak Arko, dengan serta merta Pak Arko membuka dan membacanya.

Puhun (paman), jadi kita hari ini kan? Kami tunggu di kosan kami ya, Puhun. Terima kasih”

Pak Arko pun membaca sambil tersenyum dan kemudian membalas dengan singkat.

“Oke”

Suasana hati Pak Arko seketika menjadi cerah, senyumnya mengisyaratkan semangat ketika menerima pesan singkat tersebut apalagi waktu kala itu sudah mendekati jam istirahat kantor.

Ketika jam istirahat, Pak Arko langsung bergegas menuju rumah untuk terlebih dahulu makan masakan istrinya. Setelah itu, Pak Arko langsung bergegas menuju rumah kos untuk menjemput tiga orang anak muda yang masih sekolah di sekolah kejuruan teknik yang tidak jauh dari rumahnya. Ketiga anak muda tersebut sudah siap siaga menanti sejak tadi dan mereka langsung tersenyum ketika melihat mobil Pak Arko sudah mendekati mereka. Dengan bergegas, mereka pun langsung masuk ke mobil. Satu orang duduk di samping Pak Arko yang mengemudi dan dua orang lainnya duduk di belakang mereka.

Nggo mangan ke? (sudah makan kalian?)” tanya Pak Arko.

Nggo, Puhun! (sudah Paman)” jawab Kelleng yang berada di samping Pak Arko.

Situhu ngo? (beneran kan?)” tanya Pak Arko memastikan.

Ue Puhun! (Iya Paman)” seru ketiga pemuda secara spontan.

Oh, ingo. Berangkat mo kita ti! (Oh, begitu. Berangkatlah kita ya!)” ucap Pak Arko sambil mengemudikan mobilnya menuju ladang.

Pak Arko memang orang yang supel dan mudah bergaul. Ia bisa berkomunikasi dalam bahasa Batak Pakpak sementara Pak Arko sendiri berasal dari Batak Toba. Meskipun sama-sama etnis Batak, tetapi sub-etnis tersebut memiliki bahasa masing-masing yang sangat berbeda satu sama lain. Dengan memiliki kemampuan bahasa daerah tersebut, Pak Arko sangat mudah bergaul dengan penduduk daerah tersebut, khususnya anak-anak muda yang merantau dari desa ke Sidikalang untuk bersekolah. Anak-anak muda tersebut banyak yang bekerja sampingan setelah pulang sekolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya dengan menjadi pemetik kopi di ladang Pak Arko.

Kopi adalah komoditas utama dari Sidikalang, bahkan Sidikalang dijuluki Kota Kopi. Daerah-daerah sekitar bahkan sangat mengenal Kopi Sidikalang yang dianggap memiliki kualitas kopi yang bagus dengan aroma yang menggoda bagi setiap pecinta kopi. Kebanyakan lahan di daerah ini ditanami kopi, khususnya kopi arabika dan sebagian kopi robusta. Salah satunya di ladang Pak Arko yang merupakan warisan dari orangtuanya. Ladang seluas kurang lebih dua hektar tersebut ditanami kopi sejak dua tahun yang lalu. Sebelumnya, ladang tersebut adalah sawah yang kemudian dikeringkan oleh Pak Arko karena produksi yang semakin menurun dan jaringan air yang mengering.

Letak ladang Pak Arko semakin strategis karena berada tepat di samping lokasi Taman Wisata Iman Dairi. Taman wisata iman itu merupakan sebuah taman wisata yang didirikan untuk mendukung dan mewujudkan kerukunan hidup antarumat beragama. Pada awal didirikan, taman wisata iman tersebut ditujukan untuk lima agama yang diakui di Indonesia yang dibagi dalam 4 (empat kawasan), yaitu Kawasan Budha, Kawasan Nasrani (Protestan dan Katolik), Kawasan Hindu, dan Kawasan Islam. Setiap kawasan dikembangkan menurut kebutuhan dan perkembangan agama masing-masing disertai fasilitas-fasilitas yang memungkinkan setiap pengunjung dapat melakukan ibadah menurut agama masing-masing, baik secara pribadi maupun secara komunal. Setiap kawasan pun terbuka untuk semua pengunjung dan dihubungkan satu sama lain sehingga pengunjung dapat mengunjungi semua kawasan di taman wisata tersebut.

Pak Arko sangat bersemangat bila mengunjungi ladang tersebut. Ia merasa seperti bangun pagi yang memberi semangat ketika menghirup udara segar di situ dan memandangi hijaunya tanam-tanaman yang diharapkan tumbuh subur dan memberikan hasil yang maksimal.

Dengan lama perjalanan sekitar lima belas menit, mereka pun tiba di ladang dan bergegas menuju pondok yang ada di ladang tersebut. Ketiga pemuda tersebut dengan sangat bersemangat lalu mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang sudah sering mereka pakai untuk bekerja. Masing-masing mereka akan menggunakan caping, membawa satu ember dan karung goni.

Eta, eta krejo! (Ayo, ayo kerja!)” seru Pak Arko menyemangati.

Etaaa! (Ayooo!)” jawab ketiga pemuda dengan bersemangat.

Ketiganya dengan segera berpencar mencari tempat masing-masing untuk memetik kopi yang sudah memerah biji-bijinya. Sementara Pak Arko hanya tersenyum melihat mereka yang berlalu dari pandangannya. Pak Arko pun lalu bergegas kembali ke kantor karena waktu istirahatnya sudah hampir habis.

Pak Arko adalah salah satu dari banyak pegawai di kantornya yang juga turut menanam kopi untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup terutama pendidikan anak-anak dalam keluarga masing-masing. Hasil kopi tersebut memang memberikan keuntungan yang cukup besar kala panen. Tak salah, orang-orang di daerah tersebut menyebut kopi tersebut sebagai kopi sigarar utang (pembayar utang). Dan seringkali, obrolan-obrolan di kantin kantor dihiasi dengan saling berbagi tentang keadaan tanaman kopi di ladang masing-masing. Pak Arko pun terkadang turut serta untuk menjaga pertumbuhan kopi di ladangnya tetap bagus.

Sore hari tiba, Pak Arko pun bergegas meninggalkan kantor dan terlebih dahulu menuju rumah untuk berganti pakaian. Ia juga kerapkali mengajak istri dan anak-anaknya untuk turut serta apabila tidak memiliki kesibukan. Untuk hari itu, istrinya tidak bisa karena mengikuti latihan koor ibu-ibu di gereja, sementara kedua putranya sibuk dengan kursus masing-masing. Kedua puterinya saat ini sedang menuntut ilmu di Bandung. Pak Arko pun berangkat seorang diri.

Waktu pada saat itu sekitar dua puluh menit lewat dari pukul lima sore. Pak Arko tiba di ladangnya dan juga melakukan hal yang dilakukan ketiga pemuda tadi, berganti pakaian kerja, memakai caping dan membawa ember beserta karung goni. Ia terlebih dahulu memastikan apakah ketiga pemuda masih ada di ladang tersebut.

“Hoi…!” teriak Pak Arko.

“Hoooiiii…!” sahut ketiga pemuda tersebut hampir serentak.

Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing diikuti Pak Arko yang dalam sekejap langsung hanyut dalam kegiatan memetik biji-biji kopi merah dari pokoknya. Mereka terlihat begitu sibuk sehingga jarang sekali terjadi percakapan selama mereka memetik biji-biji kopi tersebut. Tak terasa, gelap mulai datang, ketika itu pukul enam sore, Pak Arko pun langsung mengajak untuk menghentikan aktivitasnya dan beranjak ke pondok.

Setelah bekerja, biasanya salah seorang dari pemuda akan memanaskan air dengan cerek kaleng di atas tungku yang disusun dari tiga buah batu dengan kayu bakar. Sejenak mereka akan berbincang-bincang terlebih dahulu sambil ada juga dari pemuda tersebut menyalakan rokok, sementara Pak Arko sendiri tidak merokok. Pak Arko akan terlebih dahulu menanyakan banyaknya biji kopi yang mereka kumpulkan. Biasanya mereka bisa mengumpulkan biji kopi masing-masing satu karung penuh dan hari itu pun mereka mengumpulkan seperti biasa. Pak Arko terkadang mengiming-imingi bayaran lebih bila mereka mampu mengumpulkan lebih, tetapi jarang sekali mereka memperolehnya. Ketiga pemuda itu tidak terlalu peduli dengan hal itu, yang penting bagi mereka bisa mendapat tambahan uang disertai rokok dan kopi gratis.

Pak Arko pun mengajak mereka untuk membereskan semua peralatan,  menggabungkan semua biji kopi yang di petik ke dalam sebuah karung yang lebih besar di dalam pondok. Setelah itu, mereka pun berganti pakaian dan bergegas untuk pulang. Pak Arko akan mengantarkan mereka terlebih dahulu ke tempat kos mereka, baru kemudian kembali ke rumahnya.

Di rumahnya, Pak Arko sudah ditunggu untuk makan malam bersama. Ibu Arko sudah mempersiapkan makanan untuk makan malam mereka. Pak Arko terkadang membawa buah tangan dari ladang berupa sayur-sayuran yang juga ditanam di sekitar pondok. Ada tomat-tomat kecil, cabe rawit, labu siam dan daun singkong. Setelah makan malam, Pak Arko akan menanyakan aktivitas kedua putranya, Arif dan Iman, kemudian mereka akan diperbolehkan belajar. Pak Arko sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya sehingga ia akan terus berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya, terutama untuk masalah pendidikan.

***

Keesokan harinya, seperti biasa, Pak Arko akan mengantarkan kedua puteranya ke sekolah terlebih dahulu sebelum mengikuti apel pagi di kantor. Pekerjaan di kantor dilakukan seperti biasa oleh Pak Arko, banyak dokumen-dokumen yang diletakkan di atas mejanya. Pak Arko selalu dengan teliti memeriksanya sebelum membubuhkan tanda tangan maupun sekedar paraf untuk didisposisikan lagi. Begitulah kesibukan Pak Arko di kantor sebelum waktu istirahat tiba.

Waktu istirahat sudah semakin dekat, Pak Arko sesekali memandang telepon selulernya, menanti datangnya pesan singkat dari pemuda pemetik kopi. Namun, tiba-tiba telepon di meja Pak Arko berdering. Pak Arko pun mengangkat.

“Halo, selamat siang, Pak Arko! Belum istirahat kan?” terdengar suara dari telepon tersebut.

Dengan sedikit mengernyitkan dahi, Pak Arko sepertinya sedang berpikir tentang suara dari telepon yang terdengar familiar.

“Selamat siang, Pak! Oh, belum Pak!” jawab Pak Arko setelah mengetahui bahwa suara dari telepon tersebut adalah Pak Heri, Sekretaris Daerah, pimpinan dari Pak Arko sendiri.

“Bisa datang ke ruangan saya, Pak! Ada hal yang ingin saya bicarakan!” ujar Pak Heri.

“Bi-bisa, Pak!” jawab Pak Arko sedikit terbata-bata dan ragu-ragu karena saat itu juga telepon selulernya berbunyi menandakan adanya pesan singkat yang masuk.

Dengan bergegas, Pak Arko menuju ruangan pimpinan tanpa sempat membalas pesan singkat yang masuk ke telepon selulernya. Ia pun menemui Pak Heri yang ditemani tiga orang bapak-bapak dan seorang ibu. Dua orang dari bapak-bapak tersebut terlihat berasal dari luar negeri bila diperhatikan perawakannya, sementara yang lain adalah warga pribumi.

“Pak Arko, perkenalkan Bapak-Bapak dan Ibu ini!” ucap Pak Heri ketika melihat Pak Arko datang seraya berdiri mengajak bersalaman dengan tamu-tamunya, ”Bapak/Ibu datang dari Medan untuk melakukan penelitian tentang kopi”, lanjut Pak Heri, “Pak Arko ini salah satu orang yang cukup menekuni tentang kopi,” tambah Pak Heri lagi.

Pak Arko pun menyalami mereka satu per satu sambil memperkenalkan nama masing-masing. Kedua bule itu berasal dari Jerman ditemani oleh dua orang dosen pertanian Universitas Sumatera Utara. Setelah itu mereka duduk bersama-sama dan melakukan perbincangan. Pak Arko sesekali memandangi telepon selulernya, tetapi belum sempat membalas pesan singkat tersebut karena menghormati suasana perbincangan di ruangan tersebut. Perbincangan mereka cukup panjang bahkan melewati waktu istirahat.

Awalnya Pak Arko tidak begitu tertarik dengan perbincangan tersebut hingga pada akhirnya Pak Heri memberikan perintah agar Pak Arko menjadi pemandu bagi tamu-tamu tersebut selama mereka melakukan kunjungan di Sidikalang. Pak Arko pun menjadi lebih fokus dan semakin memperhatikan arah pembicaraan tersebut. Para tamu pun memohon kesediaan untuk bisa diantarkan ke lokasi yang ditanami kopi. Tanpa berpikir panjang, Pak Arko berinisiatif untuk mengajak mereka ke ladangnya. Pak Arko pun terlebih dahulu memohon izin dari Pak Heri. Pak Heri pun terlihat menyetujui. Pak Arko dan para tamu tersebut pun meninggalkan ruangan Pak Heri.

“Mari Bapak-Bapak dan Ibu! Ikut saya saja, saya bisa antarkan ke ladang kopi yang tidak jauh dari sini,” ujar Pak Arko mengajak tamu-tamu tersebut.

Sebelum bergegas ke ladang, Pak Arko telebih dahulu membalas pesan singkat dari telepon selulernya untuk mengajak ketiga pemuda yang biasa bekerja memetik kopi di ladangnya. Ia pun menjemput ketiga pemuda tersebut yang sempat kelihatan cemas karena menunggu cukup lama. Tamu-tamu tersebut pun mengikuti Pak Arko dengan mobil mereka sendiri. Mereka pun menuju ladang Pak Arko.

Sesampainya di sana, Pak Arko mengajak para tamu-tamu tersebut untuk melihat-lihat tanaman kopi yang ada di ladang tersebut. Ketiga pemuda melakukan aktivitas mereka seperti biasa, sementara kedua orang bule tersebut dengan antusias langsung menuju ke tanaman-tanaman kopi tersebut, memandang-mandang, sambil sesekali memetik biji dan daunnya. Mereka terlihat begitu tertarik dan langsung memanggil temannya orang pribumi tersebut. Mereka pun berbincang-bincang sejenak. Setelah itu, salah seorang Bapak tersebut mendatangi Pak Arko.

“Pak Arko, berapa luas ladang ini?” tanya Pak Budi.

“Oh, sekitar dua hektar, Pak.” Jawab Pak Arko.

“Apa bisa kami jadikan tempat penelitian kami?” tanya Pak Budi, “Kedua Bapak tersebut sangat tertarik dengan tanaman kopi di sini”, ucap Pak Budi sambil menunjuk ke arah bule tersebut.

“Mmmhhh..” Pak Arko bergumam sambil berpikir.

“Tenang saja, Pak! Bapak tetap bisa melakukan aktivitas  seperti biasa, kami akan memantau beberapa batang pohon kopi di sini, sambil kami juga akan menanam yang baru,” tukas Pak Budi, “Kami pun akan membayar sewa selama kami di sini,” lanjut Pak Budi lagi.

“Oh, oke!” Pak Arko mengangguk tanda sepakat.

Pak Budi pun langsung menuju kedua bule tersebut dan berbincang-bincang dalam bahasa Inggris. Kedua bule tersebut tampak sangat senang mendengar penjelasan Pak Budi tersebut. Mereka pun melanjutkan dengan berkeliling sekitar ladang tersebut. Pak Arko sesekali diajak berbicara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kedua bule tersebut melalui Pak Budi. Waktu pun berlalu begitu cepat ketika sore sudah tiba. Mereka pun segera bergegas meninggalkan ladang tersebut.

***

Setelah enam bulan, produksi kopi dari ladang Pak Arko semakin meningkat. Hal ini berkat bantuan dari tenaga ahli yang masih terus meneliti di ladang Pak Arko. Pak Arko pun mulai menambah pekerja baru untuk memetik kopi di ladangnya. Bahkan seterusnya, tidak hanya hasil kopi saja yang bertambah, bule-bule tersebut juga kerap kali mengundang banyak orang dari luar daerah untuk studi banding di kebun tersebut sambil mengajak mereka berwisata di Taman Wisata Iman Dairi. Hal itu pun turut meningkatkan kunjungan wisata dan ketertarikan untuk mengembangkan produksi kopi di Dairi.

 

Bandung, 15 Desember 2012, 15.00

Niko Saripson P Simamora

 

Sang Penyintas

Posted: May 19, 2012 in Uncategorized
Tags: ,

Badan lemah itu terbaring lesu di atas tempat tidur rumah sakit milik pemerintah. Jarum infus melekat di tangannya, sementara selang oksigen terpasang melalui hidungnya. Matanya kerap terpejam sepanjang hari, hanya desahan suara yang sesekali terdengar dari mulutnya. Makanan pun diasup melalui selang yang terpasang di hidung. Cuma satu dua orang yang bergantian berada di dekatnya, sanak yang lain lebih memilih menunggu di sofa dekat pintu kamar mandi yang masih dalam satu ruangan. Ada juga beberapa orang , sepertinya pihak pemerintah, rekan kerja, dan sahabat yang datang sebentar untuk sekedar melihat dan berbincang sebentar dengan keluarga yang menjaga. Dokterpun terus mengontrol kondisi ditemani perawat untuk melihat perkembangan pasiennya.

Di luar, lebih banyak lagi orang yang menunggu, diantaranya beberapa wartawan media cetak maupun elektronik, beberapa polisi dan tentara, rekan kerja dan sahabat-sahabat. Semua berharap dan mendoakan yang keadaan yang cepat membaik. Sementara itu, pesawat televisi  yang terpasang di beberapa sudut rumah sakit senantiasa menayangkan berita terkini, masing-masing stasiun televisi dengan berita yang kurang lebih sama.

Sebuah lapangan bola di salah satu desa bagian dari daerah kantong hujan itu seketika ramai. Bukan karena ada pertandingan, justru tak ada hubungannya dengan sepakbola. Ya, beberapa helikopter berjajar, sesekali bergantian terbang  membawa beberapa regu penyelamat, wartawan, dan sukarelawan. Semuanya tampak sibuk tanpa mengenal lelah.

Beberapa ahli juga tampak sibuk ditanyai, dimintai pendapat dan analisis seusai kapasitas masing-masing. Kebanyakan mereka tidak menduga kejadian yang telah terjadi, sebagian lagi tidak mau mendahului untuk memberikan keterangan sebelum dilakukan investigasi.

Sejak misteri hilangnya pesawat udara buatan salah satu negara pecahan komunis itu, segenap warga yang mengetahuinya ikut bersimpati dan memanjatkan doa. Keberadaan pesawat ditemukan setelah satu hari penuh dilakukan pencarian dari udara menggunakan helikopter. Lokasi jatuhnya pesawat diketahui berada di lereng gunung yang terjal. Usaha evakuasi dilakukan dengan segala upaya.

Bapak yang terbaring itu siuman. Sanak keluarga segera mendekat sambil tersenyum. Orang-orang di luar seketika berkerumun mengintip dari kaca tembus pandang yang terdapat di pintu. Dokter seketika masuk ke ruangan, memeriksa kondisi dengan sedikit heran. Lalu keluar, berbincang-bincang dengan wartawan dan mempersilakan satu orang perwakilan dari wartawan untuk masuk ke ruangan dan mewawancarai bapak tersebut. Pak tua itu adalah sang penyintas dari kecelakaan pesawat udara yang menabrak gunung tersebut. Lima hari sejak kejadian, tim penyelamat menemukan Bapak tersebut berlindung di balik kursi pesawat.

Senyum simpul terlukis di bibirnya, hanya sedikit kata yang terucap, “Tidak selamanya joy flight berakhir dengan joy”.

Bandung, 12 Mei 2012 10:10

Niko Saripson P Simamora