Posts Tagged ‘daniel’

Gua Singa

Posted: November 30, 2016 in puisi, Uncategorized
Tags: , , , ,

Ada sebuah tempat yang mengerikan

Disediakan untuk kumpulan yang melawan

Meski mereka memaksa tanpa alasan

Kebenaran bukan tentang kesengajaan

 

Seorang Daniel yang punya kecerdasan

Hidup penuh dengan kesalehan

Berbuat banyak  untuk kemanfaatan

Tanpa sesuatu yang perlu diragukan

 

Tidak semua orang sama pandangan

Selalu melihat sisi ketidaksamaan

Apalagi punya perbedaan kepentingan

Segala cara seolah diperkenankan

 

Gua singa menjadi bagian

Daniel bukan seseorang yang membahayakan

Namun harus menghadapi kenyataan

Raja pun harus mengikuti peraturan

 

Tuhan punya cara untuk turun tangan

Mulut singa kelu, urung makan

Daniel terjaga dari serangan

Raja takjub turut mengagungkan

 

Ketika para penjahat dimasukkan

Singa menyantap dengan cekatan

Sekejap sudah tinggal kenangan

Allah berdaulat atas ketidakadilan

 

Gua singa ada dalam semua kehidupan

Hadapi dengan tanpa ketakutan

Hanya selalu andalkan kebenaran

Gua singa hanya untuk kalian, pengagum kebatilan

 

Bandung, 30 November 2016, 23.20 WIB

Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Raja Belsyazar sebagai pemegang tampuk kekuasaan menggantikan ayahnya, Nebukadnezar suatu ketika mengadakan pesta perjamuan yang besar diikuti oleh seribu orang. Pesta diisi dengan minum-minum anggur, sehingga si Raja pun larut sampai pada akhirnya mabuk. Karena berada di dalam pengaruh minuman, sang raja pun memerintahkan sesuatu yang tidak pantas, yaitu menyuruh untuk mengambil perkakas dari bait suci untuk dipakai makan dan minum dalam pesta tersebut.

Semua hadirin dalam pesta makan dan minum dengan perkakas emas dan perak yang diambil dari Rumah Allah tersebut. Sambil menikmati makan dan minum, mereka memuji dewa-dewa dari emas, perak, tembaga, besi, kayu dan batu. Suatu hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang anak raja yang seharusnya memuja Allah.

Sementara itu, di tengah-tengah hingar bingar pesta, tampak jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana raja, sementara raja turut memperhatikan punggung orang yang menulisnya. Sambil terus memperhatikan, sang raja menjadi pucat, pikirannya menerawang, dan kakinya terasa lemas. Karena begitu penasaran, sang raja meminta semua orang bijaksana, ahli nujum untuk datang kepadanya dan menerjemahkan apa yang menjadi maksud tulisan di dinding istana raja tersebut.

Dari beberapa orang yang terkenal sebagai orang pintar di negeri itu tidak satupun yang dapat menjelaskan makna dari tulisan yang terdapat di dinding istana raja tersebut hingga akhirnya sang permaisuri datang dan mengatakan masih ada orang yang bisa dipanggil untuk bisa menjelaskan tulisan itu. Sang permaisuri dengan penuh keyakinan bahwa Daniel alias Beltsazar dapat melakukannya karena ia pernah mengetahui hal tersebut ketika menerangkan mimpi pada saat Raja Nebukadnezar masih berkuasa.

Daniel, sebagai seorang abdi Allah pun dibawa ke hadapan raja. Ketika raja menawarkan hadiah yang pantas ia dapatkan bila mampu menjelaskan arti tulisan itu, Daniel dengan rendah hati tidak menerimanya dan bahkan menyuruh untuk memberikannya kepada orang lain. Motivasi Daniel sungguh sangat murni untuk menyatakan kebenaran. Dia pun lalu menjelaskan tulisan itu, yaitu Mene,mene, tekel ufarsin, Mene: masa pemerintahan raja telah dihitung dan diakhiri oleh Allah, Tekel: raja ditimbang dengan neraca dan terlalu ringan, Peres: kerajaan akan dipecah dan diberi kepada orang Persia dan Media. Daniel pun akhirnya memperoleh kekuasaan sebagai orang ketiga, dipakaikan kain ungu dan lehernya dikalungkan rantai emas. Daniel mendapat tempat yang terhormat ketika menjelaskan kebenaran yang ia peroleh dari relasi dengan Allah.

Di sisi lain, Raja Belsyazar mengalami nasib yang tragis, ia terbunuh pada malam itu juga. Kondisi yang sangat mengerikan ketika seorang raja yang mendapat warisan tahta dari ayahnya tidak mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang pernah ada. Sebagai seorang pemimpin, Raja Belsyazar mengabaikan hal kerendahan hati dan kemauan belajar. Oleh karena itu, dia pun akhirnya menanggung konsekuensi akibat tidak belajar dari sejarah.

‘l’histoire se repete’… Sejarah berulang..

(diadaptasi dari Daniel 5:1-30)

Jakarta, 19 Juni 2014, 12.25

Niko Saripson P Simamora