Posts Tagged ‘hidrografi’

Dalam rangka menghikmati SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 2010, ITB-Wanadri-Rumah Nusantara mengadakan Pameran dan Lokakarya yang bertema “Menjaga Tepian Tanah Air”. Acara ini berlangsung dari Senin-Jumat, 25-29 Oktober 2010 di Campus Center Timur ITB. Dalam rangkaian acara tersebut, saya berkesempatan mengikuti lokakarya dengan topik “Permasalahan Perbatasan Wilayah NKRI di Pulau-pulau Terdepan Indonesia” bertempat di Auditorium IPTEKS Campus Center Timur ITB.

Narasumber yang hadir diantaranya : Prof. Dr. Etty R. Agoes (Guru Besar Hukum Internasional Unpad), Kol.Laut Trismadi (Dishidros-TNI AL), Nawir H. Pedju (PT.  Seliacipta Bestari Lima), Prof. Sjamsir Mira (ITB), Prof. Joenil Kahar (ITB-Mantan Ka.BAKOSURTANAL) dan dari Tim Garis Depan Nusantara. Dengan moderator Dr. Eka Djunarsjah (Dosen Hidrografi Tek. Geodesi ITB, Kepala Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB).

Lokakarya diawali oleh paparan dari Prof. Etty tentang Aspek Hukum yang mengatur tentang wilayah NKRI, batas wilayah, serta yurisdiksi terhadap kedaulatan wilayah tersebut. Secara khusus dijelaskan juga tentang masalah perbatasan di laut dan aspek legal perundang-undangan Republik Indonesia terhadap Hukum Laut yang disepakati secara Internasional( sering dikenal dengan UNCLOS 1982).

Dilanjutkan dengan pemaparan dari Kol. Laut Trismadi yang mengemukakan perihal penanganan permasalahan perbatasan maritim NKRI dan pulau-pulau kecil terluar. Diungkapkan bahwa Indonesia telah menginventarisasi 92 pulau kecil terdepan dan telah dideposikan ke PBB, sehingga ke-92 pulau tersebut telah dilindungi secara hukum menjadi milik Indonesia. Trismadi juga mengemukakan masih perlu dilakukan perundingan tentang batas laut dengan negara tetangga, walaupun sebagian sudah selesai dilakukan.

Dari aspek pendidikan, Prof. Sjamsir Mira mengungkapkan pengalaman-pengalaman beliau ketika masih aktif mengajar di ITB. Beliau mengungkapkan bahwa pernah merancang “Profil Kelautan ITB” berkaitan dengan pengamatan beliau akan kebanyakan bidang ilmu di ITB yang berurusan dengan laut. Bahkan beliau mengungkapkan bahwa negara Indonesia bukan merupakan kepulauan yang dikelilingi laut, melainkan laut yang ditaburi pulau-pulau. Ungkapan tersebut menunjukkan betapa luasnya laut Indonesia. Beliau juga mengharapkan untuk ke depannya, pola pikir Laut ditanamkan sejak dini kepada anak-anak Indonesia. Ini dibuktikan oleh Tim Garis Depan Nusantara (GDN) yang telah berekspedisi ke 92 pulau terdepan dan mengungkapkan masih banyak anak-anak yang hidup di dekat laut masih memiliki pola pikir darat dibuktikan dengan masih banyaknya anak-anak yang ketika disuruh untuk menggambar yang mereka gambarkan adalah gunung, jalan, bahkan mobil, gedung tinggi, mobil dan sebagainya. Hal tersebut juga menjadi pesan yang disampaikan oleh Prof. Joenil Kahar. Beliau mengingatkan bahwa pulau terdepan menjadi teras Indonesia, oleh karena itu perlu manajemen yang baik.

Nawir H. Pedju seorang praktisi memaparkan tentang landasan berpikir untuk menjaga Tepian Tanah Air yang telah tergerus. Beliau mengungkapkan pentingnya Pendidikan, Politik, Ekonomi yang disebut sebagai Triple Helix dalam upaya menjaga kedaulatan RI khususnya di daerah perbatasan. SDM yang baik, bila dikelola dengan baik akan menghasilkan keluaran yang baik dan berdampak baik dalam peningkatan martabat bangsa di mata internasional. Sebelum acara berakhir, tim GDN berbagi sedikit pengalaman mereka tentang ekspedisi ke 92 pulau terdepan Indonesia tersebut. Dengan semangat yang berkobar-kobar, kegiatan yang telah direncanakan lima tahun sebelumnya ini, dapat terlaksana dengan baik.

Jayalah Maritim Indonesia!!!

 

Niko Saripson P Simamora

Bandung, 25 Oktober 2010

Advertisements

Keilmuan hidrografi adalah salah satu cabang dari ilmu terpakai yang berkaitan dengan pengukuran dan penjelasan fitur-fitur laut dan wilayah pesisir untuk keperluan pelayaran (utama) dan semua keperluan dan aktivitas kelautan lainnya, termasuk di antaranya aktivitas lepas pantai, penelitian, perlindungan lingkungan, dan pelayanan prediksi. Secara tradisional, hidrografi terbatas pada survey dan pemetaan batimetri (kedalaman) saja. Namun seiring berkembangnya teknologi masa kini, tuntutan terhadap keilmuan hidrografi pun semakin berkembang. Kelompok keilmuan hidrografi pun membangun diri untuk dapat menjadi jawaban atas permasalahan yang timbul di era ini khususnya dalam masalah perairan (danau, sungai, laut dan daerah sekitarnya). Secara khusus, ruang lingkup keilmuan hidrografi menurut standar IHO (International Hydrographic Organization) adalah :

1. Pemetaan Laut

2. Pengelolaan Kawasan Pesisir

3. Survei Seismik Lepas Pantai

4. Survei Konstruksi Lepas Pantai

5. Penginderaan Jauh Kelautan

6. Perairan Pedalaman

7. Militer

Melihat cukup luasnya ruang lingkup dari keilmuan ini, maka tenaga yang dibutuhkan sebagai pemuka-pemuka di bidang tersebut juga tentu tidak sedikit. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa yang berguru di Teknik Geodesi dan Geomatika, sudah sepantasnya kita memiliki kesadaran diri sebagai suksesor para senior kita untuk mengelola bidang tersebut apalagi bila dikaitkan dengan luas perairan Indonesia yang sangat besar ini. Kalau bukan kita, siapa lagi? Inilah yang menjadi tantangan akan keilmuan Hidrografi. Untuk menjawab tantangan tersebut, ada banyak hal yang harus dilakukan. Dalam keilmuan ini, dirumuskan dalam tiga pola pengembangan yang diharapkan mampu menjawab tantangan masa kini. Ketiga hal tersebut antara lain :

1. Pengembangan Keprofesian

Pengembangan Keprofesian ini memang menjadi domain utama keilmuan ini, secara khusus dalam menerapkan aplikasi hidrografi di dalam enam ruang lingkup keilmuan ini (Pemetaan Laut, Pengelolaan Kawasan Pesisir, Survei Seismik Lepas Pantai, Survei Konstruksi Lepas Pantai, Penginderaan Jauh Kelautan, Perairan Pedalaman).

2. Pengembangan Komunitas

Pengembangan Komunitas dapat dilakukan sesama keilmuan Hidrografi, dalam hal ini Masyarakat Hidrografi Indonesia (MHI) untuk level nasional dan International Hydrographic Organization (IHO) untuk level internasional. Pengembangan komunitas juga dilakukan dengan rumpun keilmuan Teknik Geodesi dan Geomatika, dalam hal ini Kelompok Keilmuan Geodesi, Kelompok Keilmuan Survei dan Kadaster, dan Kelompok Keahlian Penginderaan Jauh dan Sains Informasi Geografis. Dan juga pengembangan komunitas dengan lintas keilmuan atau disiplin ilmu lain yang saling mendukung.

3. Pengembangan Inovasi, Sains, Teknologi, dan Seni

– Pengembangan inovasi yang dilakukan dalam menemukan ide-ide baru yang dapat menunjang aplikasi keilmuan ini.

– Pengembangan sains dilakukan berdasarkan teori-teori yang diterapkan khususnya untuk penelitian, misalnya dalam riset-riset yang dilakukan oleh dosen dan dibantu oleh mahasiswa.

– Pengembangan teknologi dilakukan dalam menunjang pekerjaan-pekerjaan yang menuntut efisiensi waktu, biaya, dan tenaga. Misalnya, pengembangan perangkat lunak untuk mempermudah pengolahan data, analisis, dan lain-lain.

– Pengembangan seni berkaitan dengan penyajian produk hidrografi yang bernilai estetis berkaitan dengan kartografi kelautan, seperti peta laut, ENC (Electronic Navigational Chart), ECDIS (Electronic Chart Display & Information System), dan lain-lain. Dari gambaran umum di atas, sudah sepantasnyalah mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika turut berperan dalam menjawab tantangan masa kini secara khusus bagi mahasiswa yang tertarik untuk mengembangkan diri di keilmuan Hidrografi ini.

Jayalah Hidrografer Indonesia!!!