Posts Tagged ‘hidup’

Kecerdasan Bersyukur

Posted: December 31, 2017 in puisi, Uncategorized
Tags: , , ,

Memulai langkah di jalan ketidakpastian
Awal penjelajahan

Diiringi tawa

Disambut ceria

Kadang tangis

Bengis mengiris

Haru biru

Bangga membusung dada

Pun merunduk lesu

Keluh kesah

Untaian syafaat

Dalam semuanya tetaplah berdamai

Akan ada masa

Di ujung perhentian

Apapun kondisi sekeliling

Ucaplah syukur

Belajar terus

Hingga cerdas

Itulah sesungguhnya esensi kebahagiaan

Sidikalang, 31 Desember 2017, 21:52 WIB

Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Ihwal kemunculan di muka bumi dalam erangan

Senyum bahagia para penggembira di sekeliling

Padahal, sejatinya kesakitanlah yang mempeloporinya

Tarikan nafas sedemikian rupa menghasilkan tangisan
Kemudian pertumbuhan membawa kepada kepercayaan diri

Masa keemasan sering menjadi landasan kebenaran

Berbuat sekehendak hanya untuk kepuasan sesaat

Tipu muslihat pun bisa dijadikan alat pemenuhan
Hingga tiba goncangan yang membawa kejatuhan

Ada perasaan takut dan gentar ketika melepas kebergantungan

Tekana mendera, hak terambil meski bukan bagian

Selayaknya itu menjadi puncak dari titik balik

Mengarahkan kembali kepada jalan pembaruan

Dengan perasaan berserah dan bergumul bersamaNya

Akan datang kembali keberdayaan yang hilang 

Dalam sebuah kepenuhan akan pengharapan
Sadar dalam perjalanan akan komitmen

Bandung, 19 September 2017, 11:27 WIB

Niko Saripson P Simamora

PerEMPUan

Posted: April 21, 2016 in puisi, Uncategorized
Tags: , , , ,

Ada sebuah kisah tentang sosok pesona
Hadir di saat Khalik bermesra dengan Adam
Nihil sebuah keinginan dari insan
Hanya kehendak dari Sang Kuasa
Munculnya dia pun diambil dari tubuh fana
Dia bukan yang pertama tapi terutama
Tanpanya, hampa seorang debu perkasa
Dengannya, hidup menjadi semakin berwarna
Jalan-jalannya membawa kepada makna
Kekuatan terasa dalam sentuhan lembutnya
Keberadaanya adalah sumber munculnya bangsa
Meski begitu Ia pun masih bisa tergoda
Dunia terkadang begitu penuh bahala
Jangan pernah menganggapnya hina
Tetaplah memandang kepada asa
Berilah selalu tempat adiratna
Bagaimanapun dia sumber adiwangsa
Engkau sepantasnya disebut Empu
PerEmpuan adalah sebuah muruah
Mari saling menjaga sesama
Kisah ini kisah kita
Pantaslah posisinya menjadi adiluhung

Bandung, 21 April 2016, 21:00, Hari Kartini
Niko Saripson P Simamora

 

“Tutup!”

Teriakan itu muncul dari seorang pemuda di pintu paling belakang bus Trans Jakarta tipe gandeng yang melayani tujuan Grogol-PGC setelah penumpang masuk ke dalam bus. Pemuda itu menggunakan kaos oblong hitam yang polos, celana jins berwarna gelap dan kakinya beralaskan sandal. Bisa dipastikan bahwa si pemuda itu bukan petugas dari bus Trans Jakarta.

Bus pun berjalan di jalurnya, semua orang di dalam seperti pada umumnya hanya berdiam. Sebagian ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang baca koran, ada yang tidur, dan pastinya tidak ada interaksi. Si pemuda yang berdiri di dekat pintu itu memegang batang besi pegangan di pintu tersebut, bahkan ia  memeluk pegangan itu dan merapatkan mukanya ke kaca pintu itu.

“Yang LIPI, Gatot Subroto, persiapan!” terucap teriakan dari si pemuda sambil masih berpegangan pada besi di pintu ketika bus mendekati halte Gatot Subroto-LIPI, “ Yang Gatot Subroto LIPI,” teriaknya lagi.

Ketika bus berhenti di halte Gatot Subroto LIPI, ada satu penumpang yang keluar, sementara si pemuda kembali berteriak,” Gatot Subroto LIPI!”. Melihat tidak ada yang bergerak keluar, si pemuda pun dengan segera berteriak, “Tutup!”

Tepat saat pintu akan ditutup, ada seorang bapak yang baru tersadar bahwa ia harusnya turun di situ. Sebenarnya, si bapak masih punya kesempatan untuk bisa keluar bus dengan segera, namun karena sudah ada sinyal bunyi bahwa pintu akan ditutup, si pemuda pun menghalangi si bapak.

“Maaf, Pak sudahditutup,” ucapnya kepada si Bapak.

Ada kesan kecewa dari si bapak, namun ia cepat menerima kenyataan bahwa si pemuda itu menghalanginya untuk keluar meski ia masih punya kesempatan. Si pemuda pun mengingatkan untuk turun di halte selanjutnya. Si bapak itu orangnya sabar dan bisa menerima.

Bus kembali berjalan menuju halte selanjutnya. Ketika mendekati halte Gatot Subroto Jamsostek, si pemuda kembali teriak,” Persiapan yang Gatot Subroto Jamsostek!”.

Ketika tiba di halte Gatot Subroto Jamsostek, si bapak yang tadi belum keluar pun segera bergegas keluar.  Namun, tidak ada yang penumpang yang masuk dari halte itu. Si pemuda pun cepat berteriak, “Tutup!”, sambil ia melihat ke belakang dari luar pintu. Entah apa yang dia lihat.

Selama bus berjalan menuju halte selanjutnya, si pemuda kembali memeluk besi pegangan di pintu itu. Ia memejamkan mata dan terkadang terlihat mulutnya komat-kamit. Setelah bus akan mendekati halte, si pemuda membuka mata dan kembali berteriak,”Persiapan yang Kuningan Barat! Transit Ragunan Dukuh Atas!”. Ada beberapa penumpang yang turun, namun tidak ada yang naik dari halte itu.

Bus kembali melaju. Ketika mendekati halte Pancoran Barat, si Pemuda kembali berteriak,”Pancoran Barat! Persiapan!”. Saat bus berhenti, Ia akan berdiri persis seperti petugas bus Trans Jakarta. Kakinya akan mengangkang menginjak lantai halte dan lantai bus pada saat bersamaan. Ia memastikan penumpang  yang keluar maupun masuk bus sudah aman, setelah itu ia berteriak, “Tutup pintu!”.

Saat bus sedang melaju, di kursi bagian belakang sempat terjadi keributan antara seorang Bapak yang duduk di bawah dengan seorang pemuda yang duduk di bagian atas. Pasalnya, si bapak merasa si pemuda itu menginjak celana si bapak. Namun, si pemuda membantah karena kakinya tidak bergerak sama sekali. Si pemuda pun menunjukkan posisi kakinya sedari tadi, apalagi ada seorang bapak yang menumpang duduk di tangga untuk mencapai deretan bangku belakang tersebut. Si bapak yang merasa tidak terima dengan jawaban si pemuda, bukan permintaan maaf yang ada malah sikap menantang. Si bapak itu terlihat cepat naik emosinya.

Adu mulut sempat terjadi antara mereka berdua. Si bapak yang awalnya sibuk dengan ponselnya, sempat menyimpan ponselnya dan mengatur gerakan seperti ingin mendatangi si pemuda. Sementara si pemuda dengan gaya menantang tetap duduk santai. Namun, beberapa penumpang mengingatkan untuk saling menahan diri sehingga tidak terjadi keributan yang lebih besar lagi. Sementara si pemuda yang berdiri di dekat pintu tidak terpengaruh dengan keributan tersebut. Ia hanya berdiri, merapatkan badannya di pintu.

Begitulah si pemuda selalu melakukan aktivitasnya seolah-olah menjadi seorang petugas bus Trans Jakarta. Halte Pancoran Tugu, Cawang Ciliwung, dan BNN pun dilewati dengan seperti itu. Ketika memasuki halte UKI Cawang, si pemuda ternyata ikut turun. Lalu keluar halte. Ia memberi salam kepada beberapa petugas di situ. Sepertinya ia cukup familiar dengan para petugas di situ.

Salah seorang petugas Trans Jakarta di halte itu pun bercerita bahwa si pemuda itu bernama Toni. Ia dulu petugas onboard Trans Jakarta. Saat ini ia sudah dikeluarkan karena menderita penyakit jiwa. Ia adalah petugas ketika terjadi kecelakaan penumpang di bus jurusan PGC-Grogol dua bulan lalu. Penumpang itu terjepit saat akan masuk karena pintu segera tertutup, terjatuh lalu kemudian sempat tertabrak bus yang di belakangnya. Itu sebabnya ia masih sering naik bus dan bersikap seperti petugas Trans Jakarta, namun sangat bersikap hati-hati dan mengutamakan keselamatan penumpang. Tapi sayang kondisi psikologisnya tidak memungkinkannya lagi untuk bekerja di Trans Jakarta.

Hidup masih harus terus berjalan.

 

Jakarta, 20 Desember 2015, 18.15

Niko Saripson P Simamora

Kisah Anak Juragan Bus

Posted: June 4, 2014 in cerpen
Tags: , , , ,

Sudah menjadi kebiasaan Jaka, setelah mengantar kekasihnya ke rumah dengan menggunakan taksi, ia akan berganti angkutan tepat di perempatan jalan yang cukup jauh dari rumah kekasihnya itu. Hal itu ia lakukan karena sebenarnya ia tidak menikmati perjalanan dengan menggunakan taksi karena pengatur udara yang membuat ia pusing. Namun, karena ia di dalam bersama kekasihnya, ia melupakan itu dan lebih menikmati berbincang dengan pujaan hatinya itu. Setelah sendiri, ia akan berhenti tepat di tempat bus kopantas biman yang menunggu penumpang, lalu naik ke dalamnya.

Di dalam bus, acapkali ia memperhatikan seorang anak kecil yang ngamen di dalam bus. Sebelum memulai aksinya, anak kecil itu akan membagi-bagikan amplop kepada penumpang yang satu persatu memenuhi bus itu. Setelah itu, ia akan mulai bernyanyi. Nyanyian yang ia dendangkan tidak terlalu terdengar dengan jelas. Ia hanya kelihatan bergumam, sambil sesekali tersenyum mencolek sebagian penumpang yang kemungkinan sudah sering ia lihat di bus itu. Sesudah bernyanyi, ia akan bergerak kembali mengambil amplop-amplop yang ia bagikan sebelumnya. Untuk beberapa penumpang ia seolah memaksa untuk memberikan uang, dan kebanyakan akhirnya memberikan juga. Sementara yang lain, tidak ia lakukan seperti itu.

Kegiatan itu menjadi sebuah hiburan bagi Jaka, sehabis melakukan kebiasaannya mengantar pacarnya. Ia sangat tertarik memperhatikan gerak-gerik anak kecil itu, sambil terkadang membayangkan masa kecilnya dan juga hal-hal lain yang berhubungan dengan dunia anak kecil. Usia anak itu sekitar lima atau enam tahun. Masih sangat belia dan sepantasnya tidak berada di tempat seperti itu sendiri dan mencari uang. Dalam jam-jam seperti itu, anak kecil itu seharusnya ada di rumah dan belajar. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang Jaka bayangkan. Jaka selalu tidak habis pikir akan keadaan itu. Ia pun berusaha sedapat mungkin untuk tidak memberi karena ia menganggap hal itu hanya akan memanjakan dan selanjutnya menjadi sebuah kebiasaan bagi si anak. Jaka pun beranggapan dengan tidak memberi membuat si anak tidak betah dengan keadaan seperti itu sehingga akan mengambil keputusan untuk tidak lagi mengamen. Sebegitu jauh memang pikiran Jaka, si pemuda yang idealis, konservatif dan kaku.

Suatu hari, Jaka kembali dari mengantar kekasihnya dengan taksi dan berhenti tepat di tempat di mana bus kopantas biman menunggu penumpang. Namun, ia cukup terkejut ketika mengetahui bahwa tidak ada bus yang berhenti dan menunggu penumpang. Awalnya Jaka berpikir bahwa kemungkinan bus itu masih belum tiba, sehingga ia berdiri saja menunggu. Setelah setengah jam menunggu, ternyata bus yang ia tunggu-tunggu belum datang juga, sementara sudah cukup banyak penumpang yang menunggu. Satu jam berlalu dan bus pun belum datang.

Beberapa penumpang setia bus itu sudah tampak gusar dan mulai mengeluhkan keadaan itu. Sementara Jaka sebagai seorang pemuda yang sabar kelihatan masih santai saja. Ia masih mengharapkan bus itu akan segera datang. Namun, tunggu punya tunggu tidak datang juga hingga akhirnya seorang Polisi yang sedang beristirahat dari mengatur lalu lintas menghampiri penumpang.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian mungkin sedang menunggu bus kopantas biman yang sering berhenti di sini ya?” tanya Pak Polisi tersebut.

“Iya, iya…” jawab para penumpang.

Jaka pun tak ketinggalan mendekat untuk mendengar informasi dari Pak Polisi tersebut.

“Jadi begini, semua supir dan kondektur yang bekerja untuk perusahaan bus tersebut sedang tidak bekerja karena melayat anak bos mereka yang meninggal tadi pagi. Jadi, bapak ibu sekalian silakan mencari angkutan yang lain” kata Pak Polisi menjelaskan.

Terlihat wajah-wajah penumpang yang bingung dengan penjelasan Pak Polisi tersebut sambil berlalu bubar dari tempat itu. Sebagian lagi ada yang bergumam, mungkin kesal karena sudah menunggu lama. Sementara itu, Jaka terlihat mengerutkan dahi dan tidak berterima dengan penjelasan singkat Pak Polisi tersebut. Ia pun langsung menemui Pak Polisi tersebut.

“Pak, kenapa supir dan kondektur tidak bekerja hanya karena anak bosnya meninggal?” tanya Jaka penasaran.

“Begini mas, kalau mas sering perhatikan, anak kecil yang mengamen di bus, dialah anak bos yang punya perusahaan bus itu” jawab Pak Polisi.

“Hah?Trus Pak?” tanya Jaka lagi.

“Anak itu sebenarnya sudah berumur tiga puluh tahun, tetapi karena menderita sebuah penyakit yang belum diketahui namanya membuat beliau kelihatan seperti anak kecil. Karena mengidap penyakit itu, ia susah bergaul di sekolah dan lingkungannya. Sehingga ia memilih untuk hidup di jalan dan bergaul dengan supir dan kondektur. Karena supir dan kondektur merasa dekat dengan anak itu, mereka rela tidak bekerja hari ini” jawab Pak Polisi dengan jelas.

Jaka terhenyak mendengar cerita Pak Polisi itu. Sambil mengucapkan terima kasih, Jaka berlalu dari Pak Polisi itu. Ia pun berjalan mencari angkutan lain sambil bergumam dalam hati, “Ternyata hidup tidak melulu apa yang tampak di luar”.

 

Jakarta, 4 Juni 2014, 15.30

Niko Saripson Pandapotan Simamora

Kuhidup BagiMU?

Posted: August 7, 2013 in otak atik otak
Tags: , , ,

Sejak pagi hujan mengguyur kota ini. Suasana yang sangat nyaman untuk menyentuh kasur dan larut dalam tidur. Sementara teman-teman masih menikmati saat-saat beristirahat mereka, seperti biasa sehabis sahur, apalagi ini yang terakhir untuk ramadhan tahun ini. Kebetulan saya ikut sahur bersama kali ini, terbangun dan tidak bisa tidur lagi.

Tidak ada semangat mengerjakan apapun. Pekerjaan menumpuk, tapi tak ada niat mengerjakannya. Acara televisi pun tak ada yang begitu menarik. Namun, setelah gonta-ganti saluran, saya berhenti di tayangan langsung sepakbola antara Juventus melawan Inter Milan. Kebetulan saya penggemar klub Juventus, terutama Del Piero kala itu. Jadilah saya menonton bola tapi dengan gaya ogah-ogahan hingga ketiduran di sofa.

Kemudian saya terbangun dan menonton lagi. Lalu beranjak menuju meja kerja untuk menatap komputer dan berniat mengerjakan sesuatu. Banyak rencana yang ingin saya kerjakan, namun semua hanya berputar-putar di kepala saja. Belum banyak yang benar-benar saya kerjakan atau baru hanya mulai mengerjakan tanpa tindak lanjut atau juga memulai saja belum. Oh tidak! Betapa acaknya momen ini. Saya hanya bisa berpikir tanpa berbuat hingga saya berpikir lagi supaya saya tidak berpikir seperti itu demi mencegah stress. Benar-benar acak.

Saya mencoba memutar lagu dan terpasang di sana lagu yang cukup menarik. Potongan liriknya seperti ini, “..kalau kuhidup, kuhidup bagiMu, hatiku tetap, tetap menyembahMu,dst…”. Betapa indahnya lagu tersebut mengalun di telinga saya yang sedang berpikir acak ini. Saat itu, diri saya dibawa kepada perenungan terhadap kata-kata yang terdapat pada lagu tersebut. Ya, saya cukup lama terdiam memasang telinga benar-benar kepada lagu tersebut dan makna yang terkandung di dalamnya.

Kuhidup bagiMU? Ya, sebuah pertanyaan besar bagi saya saat ini. Setelah setahun menyandang gelar sarjana lalu masuk dunia profesional, adakah kuhidup bagiMu? Setelah melewati masa-masa, indah dalam persekutuan dan pergaulan, adakah hatiku tetap menyembahMu? Hujan ini menjadi pengguyur jiwa yang sedang kering, membasahi ruang-ruang yang mulai tandus, dan tanda bahwa Dia hadir setiap saat.

“Ya Allahku, jadilah kehendakMu dalam hidupku, ajarlah ku mengerti jalan-jalanMu sehingga aku bisa hidup bagiMu. Amin”

Balikpapan, 7 Agustus 2013, 10.47 WIB

Niko Saripson Pandapotan Simamora

Cerita Peri*

Posted: January 31, 2013 in puisi
Tags: , ,

 

Matahari berpijar

Menghantar cahaya

Memberi hangat

 

Air mengalir

Merintis jalur

Membawa segar

 

Pohon bertumbuh

Menembus tanah

Menyalur udara

 

Emas berkilau

Menempuh api

Menambah megah

 

Garam menggumpal

Merebah beku

Menawar hambar

 

Alam bercerita

Menyusun cara

Seberinda memberi

 

Hidup memberi

Mengurangi diri

Melupakan diri

 

*peri = hal, sifat, keadaan

Bandung, 31 Januari 2013, 10.27

Niko Saripson P Simamora