Posts Tagged ‘hujan’

Aku terhilang dalam hujan
Awan menelan energiku

Harapanku padamu oh matahari
Kehangatanmu sumber tenagaku

Angin turut mengusik impianku
Mengapa mengganggu nyamanku

Aku kembali dalam pelukan
Teduh mendekap jiwaku

Cium mesra penuh kasih
Melewatkan andil pengacau

Mereka tak berarti bagiku
Aku hanya untukmu

Ternyata…

Bandung, 5 Maret 2017, 01:12
Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Hujan Medio Desember

Posted: December 18, 2015 in puisi
Tags: , , , ,

Tanah itu sudah cukup kering

Debunya sering menebar berita

Kerontangnya sudah melewati ambang

Suasananya sudah hambar seperti tanpa asa

 

Kala sosok hendak melimpas sedikit leding

Seolah menyapu sedikit abu berhambur sempurna

Sehingga pandangan mata terasa kembali lapang

Senyum pun bisa kembali merekah lega

 

Sayangnya itu tidak pernah berlangsung

Persoalan natural adalah otoritas penguasa

Alam akan memberi jawaban supaya tenang

Kudeta akan hal itu hanya memberi sesak dada

 

Hujan medio Desember menjadi pelaku ulung

Pembuat solusi yang paling agung dan utama

Menyapu semua kegelisahan yang menggantung

Menitipkan kepada insan sebuah tangis ataupun tawa

 

Tangis atau pun tawa demi sebuah kenangan

Semuanya demi kebaikan semua makhluk

Ah! Hujan Medio Desember

 

Jakarta, 18 Desember 2015-12-18, 15:30

Niko Saripson P Simamora

 

Kuhidup BagiMU?

Posted: August 7, 2013 in otak atik otak
Tags: , , ,

Sejak pagi hujan mengguyur kota ini. Suasana yang sangat nyaman untuk menyentuh kasur dan larut dalam tidur. Sementara teman-teman masih menikmati saat-saat beristirahat mereka, seperti biasa sehabis sahur, apalagi ini yang terakhir untuk ramadhan tahun ini. Kebetulan saya ikut sahur bersama kali ini, terbangun dan tidak bisa tidur lagi.

Tidak ada semangat mengerjakan apapun. Pekerjaan menumpuk, tapi tak ada niat mengerjakannya. Acara televisi pun tak ada yang begitu menarik. Namun, setelah gonta-ganti saluran, saya berhenti di tayangan langsung sepakbola antara Juventus melawan Inter Milan. Kebetulan saya penggemar klub Juventus, terutama Del Piero kala itu. Jadilah saya menonton bola tapi dengan gaya ogah-ogahan hingga ketiduran di sofa.

Kemudian saya terbangun dan menonton lagi. Lalu beranjak menuju meja kerja untuk menatap komputer dan berniat mengerjakan sesuatu. Banyak rencana yang ingin saya kerjakan, namun semua hanya berputar-putar di kepala saja. Belum banyak yang benar-benar saya kerjakan atau baru hanya mulai mengerjakan tanpa tindak lanjut atau juga memulai saja belum. Oh tidak! Betapa acaknya momen ini. Saya hanya bisa berpikir tanpa berbuat hingga saya berpikir lagi supaya saya tidak berpikir seperti itu demi mencegah stress. Benar-benar acak.

Saya mencoba memutar lagu dan terpasang di sana lagu yang cukup menarik. Potongan liriknya seperti ini, “..kalau kuhidup, kuhidup bagiMu, hatiku tetap, tetap menyembahMu,dst…”. Betapa indahnya lagu tersebut mengalun di telinga saya yang sedang berpikir acak ini. Saat itu, diri saya dibawa kepada perenungan terhadap kata-kata yang terdapat pada lagu tersebut. Ya, saya cukup lama terdiam memasang telinga benar-benar kepada lagu tersebut dan makna yang terkandung di dalamnya.

Kuhidup bagiMU? Ya, sebuah pertanyaan besar bagi saya saat ini. Setelah setahun menyandang gelar sarjana lalu masuk dunia profesional, adakah kuhidup bagiMu? Setelah melewati masa-masa, indah dalam persekutuan dan pergaulan, adakah hatiku tetap menyembahMu? Hujan ini menjadi pengguyur jiwa yang sedang kering, membasahi ruang-ruang yang mulai tandus, dan tanda bahwa Dia hadir setiap saat.

“Ya Allahku, jadilah kehendakMu dalam hidupku, ajarlah ku mengerti jalan-jalanMu sehingga aku bisa hidup bagiMu. Amin”

Balikpapan, 7 Agustus 2013, 10.47 WIB

Niko Saripson Pandapotan Simamora