Posts Tagged ‘kekuasaan’

Betapa beruntung nasib seorang Ester ketika Raja Ahasyweros-raja atas seratus dua puluh tujuh daerah dari India sampai Etiopia- mengangkatnya menjadi ratu menggantikan Ratu Wasti yang dilengserkan dari permaisuri hanya karena menolak menaati titah raja, yang bila dipikir-pikir cukup sederhana. Bila dibandingkan saat ini, mungkin ratu itu habis diolok-olok oleh perempuan lain di lingkungan kerajaan padahal hanya diminta ‘tepe-tepe’ oleh Raja Ahasyweros.

Bila diperhatikan, hal itu menjadi sebuah sindrom kekuasaan pertama yang muncul di kalangan istana. Raja dengan segala kekuasaannya memiliki kewenangan yang tak terbatas atas segala hal, selama itu di daerah kekuasaannya. Di lain sisi, Ratu Wasti pun tak mau kalah. Emang lu aja yang bisa berkuasa, Gua juga pengen. Mungkin itu yang mendasari beliau tidak menghiraukan titah sang Suami.

Raja atas bisikan dari pembesar-pembesar yang juga memiliki sindrom kekuasaan akhirnya membuang sang ratu. Tragis sekali. Kecenderungan manusia memang selalu ingin menampilkan kekuasaannya, apalagi laki-laki. Jadilah Raja Ahasyweros tanpa permaisuri, sehingga sesuai pesan dari pembesar-pembesar, diadakanlah sayembara untuk mencari perempuan-perempuan tercantik yang beruntung dari seluruh negeri untuk dijadikan Ratu.

Berita itu santer hingga ke telinga Mordekhai, orang buangan dari Yerusalem yang tinggal di sekitar Benteng Susan. Ia pada waktu itu mengasuh Hadasa, anak saudara ayahnya yang sudah yatim piatu. Ester, sebutan lain Hadasa, adalah seorang yang elok perawakannya dan cantik parasnya. Ia pun turut sayembara dan mengikuti prosedur yang ada. Dalam pada itu, Mordekhai senantiasa mendukung dengan berjalan tiap-tiap hari dari depan istana untuk mengetahui keadaan jagoannya itu.

Ester menjadi seorang ratu, namun Ia tetap menghargai Mordekhai sebagai ayah angkatnya. Mordekhai pun begitu, tidak serta merta merasa dekat dengan lingkaran kekuasaan. Bahkan mereka masing saling kontak, begitupun ketika Mordekhai mengetahui persekongkolan untuk membunuh raja. Mereka bekerja sama secara apik. Ester menjadi informan kepada raja, Mordekhai pun tidak serta merta merasa sok pahlawan.

Sindrom kekuasaan kemudia terpancar dari Haman, pembesar yang dinaikkan pangkatnya oleh raja pada saat itu sudah mengetahui keberadaan Mordekhai  dan bangsanya. Sindrom kekuasaan memang dipengaruhi  oleh motif pribadi. Ia kemudian melapor kepada raja dan ingin memunahkan mereka. Mordekhai tak punya kuasa menghadapinya, ia pun hanya bisa berkabung dan diikuti oleh bangsanya sehingga kedengaran kepada Ratu Ester.

Dengan segala upaya, Ratu Ester memanfaatkan kekuasaannya untuk sebesar-besar keselamatan bangsanya. Inilah sindrom kekuasaan yang positif. Kekuasaan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kesejahteraan banyak orang. Pada akhirnya, kekuasaan yang dimanfaatkan dengan benar memberikan kemenangan kepada semua orang. Haman pun harus mati di tempat penyulaan yang disediakannya untuk Mordekhai. Di lain sisi, Mordekhai semakin dihormati bahkan diberikan ‘bintang mahaputra adipradana’ oleh Raja Ahasyweros. Menarik sekali bukan?

 

Jakarta, 26 Juni 2013, 18.50

Niko Saripson P Simamora

Diadaptasi dari Ester 1-10

 

Advertisements

Candu Kekuasaan

Posted: January 10, 2013 in puisi
Tags: , , , ,

Manis madu semua tahu

Datangnya dari sarang pemadu

Memberi nikmat tak terseru

Walau diri diperangkap nafsu

 

Manis anggur semua setuju

Datangnya dari pokok yang jitu

Diolah disimpan seru

Membawa diri dirasa rayu

 

Enak susu berasa seru

Memberi energi beradu

Layaknya satria berpedang setiabu

Berharap sujud setiap suku

 

Manis madu adalah candu

Manis anggur adalah candu

Enak susu adalah candu

Kekuasaan adalah candu

 

Bandung, 10 Januari 2013, 15.00

Niko Saripson P Simamora