Posts Tagged ‘kepemimpinan’

Sebelum membahas lebih dalam tentang pemimpin muda, perlu disepakati terlebih dahulu bahwa yang dimaksud pemimpin muda di sini adalah pemimpin maupun tokoh-tokoh yang sudah cukup dikenal secara nasional dengan rentang usia di bawah lima puluh tahun. Klasifikasi ini hanya didasarkan bahwa rentang usia tersebut secara umum menjadi puncak karier seseorang untuk berkarya dan masih jauh dari umur pensiun.

Jumlah pemimpin muda kini semakin meningkat, dari kalangan pejabat daerah hingga pentas politik nasional kini sudah mulai memunculkan wajah-wajah muda. Kemunculannya pun sangat menarik, karena berasal dari beragam latar belakang yang menunjukkan bahwa semua bidang saat ini sedang diwabahi sindrom pemimpin muda. Pemimpin muda sejauh ini dianggap bersih, enerjik, dan membawa perubahan. Golongan muda semakin tumbuh mekar, golongan tua mulai ditinggalkan.

Bila dirinci sedikit, mekarnya pemimpin muda dapat kita lihat mulai dari munculnya pucuk pimpinan partai secara nasional, diikuti dengan sesama pemimpin muda yang mengisi pos legislatif, lalu merambah ke dunia eksekutif di daerah yang diisi wajah-wajah muda juga memunculkan menteri-menteri muda di pusat bahkan ada yang belum menginjak usia empat puluh tahun ketika diangkat menjadi menteri, dunia kampus pun turut terstimulasi dengan munculnya dekan dan rektor muda, dunia bisnis pun tak mau ketinggalan. Kalangan muda saat ini tidak sebatas pada low management atau mentok di middle management, tetapi sudah merambah top management.

Kepemimpinan muda bukan produk baru yang dihembuskan akhir-akhir ini. Bahkan bila dirunut ke belakang, sejarah bangsa ini sendiri pun pernah menuliskannya. Bung Karno menjadi Presiden pertama negeri ini pada usia 44 tahun dengan wakilnya, Bung Hatta berusia 43 tahun menjadikan mereka masuk sebagai bagian dari presiden dan wakil presiden termuda di dunia. Begitupun Adam Malik, menjadi salah satu perdana menteri termuda di dunia ketika diangkat pada usia 44 tahun. Panglima Perang Indonesia pernah dijabat oleh Jenderal Besar Soedirman ketika masih berusia 23 tahun. Jelaslah bahwa kebutuhan pemimpin muda sejak dulu hingga sekarang bahkan untuk masa depan akan terus didambakan kehadirannya.

Kenyataan di atas seharusnya dapat dijadikan perbandingan dengan keadaan saat ini. Kepemimpinan muda saat ini masih menyisakan tanda tanya besar akan kualitas dan keandalannya. Bila masa lampau, tokoh-tokoh tersebut telah membuktikan kualitas dan keandalannya, bahkan cita rasanya masih dibawa-bawa hingga sekarang sebagai bumbu utama oleh beberapa kalangan untuk menarik simpati publik. Sementara cita rasa kepemimpinan sekarang belum terasa sedapnya, bahkan sudah mulai dimuntahkan ketika baru beberapa saat saja mencicipinya.

Keberadaan wajah-wajah muda yang muncul kini sudah ramai berurusan dengan penegak hukum. Hal ini menjadikan prestasi-prestasi yang sebelumnya diraih seolah menjadi garam tawar yang kehilangan rasa. Hambar. Maraknya kasus yang menyertakan pemimpin-pemimpin muda, dari kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelecehan terhadap kaum lemah dan masih banyak kasus lain yang belum terekspos dan ditutup-tutupi bisa memunculkan pesimisme baru bahwa kaderisasi kepemimpinan belum menunjukkan hasil yang baik.

Kualitas kepemimpinan muda saat ini akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuknya. Keberadaan golongan-golongan tua pun tidak bisa diabaikan bahkan perlu disoroti ketika melakukan kaderisasi kepemimpinan. Nilai kepemimpinan apa yang diturunkan oleh para pemimpin pendahulu dan keteladanan apa yang bisa diambil dari mereka merupakan faktor yang mempengaruhi kepemimpinan saat ini. Bila masalah-masalah klasik seperti yang  telah disebutkan di atas yang justru subur dibandingkan gebrakan-gebrakan perubahan, maka golongan tua harus terbuka dan mau bertanggung jawab akan hal tersebut sambil berusaha untuk tetap memberikan teladan-teladan yang positif.

Cermin kepemimpinan masa lalu yang buruk harus menjadi bahan pelajaran seluruh elemen masyarakat. Bila selama ini, kepemimpinan buruk dianggap bersumber dari sistem yang buruk, sudah saatnya bahwa kepemimpinan harus dikembalikan ke rel sesungguhnya yaitu untuk menjadi pelayan dan memunculkan pemimpin-pemimpin baru yang progresif. Lagu lama mengatakan bahwa ‘guru harus lebih pintar dari murid’ harus diubah menjadi ‘guru harus menjadikan murid lebih pintar dari dirinya’ yang dalam hal ini bahwa kepemimpinan harus menghasilkan bibit-bibit yang berbuah lebih banyak dan lebih manis.

Muncullah kiranya Pemimpin Muda yang bernasib baik.

 

Bandung, 9 Desember 2012, 15.34

Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Berkaca dari keberadaan orang-orang di sekeliling kita, tentunya memiliki sedikit banyak pengaruh dalam diri kita masing-masing. Dengan kata lain, kita akan cenderung mengadopsi gaya hidup orang lain yang menurut kita baik dan membuang jauh-jauh hal yang lagi-lagi menurut kita kurang baik. Ya, setiap pribadi adalah pemimpin setidaknya untuk dirinya sendiri dan prinsip kepemimpinan adalah pengaruh, walaupun dalam lingkup yang kecil.

Berbicara tentang gaya hidup, pertama-tama dibentuk dalam keluarga lalu kemudian lingkungan-lingkungan yang lain mengikutinya. Keluarga sebagai lembaga dasar pembentukan manusia dasar sebelum terjun ke dalam lingkup pergaulan di luar keluarga. Pengaruh ayah dan ibu tentunya menjadi pembentuk dasar setiap anak, entah itu besar atau kecil, sadar maupun tak sadar. Setelah itu, baru kemudian lingkungan yang mempengaruhi. Lingkungan, dalam hal ini, akan banyak ragamnya. Pertama-tama lingkungan tempat tinggal, sekolah/kampus, klub hobi, kantor, gereja, masjid, dan lain-lain.

Penerapan gaya hidup yang kita terima dari orang lain terkadang terjadi pertukaran yang mungkin tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Contohnya, ketika kita melihat bagaimana seorang anak pengusaha yang sudah barang tentu memiliki kecukupan atau bahkan kelebihan materi akan cenderung memiliki gaya hidup yang mewah, terlihat dari cara berpakaian, kendaraan yang dipakainya, peralatan komunikasi yang dipakainya, dan sebagainya. Kita bandingkan dengan seorang anak sederhana dari kabupaten dengan kemampuan materi orangtuanya yang pas-pasan, gaya hidupnya pun tidak akan mewah. Nah, ketika kedua orang tersebut bergaul dekat, secara sadar maupun tidak, akan terjadi pertukaran pola pikir. Dikarenakan keduanya saling ingin menunjukkan rasa empati. Sederhananya, si anak kaya akan cenderung untuk memilih pola hidup sederhana dan si anak sederhana dengan segala daya upaya berusaha menampilkan diri terlihat mewah. Hal ini memang tergolong kasuistik, namun acapkali terjadi.

Berdasarkan kasus di atas, terjadinya perubahan pola pikir tersebut akan mempengaruhi kehidupan masing-masing ke depan. Si anak kaya bisa dikatakan mudah untuk menjadi orang yang sederhana, karena hanya butuh menurunkan standar hidupnya. Namun bisa berbeda dengan si anak sederhana, yang dengan susah payah harus menaikkan standar hidupnya dengan hal-hal yang pas-pasan. Saya ingatkan kembali bahwa ini adalah hal yang kasuistik. Oleh karena itu, bila dilihat dampak ke depan dalam masing-masing kehidupannya, si anak kaya menjadi positif dan si anak sederhana terkesan negatif.

Sebaiknya seperti apa, sih? Menurut saya, baiklah masing-masing hidup dalam standar hidup yang cukup baginya. Pertama-tama, usahakan jangan terpengaruh dengan gaya hidup yang menekankan materi. Yang kedua, bila materi kita memang memungkinkan untuk memiliki gaya hidup di atas standar, silakan saja asalkan tetap memiliki batas hingga tidak terkesan berfoya-foya. Dan saya ingatkan kembali, bahwa pemahaman yang benar akan rasa cukup membawa kita kepada kehidupan berkelimpahan, penuh syukur dan tanpa iri hati. Lihat gaya hidupmu, kawan!

Ruang Hidrografi Lantai 4, Labtek IX-C, ITB,

7 Mei 2012, 00.37, Niko Saripson P Simamora