Posts Tagged ‘merdeka’

Derma Merdeka

Posted: August 17, 2017 in puisi
Tags: , , ,

Perjalanan kemerdekaan

Membawa sorak kemenangan

Segenap rakyat mendambakan 

Keadilan dan kebahagiaan
Tak mudah menggapai

Cita-cita pasca proklamasi

Menjangkau semesta negeri

Tanpa sesuatu yang abai
Seruan yang memekik

Akan selalu menggertak

Sadar dan tergelitik

Untuk memberi dobrak
Teruslah membawa motto

Menderma andil ke seantero

Memanfaatkan sisa tempo

Merdeka yang tak kunjung kuno

Pangalengan, 17 Agustus 2017, 12:39 WIB 

Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Derma Merdeka

Posted: August 17, 2017 in puisi
Tags: , , ,

Perjalanan kemerdekaan

Membawa sorak kemenangan

Segenap rakyat mendambakan 

Keadilan dan kebahagiaan
Tak mudah menggapai

Cita-cita pasca proklamasi

Menjangkau semesta negeri

Tanpa sesuatu yang abai
Seruan yang memekik

Akan selalu menggertak

Sadar dan tergelitik

Untuk memberi dobrak
Teruslah membawa motto

Menderma andil ke seantero

Memanfaatkan sisa tempo

Merdeka yang tak kunjung kuno

Pangalengan, 17 Agustus 2017, 12:39 WIB 

Niko Saripson P Simamora

Pekik merdeka membahana
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Kemerdekaan mengangkat derajat
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Merdeka karena dibenarkan
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Jangan nodai kemerdekaan
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Bangsaku insan yang merdeka
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Junjung tinggi derajat merdeka
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Kebenaran adalah kemerdekaan hakiki
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Kebenaran demi kemerdekaan
Kemerdekaan untuk kebenaran
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Niko Saripson P Simamora,
Cipularang, 17 Agustus 2016, 07:10

 

Tidak terasa, umur kemerdekaan bangsa ini sudah mencapai usia ke-67. Kalau di lingkungan kepegawaian, usia ini sudah lama pensiun bahkan lebih dari satu dekade. Namun, dalam lingkungan pendidikan tinggi dengan gelar guru besar, usia ini masih dalam aktif hingga tiga tahun ke depan. Hal ini menurut saya adalah sebuah penghargaan atas jasa-jasa guru besar dan dirasakan masih perlu untuk tetap berbagi ilmu. Pertanyaannya sekarang, bangsa ini adalah bangsa yang sudah lama pensiun atau masih aktif karena dirasakan perlu? Entahlah. Jawaban pertanyaan ini adalah beban semua penghuni negeri ini tanpa terkecuali, namun sebagian besar mata akan mengarah kepada pemegang mandat rakyat saat ini.

Dalam pidatonya, Bung Karno mengibaratkan kemerdekaan sebagai sebuah “jembatan emas” dengan harapan ketika dengan bangga melewatinya, di seberangnya terjadi perubahan ke arah yang lebih baik. Sederhananya, ketika melewati “jembatan emas” tersebut, status bangsa ini sudah terangkat dari budak menjadi layaknya pembesar dengan tingkat kehidupan yang lebih baik. Namun, ada hal lain yang diingatkan Bung Karno, bahwa perjuangan melawan penjajah dengan segala pengalaman heroik tidak sebanding dengan perjuangan menjaga kemurnian emas si jembatan tersebut. Ibarat kata, perjuangan melawan orang lain sudah berakhir sedangkan perjuangan melawan diri sendiri tidak akan pernah berakhir.

Di tengah-tengah semangat kemerdekaan, tidak tertutup adanya kemungkinan penyalahgunaan. Ya, perjuangan melawan diri sendiri akan selalu menjadi perjuangan bangsa ini. Banyak orang tahu dan bahkan menyaksikan “jembatan emas” sedikit demi sedikit dibongkar dan diganti dengan imitasi, seolah-olah lumrah karena yang mengganti adalah bangsa sendiri dan tidak tertutup kemungkinan adalah segelintir orang yang awalnya hanya dititipkan mandat untuk mengurus operasional perawatan jembatan itu. Toh, “jembatan emas (imitasi)” itu masih berdiri dan dapat disaksikan keberadaannya.

Si guru besar memang akan pensiun, namun tidak untuk bangsa ini. Terlalu remeh bagi bangsa sebesar ini untuk disebut sebagai negara gagal. Terlalu bodoh negeri ini kalau harus menjadi korban kerakusan segelintir “tikus-tikus” haus kekuasaan. Saatnya merawat kembali “jembatan emas” semurni-murninya demi warisan kepada generasi di depan. Masa depan hanya butuh cerita, masa lalu yang merangkainya. Belum terlambat, mari merangkai cerita demi tatapan senyum di masa depan.

 

Bandung, 15 Agustus 2012, 12.55

Niko Saripson P Simamora

–menuju Indonesia merdeka ke-67

Sebuah Puisi

Posted: February 3, 2012 in puisi
Tags: , , , , , , ,

Merdekaku, Merdekamu

Bambu runcing, darah mengucur

Tak kenal takut menghantam mara

Demi merdekaku, demi merdekamu

 

Tak pandang ningrat

Tak pandang urat

Hanya satu semangat

Demi merdekaku, demi merdekamu

 

Merajut mimpi

Menyambut asa

Tanpa hiraukan nyawa

Demi merdekaku, demi merdekamu

 

Segala sesuatu menjadi satu

Tidak ada yang tabu

Demi merdekaku, demi merdekamu

 

Adakahku rasa merdekaku itu?

Adakahkau rasa merdekamu itu?

 

Kau rusak mimpiku

Kau tak hirau darahku

Hanya ingin merdekamu saja

 

Apa maksudmu?

Kau bawa egoismemu?

Siapa menyuruhmu?

 

Adakah kau tahu,

Khalik itu satu?

Perbedaan itu saru?

 

Kenapa kau kacau?

Kenapa kau halau?

Hanya karena kebodohanmu

 

Saatnya kembali menjadi satu

Kurasakan merdekaku

Kaurasakan merdekamu

Kita sama-sama merdeka

 

Oleh :

Niko Saripson P. Simamora