Posts Tagged ‘pesan’

Galah panjang telah tergelar

Di tengah arena luas terbentang

Petak-petaknya pertanda tantang

Kepada siapa yang gemar

 

Gertakan datang menghadang

Penantang harus petah berpikir

Menerjang lintang dengan lancar

Menahan diri membeka tenang

 

Seolah menanti kelak menyerang

Menahan langkah dengan tegar

Menghela nafas menyambut segar

Segera merengkuh momen menang

 

Seakan sangar bertindak barbar

Melalui rintang dengan garang

Menembus hembusan sepoi alobar

Sesaat kemudian bersorak girang

 

Bandung, 30 Juni 2016, 19:30

Niko Saripson P Simamora

 

Ke-aku-an

Posted: July 1, 2014 in Uncategorized
Tags: , , ,

“….dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri…”

-sebuah pesan dari Paulus dan Timotius-

Pesan di atas sangat mudah untuk dikatakan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Kecenderungan manusia saat ini adalah aku, aku dan aku. Ke-aku-an tentu mengutamakan kepentingan sendiri di atas orang lain. Ke-aku-an menimbulkan sebuah bahaya yang luar biasa, yaitu menganggap orang lain sebagai pelengkap untuk menyempurnakan hal-hal yang berkaitan dengan aku. Pesan Paulus dan Timotius di atas menjadi sebuah pesan yang ingin mendobrak ke-aku-an. Tanpa menjelaskan banyak hal tentang ke-aku-an, Paulus dan Timotius secara langsung menyerang ke-aku-an dengan sebuah syarat yang lagi-lagi sulit untuk dilakukan yaitu, rendah hati.

Untuk melakukan hal itu, tentu si aku tidak bisa mengandalkan kekuatan diri sendiri. Namun, jangan kuatir, ada kekuatan di luar diri si aku yang memungkinkan hal itu bisa dilakukan. Kekuatan dari Allah melalui Roh-Nya itu yang akan memampukan aku. Kekuatan itu tentunya tidak akan ada ketika aku tidak memanfaatkannya. Jadi, aku harus memiliki kemauan untuk memanfaatkannya dengan mengambil sebuah keputusan. Keputusan itu diambil dengan kesadaran penuh dan nantinya memampukan si aku, bahkan terkadang di saat aku merasa tidak mampu pun aku akan dimampukan.

Mengutamakan ke-aku-an terkadang terjadi tanpa kesadaran, sementara mengikisnya perlu kesadaran penuh. Oleh karena itu, sadarkanlah diri saat ini untuk terus-menerus mengambil keputusan ketika posisi si aku sudah mulai muncul. Dengan mengurangi ke-aku-an, muncullah kebersamaan yang menimbulkan kebahagiaan bagi orang lain.

 

 

 

 

 

Asa Sehasta Paksa Sedepa

Posted: May 29, 2013 in puisi
Tags: , , , , ,

Jalan itu sempat temaram

Nyaris nirsurya membenam asa

Segala daya seakan lebam

Tiada kata menyirat makna

 

Itu butuh interval masa

Memberi makna hati geram

Semua hendak dibumbu upaya

Tanpa berharap Khalik alam

 

Sejenak mentari menganggar hawa

Panas dibawa dalam suka

Jalan terasa enteng dikelana

Serasa tanah dalam kuasa

 

Sedikit yang mengerti asa

Kala berharap ke Pencipta

Sehasta sudahlah memadai

Jangan dipaksa hendak sedepa

 

Namun di balik nirwana

Setiap alpukah niscaya dirasa

Berjalan bersama lentera jiwa

Dibimbing sehasta melampau depa

 

Ragunan, Jakarta, 29 Mei 2013, 23.45

Niko Saripson P Simamora

Sore itu, langit cukup cerah dan cuaca pun bersahabat untuk keluar rumah (baca: kosan orang yang saya tumpangi 🙂 ). Setelah sepanjang hari mendekam di kosan untuk melawan rasa pusing di kepala dengan bantuan sebutir tablet mengandung paracetamol keluaran sebuah perusahaan farmasi yang berpusat di kota ini, Bandung. Udara di luar rumah terasa lebih segar, suasana terasa lebih hangat, pemandangan lebih menarik (tentu anda mengerti pemandangan seperti apa 🙂 ).

Perjalanan diawali dengan ketidakpastian arah tujuan. Tentu saja. Tidak ada perencanaan sebelumnya, namanya juga mau raun-raun alias seputaran alias jalan-jalan santai. Melewati Monumen Perjuangan, terasa ramai karena ada acara pameran bisnis. Sepintas timbul pemikiran untuk memulai bisnis, dimotivasi lagi dengan ada beberapa teman yang sudah merintis bisnis dan mulai berkembang. Pemikiran tersebut berlalu seiring langkah kaki beranjak menuju tempat lain.

Kali ini, kaki terhenti di kawasan hiburan pendidikan (terjemahan dari sebuah tempat di pagargunung). Buku. Ya, tempat itu dipenuhi buku, terutama buku-buku lama yang bila sepintas dilihat sangat menarik. Sangat menarik berarti setiap melihat satu buku timbul keinginan untuk membacanya, namun terpintas lagi buku lain, timbul lagi keinginan membaca, begitu seterusnya. Sangat menarik bukan?hehe. Tidak terasa sejam berlalu hanya berkutat di dinding buku(setiap dindingnya disandarkan lemari buku). Keinginan hati ingin meminjam banyak buku, namun setelah dipikir-pikir, belum tentu semua akan dibaca mengingat jadwal yang sudah tidak teratur alias serba dadakan.

Langkah kaki beranjak meninggalkan tempat itu berjalan menuju arah yang belum terpikirkan hingga tidak sengaja perhatianku tertuju kepada pedagang helm di tepi jalan yang sedang membenahi barang dagangannya untuk disimpan dalam sebuah mobil pengangkut barang berbak terbuka. Bukan orangnya yang menarik perhatianku, pun bukan mobil pengangkut barangnya, apalagi harga helmnya. Nah benar! Helmnya menarik perhatianku.

Ada berbagai macam jenis helm, dapat dibagi berdasarkan harganya, modelnya, kualitasnya, dan lain-lain (yang saya tidak tahu lagi). Saya memandang helm itu sebagai sebuah pola pikir. Ketika kita melihat-lihat helm mana yang menarik kita akan mencobanya sambil bercermin mungkin atau bertanya kepada penjualnya ataupun hanya merasa-rasakan kalau helm itu nyaman atau tidak. Terpikirkan olehku ketika kita juga mengadopsi pola pikir, kita akan memilah dan kemudian memilih mana yang cocok bagi diri kita. Yang menjadi perhatian adalah dari segi mana kita merasa nyaman dan cocok dengan “helm” (baca:pola pikir) tersebut.

Imajinasiku mengangkasa jauh menerawang ke area yang aku pun tidak mengerti kenapa bisa mengarah ke situ. Sambil menyentuh-nyentuh kepala, aku membayangkan sedang memakai “helm” siapa? “Helm” yang aku pakai sekarang masih standar kah atau sudah mulai tergerus pola-pola helm lain yang sejauh ini cukup mempengaruhiku. “Helm” dunia acapkali kugunakan ketika aku tahu bahwa ada “helm” ilahi yang standarnya paling tinggi melampaui semua standar “helm” yang ada di dunia. “Helm” ilahi itu memang kadang tidak menarik, tidak modis, warnanya norak, dsb. Tapi satu hal, “helm” itu paling kuat menjaga kepala agar tetap aman. Nah, sekarang helm siapa yang kau pakai? (sambil tunjuk hidung sendiri).

Bandung, 6 Mei 2013, 13.15

Niko Saripson P Simamora

 

Sekitar siang hari, kurang lebih penunjuk waktu berada di area puncaknya, sebagai seorang man in waiting (dalam dunia kerja) tidak banyak kegiatan yang dilakukan, hanya sekedar bersih-bersih dan merapikan pakaian dengan setrika. Tetiba, telepon genggam berdering dan muncullah nama Pak Alamta.

“Halo, Niko.”

“Iya, Pak.”

“Kamu lagi di mana?”

“Lagi di kos, Pak.”

“Ada kegiatan hari ini?”

“Tidak, Pak.” (*dalam hati : sebenarnya ada,tapi konyol kalau bilang, “lagi menyetrika, Pak.”)

“Kamu bisa ke kampus jam 1-3 siang ini, saya akan menyampaikan materi di ruang 9232 dalam acara penerimaan mahasiswa baru. Kamu bisa datang kan, sudah lama juga kita tidak ketemu.”

“Oh, bisa Pak. “

“Oke sampai ketemu,ya.”

“Oke, Pak.”

Tanpa berpikir panjang, saya rapikan pekerjaan saya dengan cekatan dan langsung menghubungi saudara rohani saya, Abram Christopher Sinaga Sinraya, si mantan menteri kajian strategis KM ITB. Awalnya ia seperti ogah-ogahan, tetapi tidak sampai menolak. Kami pun berjanji untuk bertemu di perpustakaan pusat ITB.

Lalu kami masuk ke ruangan di mana Pak Alamta sudah mulai berbicara tentang dinamika kehidupan mahasiswa Kristen di ITB. Kami duduk paling depan bersama ratusan mahasiswa baru turut menyimak paparan dari Pak Alamta hingga di akhir sesi Pak Alamta mengundang saya dan Abram untuk tampil ke depan dan memperkenalkan diri serta menyampaikan sedikit pesan kepada mahasiswa baru.

Satu pesan yang saya sampaikan adalah bahwa ”zaman berubah, teknologi berubah, manusia berubah, tetapi Tuhan Yesus tidak berubah, Dia adalah jawaban bagi setiap permasalahan manusia”. Pesan ini tidak terpikirkan sebelumnya karena kami menyampaikan secara spontan. Namun selain untuk mahasiswa baru, pesan ini juga menjadi penguat bagi saya dan siapapun yang percaya akan hal tersebut.

Selamat Datang Mahasiswa Baru!

 

Bandung, 29 Juli 2012

Niko Saripson P Simamora