Posts Tagged ‘puisi’

Terjebak dalam Nasihat

Posted: September 6, 2017 in puisi, Uncategorized
Tags: , , ,

Sejawat membangun sebuah kebersamaan

Dengan harapan berarah sejalan

Hingga seketika masuk dalam jebakan

Terjerat lidah menebar ketidaksepahaman

 

Maka bersikaplah meniru pahlawan

Tanpa banyak pikir mengurai pertimbangan

Mendesak demi sebuah permakluman

Gigih dan bijak melahirkan pengertian

 

Mengambil langkah meski sendirian

Bangkit dari goda perbaringan

Nikmatnya memang harus dilawan

Serbuan kepapaan jadi terhindarkan

 

Menjauhlah mulut penebar keserongan

Engkau tenang dengan rencana pertengkaran

Menuntun langkah mengarung kebinasaan

Tak kekal peranmu, mudah diremukkan

 

Akan perkara kekejian tak sudi diidamkan

Segenap raga mengerjakan kepicikan

Semburan dustamu untuk kemungkaran

Ah, tak layak dipelihara dalam kehidupan

 

Peliharalah akan sebuah ajaran

Teladan dari para pendahulu kebajikan

Membawa pimpinan dalam perjalanan

Menyapa ramah dalam keterjagaan

 

Masuklah dalam pelita pemahaman

Cahaya yang membawa tuntunan

Terhindar dari licinnya kesundalan

Tak sampai niat untuk penebusan

 

Jebakan nasihat meluputkan hukuman

 

Bandung, 6 September 2017, 21:10 WIB

Niko Saripson P. Simamora

Advertisements

Lepas dalam Dekapan

Posted: June 9, 2017 in puisi, Uncategorized
Tags: , , ,

Kemunculanmu ibarat mimpi semalam

Bertahtakan berlian penuh kemegahan

Cahayamu binar silau membuai

Langit turut serta menceritakan

 

Kau sang pujaan seketika terngiang

Mengalun lirik dambaan para pujangga

Teduh menyentuh dasar sanubari

Waktu milik kita, tanpa batas

 

Angin sejenak berhembus kencang

Aku melihatmu bergetar, goyah

Ada apa gerangan wahai jantung hati

Desiran itu membawa kecemasan

 

Dalam dekapan engkau masih tergoncang

Dilepaskan malam, langkahmu garang

Hanya sesaat kau dibiarkan

Kehangatan masih akan menggayutimu

 

Bukan terbang melayang

Hanya menggeliat mengerang

Tak akan sirna ditelanĀ  gelap

Engkau nyaman dalam pelukan

 

Bandung, 9 Juni 2017, 11:15

Niko Saripson P Simamora

 

Dia hadir 

Sebagai utusan

Esensinya abadi

Oknum Keilahian

Bukan tubuh

Pula daging

Apalagi tulang

Roh Kekekalan

Pribadi ketiga

Trinitas Agung

Bekerja luarbiasa

Membangun kepekaan

Suara Kebenaran

Sebagai Penolong

Abai ruang

Elakkan ruang

Sebagai Penghibur

Kita yatim

Pun Piatu

Dalam ketidakramahan

Dunia fana

Sebagai Pembimbing

Dalam kekudusan

Serta kebenaran

Yang sepenuh

Harus utuh

Bandung, 4 Juni 2017, 23:40 WIB

Niko Saripson P Simamora

Dia hadir 

Sebagai utusan

Esensinya abadi

Oknum Keilahian

Bukan tubuh

Pula daging

Apalagi tulang

Roh Kekekalan

Pribadi ketiga

Trinitas Agung

Bekerja luarbiasa

Membangun kepekaan

Suara Kebenaran

Sebagai Penolong

Abai ruang

Elakkan ruang

Sebagai Penghibur

Kita yatim

Pun Piatu

Dalam ketidakramahan

Dunia fana

Sebagai Pembimbing

Dalam kekudusan

Serta kebenaran

Yang sepenuh

Harus utuh

Bandung, 4 Juni 2017, 23:40 WIB

Niko Saripson P Simamora

Gunjing Pancasila?

Posted: June 1, 2017 in puisi
Tags: ,

Hari kelahiran menjadi sejarah yang tak terlupakan

Semua insan memakluminya sebagai saat sakral

Tiada alasan untuk mengabaikan, bahkan sarat pengulangan

Selagi masih ada nafas, syukurilah momentum itu

 

Begitupun ideologi sebuah negara majemuk yang kaya sumber daya

Kemunculannya hanya karena sebuah karunia

Warisan para pendahulu yang memiliki visi jauh ke depan

Tentu tidak mudah merumuskannya, apalagi memeliharanya secara konsisten

 

Ketika euforia akan kehadiranmu sedang dirayakan

Pun masih ada yang hilang rasa

Menggunjing Pancasila

Tanpa alasan yang bisa diterima nurani

 

Bagi kami engkau masih yang paling mutakhir

Peninggalan sejarah yang paling berharga

Bukan hanya di bumi nusantara, bahkan di jagad raya

Biar kami tetap setia menjaga dengan segala daya upaya

Bandung, 1 Juni 2017, 19.35 WIB

Niko Saripson P Simamora

Awan lembut biasanya engkau teduh

Sejuk kesanmu ketika bersanding cakrawala

Semua harapan membubung ke arahmu

Tak ada kesan keraguan, sekali lagi, teduh

 

Langkah kaki menapak dengan riang

Bahagia dan gembira bergelora di tanahmu

Cerita hanya menjadi pelengkap rasa

Apa ya? Oh iya, teduh

 

Tetiba teduhmu hilang ditelan gelap

Kenapa engkau menutupi asa yang terbang

Sudah fasih ia menghiasi hari-hari tak menentu

Insan berkasih yang selalu membara merekah

 

Hei pekat suram pembawa rasa hampa!

Jangan pernah muncul membawa kebosanan

Sesimu hanya sesaat saja sebelum tertiup

Keteguhan jiwa ternyata punya kekuatan dahsyat

 

Di ufuk sana, sudah cerah membawa kehangatan

Bersinar surya tak terduga

Hantaran sengatnya mengusik hingga sanubari

Iya, teduh. Rasanya teduh.

 

Bandung, 10 Mei 2017, 22:10

Niko Saripson P Simamora

Penyandang Nama

Posted: April 24, 2017 in puisi, Uncategorized
Tags: , , , ,

Hai teruna muda,

Kuatkanlah hatimu sekarang

Jadilah orang-orang gagah perkasa

Sekalipun hancur hatimu

Memandang lebur bukit di sekelilingmu

 

Kepermaian negeri sedang dipertaruhkan

Apakah tumbuh rombongan bebal

Tangannya bebas tidak terikat

Kakinya melangkah enteng tidak dirantai

Telah lama mereka menghendaki ini

 

Penguasa adil pun turut berduka

Meratapi gugurnya seorang besar

Yang diurapi harusnya bisa terhindar

Biarlah kekuasaan memihak kebajikan

Meskipun akan selalu terlihat lemah

 

Tidak ada jalan menuju tujuannya

Buta dan timpang akan datang mengenyahkan

Semesta alam menyertai

Sebab makin besar kuasa melingkupinya

Bersiap untuk ambil kendali

 

Hei, para penyandang nama.

 

Bandung, 24 April 2017, 08:13

Niko Saripson P Simamora