Archive for September, 2013

Bara hati

Posted: September 29, 2013 in puisi
Tags: , , , , ,

Kubuka lembar baru hari
Dengan penuh semangat hati
Serasa ada yang dinanti
Di jalan panjang kusendiri

Kuhela nafas udara pagi
Segar aromanya sampai nadi
Merasuk rasa melalui pori
Sejenak masa mengajak sali

Langkahku harus tertapak pasti
Menatap cakrawala di sisi
Bergulat dengan pasang kapi
Demi sebuah kenyataan suai

Bara hati
Dibakar surya alami
Bara hati
Diuji udara murni
Bara hati
Dipantik bahan raksi

Bara hati
Nyalakan sejak dini
Menantang sapai
Memberi arti

 

Jakarta, 29 September 2013, 23.48 WIB
Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Waktu

Posted: September 13, 2013 in Uncategorized
Tags: ,

“…dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”
Pesan seorang rasul kepada sebuah jemaat di Efesus kala itu, mengingatkan sebuah dimensi yang berpengaruh besar dalam kehidupan manusia. Percaya atau tidak, dimensi tersebut menjadi sebuah batasan terhadap eksistensi manusia tersebut. Dan dimensi itu adalah waktu.

Keberadaan manusia di muka bumi dibatasi dengan waktu yang secara sadar bahkan tak sadar seringkali diabaikan. Kebanyakan orang memiliki sebuah harapan akan waktu yang tak terbatas tanpa mau menjadikannya sebagai sebuah harta yang tak ternilai harganya. Ungkapan “waktu adalah uang” di lain sisi dapat dipandang sebagai sebuah penilaian rendah terhadap waktu. Uang bisa dicari dan dihasilkan, sementara waktu terbang terkadang begitu cepat maupun begitu lambat. Sangat relatif.

Sebegitu berharganya waktu sehingga seorang Salomo yang paling kaya yang pernah ada di muka bumi mengingatkan kita untuk menjadi seorang sahabat yang baik, ya, orang yang menaruh kasih setiap waktu. Setiap waktu adalah sebuah batasan yang tidak terbatas, yang berarti selama kita masih menikmati dimensi waktu tersebut,di situ kita harus senantiasa berbuat kasih. Luar biasa.

Allah, yang tak terbatas dimensi waktu itupun memiliki sebuah standar ketika harus berhubungan dengan manusia. Ya, Allah melakukan pendekatan waktu agar manusia dapat setidaknya memahami jalan-jalanNya. Disebutkan bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Jelaslah bahwa Allah selalu punya cara untuk membuka diriNya dipahami oleh anak-anakNya.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kita kembali kepada ungkapan dari Paulus di atas,”..dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”

Bandung, 13 September 2013, 12:45 WIB
Niko Saripson P Simamora