Archive for October, 2010

-Kurang angin, ga bisa mantul-

Posted: October 6, 2010 in Uncategorized

Di rumah kos kami, sering dikenal dengan tiranda ada sebuah bola yang digunakan untuk olahraga basket, sering dikenal dengan bola basket. Pada awal kedatangannya untuk tinggal bersama kami, ia adalah bola yang lenting, artinya bila dipantulkan ia sangat elastis, mudah mantul dan masih nyaman bila dipakai untuk berolahraga. Itulah keadaan saat-saat anginnya masih cukup penuh.

Namun belakangan ini, aku memperhatikan bola tersebut sudah tidak seperti keadaan yang kusebut di atas. Ia sudah menjadi memble ketika dipantulkan dan kurang nyaman bila dipakai untuk berolahraga. Itulah keadaan di saat kurang angin. Aku tidak tahu pasti mengapa bisa seperti itu. Yang aku tahu, bola itu tidak pernah dipakai lagi, sehingga keadaannya seperti itu. Aku bandingkan dengan keadaan bola-bola yang lain yang lebih sering digunakan, dan jarang kutemukan bola yang sering digunakan mudah untuk kekurangan angin. Hal ini tidak selalu seperti ini, tapi kebanyakan seperti ini dari yang pernah kuamati.

Ibarat bola, semangat juga seperti itu. Rasa bersemangat yang penuh pada awalnya akan mungkin “kurang angin” bila tidak sering dimanfaatkan. Dengan kata lain, semangat juga perlu dirawat, dipelihara, dibangkitkan, dan banyak lagi. Bagaimana menjaga semangat ini? Bisa dengan saling mengingatkan, saling mendoakan, atau dengan saling menghina pun bisa menjaga rasa bersemangat tidak “kurang angin”.  Masing-masing manusia pasti punya cara tersendiri untuk memelihara semangatnya, namun pasti akan butuh bantuan di luar dirinya sendiri. Bisa dari orangtua, saudara, kekasih, dan masih banyak orang lain. Bahkan ada sumber semangat sejati yang tidak pernah lelah membantu kita agar tidak “kurang angin”. Allah kita Penyemangat Sejati.

Semangat menghadapi UTS!

Semangat mengerjakan tugas!

Semangat melayaniNya!

Semangat!!!Semangat!!!Semangat!!!

Salam,

Niko Saripson P Simamora

6 Oktober 2010

Advertisements

Cinta (buta)ku untuk Indonesia

Posted: October 1, 2010 in otak atik otak

Aku sungguh tergila-gila jadi bangsa Indonesia. Aku tak bisa menggambarkan seberapa besar cintaku terhadap bangsa di mana aku dilahirkan ini. Aku juga tidak bisa menggambarkan betapa banyak hal-hal yang kucinta dari bangsa ini. Aku sangat mencintai bangsa ini dan bersyukur kepada Tuhan untuk berkatNya bagi bangsa ini.

Kecintaanku terhadap bangsa ini memang masih terhitung baru. Aku menyadarinya karena aku punya bagian di bangsa ini. Bagian unik yang diberikan Sang Khalik kepadaku menyadarkanku bahwa kiranya dengan adanya aku di bangsa ini, dapat menjadi saksiNya. Oleh karena itu, aku harus benar-benar mencintai bangsa ini tanpa syarat.

Namun, apa daya? Melihat keadaan bangsa di saat ini, cintaku sedikit diuji. Mengapa tidak? Bangsa yang dahulu kudengar sebagai bangsa yang ramah, bersahabat, dan banyak hal-hal baik lainnya yang menjadi embel-embelnya, kini sedang dilanda krisis. Krisis kepercayaan, krisis mental, dan masih banyak krisis lainnya merusak tatanan hidup berbangsa yang dulunya baik, menurut sedikit sejarah yang pernah kupelajari. Ya, tentu saja cinta ini diuji. Bagaimana mungkin aku mencintai bangsa ini dengan segala kerusakannya yang lebih banyak terpublikasi daripada baik-baiknya? Seperti judul di atas, hal itu yang harus kulakukan.

Cinta (buta)ku untuk Indonesia harus aku ikrarkan. Ini menjadi tekad bahwa dengan rasa cinta yang kuberikan saat ini akan kubawa terus sampai aku mengakhiri pertandingan hidup di bangsa ini. Cinta (buta)ku untuk Indonesia menunjukkan bahwa, sekecil apapun aku akan terus mencintai Indonesia dan memelihara tatanan hidup berbangsa yang baik. Cinta (buta)ku untuk Indonesia aku tanamkan dalam diriku untuk menghargai betapa dalamnya rasa penghargaanku terhadap pendahulu-pendahulu bangsa ini yang pada masanya, harus rela berkorban nyawa untuk mempertahankan Indonesia. Cinta (buta)ku untuk Indonesia aku ukir dalam pikiranku untuk mengingatkanku akan tugas dan tanggung jawabku terhadap bangsa ini. Cinta (buta)ku untuk Indonesia aku pompakan dari jantungku ke seluruh bagian tubuhku melalui pembuluh-pembuluh darahku agar semua organ tubuhku sadar bahwa di bangsa inilah aku hidup, dibesarkan, dan dibina. Cinta (buta)ku untuk Indonesia akan terus, terus, dan terus kuikrarkan hingga akhirnya, cintaku untuk Indonesia itu utuh tanpa harus membutakan diriku dengan keberadaan bangsa ini.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila!

Selamat Hari Ulang Tahun Kabupaten Dairi, Tanah Kelahiranku!!!

Tuhan memberkati!!!

Salam Indonesia,

Niko Saripson P Simamora