Archive for August, 2013

Eben Haezer

Posted: August 20, 2013 in otak atik otak
Tags: ,

Dung i dibuat si Samuel ma sada batu, jala dipatindang di holangkolang ni Mispa dohot Sen jala dibahen goarna: Ebeneser, jala ninna do: Rasirasa nuaeng diurupi Jahowa do hita. (1 Samuel 7:12)

Sangat menarik memang memperhatikan perjalanan bangsa pilihan Allah, Israel yang pattang so billak itu. Ai sipata gabe las lomo-lomo ni halak i nama na mar Tuhan i. Beberapa generasi akan taat betul, tetapi setelah itu muncul kemudian generasi yang tidak taat. Allah menghukum, kemudian mereka kembali taat. Ima hajolmaon i, dang sai torus margogo mangadopi sude akka ulaon na.

Manusia berubah. Ya. Dan terus akan seperti itu. Bahkan muncul adagium yang mengatakan bahwa tidak ada yang kekal, kecuali perubahan. Ai imadah. Alani sai songon i do hajolmaon i, jadi dihilala jolma i do porlu hagogoon di luar hagogoon ni sandiri. Jala disi ma di patangkas tu hajolmaon i, dang boi jolma manghangoluhon ngolu na molo holan ala ni dirina.

Jelaslah bahwa hidup manusia tidak hanya karena dirinya, tetapi juga ada di luar dirinya. Ketika mengaitkan dengan batu yang didirikan oleh Samuel, sangat jelas diberikan nama “Ebeneser: Rasirasa nuaeng diurupi Jahowa do hita” (Eben Haezer : Sampai di sini TUHAN menolong kita) dengan kata lain,Allah yang Mahakuasa yang sudi menolong bangsa Israel.

Jelas sekali bahwa Samuel mengajak bangsa Israel untuk bersama-sama mengakui bahwa mereka membutuhkan pertolongan Allah dan juga mengakui akan kesalahan-kesalahan mereka di hadapan Allah. Dengan ini, mereka sadar sepenuhnya bahwa mengandalkan kekuatan diri sendiri tidak akan mampu menolong mereka menghadapi masalah-masalah mereka.

Ai burju hian Ho ale Tuhan, nang pe sipata dao jala mangalo hami tu uhum Mu. Alai dibagasan holong, sai dijalo Ho do angka pangidoannami. Ajar-ajari hami, asa boi tongtong mangulahon sude angka lomo ni rohaM.

Handil Enam, 19 Agustus 2013, 16.44 WITA
Niko Saripson Pandapotan Simamora

Advertisements

Citraku ke mana engkau?

Posted: August 16, 2013 in puisi
Tags: , ,

Awal mula aku muncul ke jagad

Tidak membawa apa-apa

Hanya tangis yang terpancar

Ya, seolah menyesal keluar rahim

 

Di satu sisi mereka tertawa

Seolah aku ini tidak apa-apa

Hey! Aku sedang menangis

Tak kau rasakan sakitku?

 

Episode berubah, aku mengenal tawa

Entah mengapa mereka mengenalkannya

Untuk menghiburku mungkin

Biar kulupa akan tangis yang kubawa

 

Sepanjang waktu segala sesuatu terjadi

Tangis dan tawa silih berganti

Aku mengerti sekarang

Walau terkadang tak ku peduli

 

Air mata adalah makanan pertamaku

Mengingatkanku bahwa aku ini sesosok imaji

Yang belum utuh gambarannya

Dan aku harus merangkainya

 

Senyum tawa sekedar bumbu bagiku

Melengkapi uraian elemen gambarku

Cerah tidaknya diramu di situ

Oh, mereka tak mampu membantuku

 

Wahai citraku ke mana engkau?

Tak terhitung rana yang kuambil

Demi menyusun indah mosaikmu

Aku tahu, Tukang Potret yang mengaturnya

 

Tak perlu kuragu komposisi warnaku

Sang Juru Gambarku handal dan mahir

 

 

Handil Enam, 16 Agustus 2013, 02.29 WITA

Niko Saripsoon P. Simamora

Kemenangan Bersama

Posted: August 8, 2013 in puisi
Tags: , , ,

Senyum menghiasi langit ketika menyambut mentari pagi

Tapi sesaat saja, ia kemudian diliputi awan gelap

Lalu merintih sambil mengucurkan tetes-tetes air kandungannya

Serasa ada hal yang mengganjal baginya di saat banyak yang bersukaria

 

Sepanjang pagi tidak dihiraukannya keluh sang penghuni semesta

Tiada menghalanginya pula menahannya mencurahkan perasaannya

Sepuasnya, itu mungkin prinsipnya ketika saat seperti ini tiba

Seolah ingin berteriak, ini saat khusus bagiku pun bagi banyak orang

 

Terik mulai menyengat pertanda guyuran mulau mereda

Ia seolah sedang menyeka wajahnya dan kembali tersenyum

Surya pun cukup mengerti, memancar tak begitu elusif

Terasa mereka sedang tersenyum bersama begitu mesra

 

Saat ini terasa sebuah momen tercipta megah

Di tengah raga berpijak di tanah saudara

Tak terasa riuh sekeliling membahana

Hanya bisik lengang sesekali pertanda masih ada nafas didesah

 

Jantung terus berdetak gelisah menjalani rangkaian itu

Segenap pribadi harus mengerti isyarat alam ketika berekspresi

Bagaimanapun mereka turut andil sebagai pembawa masa

Tanpa lelah, sudah dilakukannya berkali-kali dengan ikhlas

 

Naik turun irama hati memang milik segenap syah alam

Asa akan selalu dinanti untuk terus dihayati

Semua makhluk wajib menjadi pundak kuk kemuliaan

Ya, tanpa terkecuali demi kemenangan bersama*

 

*kemenangan bersama berarti kemenangan milik semua yang diperoleh dengan mengalahkan diri sendiri

 

 Balikpapan, Hari Lebaran, 8 Agustus 2013, 14.02 WITA

Niko Saripson Pandapotan Simamora

 

 

Kuhidup BagiMU?

Posted: August 7, 2013 in otak atik otak
Tags: , , ,

Sejak pagi hujan mengguyur kota ini. Suasana yang sangat nyaman untuk menyentuh kasur dan larut dalam tidur. Sementara teman-teman masih menikmati saat-saat beristirahat mereka, seperti biasa sehabis sahur, apalagi ini yang terakhir untuk ramadhan tahun ini. Kebetulan saya ikut sahur bersama kali ini, terbangun dan tidak bisa tidur lagi.

Tidak ada semangat mengerjakan apapun. Pekerjaan menumpuk, tapi tak ada niat mengerjakannya. Acara televisi pun tak ada yang begitu menarik. Namun, setelah gonta-ganti saluran, saya berhenti di tayangan langsung sepakbola antara Juventus melawan Inter Milan. Kebetulan saya penggemar klub Juventus, terutama Del Piero kala itu. Jadilah saya menonton bola tapi dengan gaya ogah-ogahan hingga ketiduran di sofa.

Kemudian saya terbangun dan menonton lagi. Lalu beranjak menuju meja kerja untuk menatap komputer dan berniat mengerjakan sesuatu. Banyak rencana yang ingin saya kerjakan, namun semua hanya berputar-putar di kepala saja. Belum banyak yang benar-benar saya kerjakan atau baru hanya mulai mengerjakan tanpa tindak lanjut atau juga memulai saja belum. Oh tidak! Betapa acaknya momen ini. Saya hanya bisa berpikir tanpa berbuat hingga saya berpikir lagi supaya saya tidak berpikir seperti itu demi mencegah stress. Benar-benar acak.

Saya mencoba memutar lagu dan terpasang di sana lagu yang cukup menarik. Potongan liriknya seperti ini, “..kalau kuhidup, kuhidup bagiMu, hatiku tetap, tetap menyembahMu,dst…”. Betapa indahnya lagu tersebut mengalun di telinga saya yang sedang berpikir acak ini. Saat itu, diri saya dibawa kepada perenungan terhadap kata-kata yang terdapat pada lagu tersebut. Ya, saya cukup lama terdiam memasang telinga benar-benar kepada lagu tersebut dan makna yang terkandung di dalamnya.

Kuhidup bagiMU? Ya, sebuah pertanyaan besar bagi saya saat ini. Setelah setahun menyandang gelar sarjana lalu masuk dunia profesional, adakah kuhidup bagiMu? Setelah melewati masa-masa, indah dalam persekutuan dan pergaulan, adakah hatiku tetap menyembahMu? Hujan ini menjadi pengguyur jiwa yang sedang kering, membasahi ruang-ruang yang mulai tandus, dan tanda bahwa Dia hadir setiap saat.

“Ya Allahku, jadilah kehendakMu dalam hidupku, ajarlah ku mengerti jalan-jalanMu sehingga aku bisa hidup bagiMu. Amin”

Balikpapan, 7 Agustus 2013, 10.47 WIB

Niko Saripson Pandapotan Simamora

Desah Resah Nafasmu

Posted: August 3, 2013 in puisi
Tags: , , , , ,

Setiap kali kulangkahkan kaki menuju tanahmu

Kutekuk kakiku meraih jernih airmu

Kuhela  dadaku menangkap bersih udaramu

Ah, sujud syukurku kembali kepadaNya

 

Kususuri pematangmu menuju denyut nadimu

Limpah nian harta yang dikandungmu

Hingga tak sanggup tanganmu menggenggamnya

Berharap uluran tangan si empunya kapital

 

Terusik getaran saat dicolek kulitmu

Membuncah harta mengalir di lorong-lorongmu

Segenap mata menatap membahana asa

Berharap nyata mimpi sejagad raya

 

Memang, sesaat urat mengalir lancar

Suasana riuh menghinggapi senyap halamanmu dulu

Jalan-jalan sibuk hilir mudik tanpa henti

Serasa makmur tumbuh di jengkal tanahmu

 

Waktu terbang begitu rupa, tidak terasa

Sedikit demi sedikit detakmu tidak laju, melemah

Itu memang kenyataan atau hanya rekayasa

Siapa yang harus memastikannya dan meyakinkannya

 

Nah, itulah deru nafas orang-orangmu

Berdesah resah memandang kepada tuan si empunya titah

Mereka menunggu tongkat ajaib diayunkan

Menghunus pedang penghantar kemenangan bersama

 

Handil V, Muara Jawa, Kukar, 31 Juli 2013, 14.07 WITA

Niko Saripson P Simamora