Archive for the ‘cerpen’ Category

 

“Tutup!”

Teriakan itu muncul dari seorang pemuda di pintu paling belakang bus Trans Jakarta tipe gandeng yang melayani tujuan Grogol-PGC setelah penumpang masuk ke dalam bus. Pemuda itu menggunakan kaos oblong hitam yang polos, celana jins berwarna gelap dan kakinya beralaskan sandal. Bisa dipastikan bahwa si pemuda itu bukan petugas dari bus Trans Jakarta.

Bus pun berjalan di jalurnya, semua orang di dalam seperti pada umumnya hanya berdiam. Sebagian ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang baca koran, ada yang tidur, dan pastinya tidak ada interaksi. Si pemuda yang berdiri di dekat pintu itu memegang batang besi pegangan di pintu tersebut, bahkan ia  memeluk pegangan itu dan merapatkan mukanya ke kaca pintu itu.

“Yang LIPI, Gatot Subroto, persiapan!” terucap teriakan dari si pemuda sambil masih berpegangan pada besi di pintu ketika bus mendekati halte Gatot Subroto-LIPI, “ Yang Gatot Subroto LIPI,” teriaknya lagi.

Ketika bus berhenti di halte Gatot Subroto LIPI, ada satu penumpang yang keluar, sementara si pemuda kembali berteriak,” Gatot Subroto LIPI!”. Melihat tidak ada yang bergerak keluar, si pemuda pun dengan segera berteriak, “Tutup!”

Tepat saat pintu akan ditutup, ada seorang bapak yang baru tersadar bahwa ia harusnya turun di situ. Sebenarnya, si bapak masih punya kesempatan untuk bisa keluar bus dengan segera, namun karena sudah ada sinyal bunyi bahwa pintu akan ditutup, si pemuda pun menghalangi si bapak.

“Maaf, Pak sudahditutup,” ucapnya kepada si Bapak.

Ada kesan kecewa dari si bapak, namun ia cepat menerima kenyataan bahwa si pemuda itu menghalanginya untuk keluar meski ia masih punya kesempatan. Si pemuda pun mengingatkan untuk turun di halte selanjutnya. Si bapak itu orangnya sabar dan bisa menerima.

Bus kembali berjalan menuju halte selanjutnya. Ketika mendekati halte Gatot Subroto Jamsostek, si pemuda kembali teriak,” Persiapan yang Gatot Subroto Jamsostek!”.

Ketika tiba di halte Gatot Subroto Jamsostek, si bapak yang tadi belum keluar pun segera bergegas keluar.  Namun, tidak ada yang penumpang yang masuk dari halte itu. Si pemuda pun cepat berteriak, “Tutup!”, sambil ia melihat ke belakang dari luar pintu. Entah apa yang dia lihat.

Selama bus berjalan menuju halte selanjutnya, si pemuda kembali memeluk besi pegangan di pintu itu. Ia memejamkan mata dan terkadang terlihat mulutnya komat-kamit. Setelah bus akan mendekati halte, si pemuda membuka mata dan kembali berteriak,”Persiapan yang Kuningan Barat! Transit Ragunan Dukuh Atas!”. Ada beberapa penumpang yang turun, namun tidak ada yang naik dari halte itu.

Bus kembali melaju. Ketika mendekati halte Pancoran Barat, si Pemuda kembali berteriak,”Pancoran Barat! Persiapan!”. Saat bus berhenti, Ia akan berdiri persis seperti petugas bus Trans Jakarta. Kakinya akan mengangkang menginjak lantai halte dan lantai bus pada saat bersamaan. Ia memastikan penumpang  yang keluar maupun masuk bus sudah aman, setelah itu ia berteriak, “Tutup pintu!”.

Saat bus sedang melaju, di kursi bagian belakang sempat terjadi keributan antara seorang Bapak yang duduk di bawah dengan seorang pemuda yang duduk di bagian atas. Pasalnya, si bapak merasa si pemuda itu menginjak celana si bapak. Namun, si pemuda membantah karena kakinya tidak bergerak sama sekali. Si pemuda pun menunjukkan posisi kakinya sedari tadi, apalagi ada seorang bapak yang menumpang duduk di tangga untuk mencapai deretan bangku belakang tersebut. Si bapak yang merasa tidak terima dengan jawaban si pemuda, bukan permintaan maaf yang ada malah sikap menantang. Si bapak itu terlihat cepat naik emosinya.

Adu mulut sempat terjadi antara mereka berdua. Si bapak yang awalnya sibuk dengan ponselnya, sempat menyimpan ponselnya dan mengatur gerakan seperti ingin mendatangi si pemuda. Sementara si pemuda dengan gaya menantang tetap duduk santai. Namun, beberapa penumpang mengingatkan untuk saling menahan diri sehingga tidak terjadi keributan yang lebih besar lagi. Sementara si pemuda yang berdiri di dekat pintu tidak terpengaruh dengan keributan tersebut. Ia hanya berdiri, merapatkan badannya di pintu.

Begitulah si pemuda selalu melakukan aktivitasnya seolah-olah menjadi seorang petugas bus Trans Jakarta. Halte Pancoran Tugu, Cawang Ciliwung, dan BNN pun dilewati dengan seperti itu. Ketika memasuki halte UKI Cawang, si pemuda ternyata ikut turun. Lalu keluar halte. Ia memberi salam kepada beberapa petugas di situ. Sepertinya ia cukup familiar dengan para petugas di situ.

Salah seorang petugas Trans Jakarta di halte itu pun bercerita bahwa si pemuda itu bernama Toni. Ia dulu petugas onboard Trans Jakarta. Saat ini ia sudah dikeluarkan karena menderita penyakit jiwa. Ia adalah petugas ketika terjadi kecelakaan penumpang di bus jurusan PGC-Grogol dua bulan lalu. Penumpang itu terjepit saat akan masuk karena pintu segera tertutup, terjatuh lalu kemudian sempat tertabrak bus yang di belakangnya. Itu sebabnya ia masih sering naik bus dan bersikap seperti petugas Trans Jakarta, namun sangat bersikap hati-hati dan mengutamakan keselamatan penumpang. Tapi sayang kondisi psikologisnya tidak memungkinkannya lagi untuk bekerja di Trans Jakarta.

Hidup masih harus terus berjalan.

 

Jakarta, 20 Desember 2015, 18.15

Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Senyum Damai Si Bapak Tua

Posted: December 12, 2014 in cerpen
Tags: , , , , ,

Mobil tuanya bertingkah lagi. Rasa kesal pasti ada dalam hatinya. Tapi, dia pintar menyembunyikan ekspresinya. Senyum masih merona dari wajahnya. Mencoba merasa damai terpancar dari bahasa tubuhnya. Jangan sampai keadaan mempengaruhinya. Ia yang harus menguasai keadaan.

Mobil itu sebenarnya tidak terlalu tua. Masih tergolong mobil lama yang banyak beredar di jalanan. Tentu, masih lebih tua bis-bis metro mini di ibukota. Awalnya sangat bangga ketika mendapatkan mobil tersebut di masa menjelang pensiun. Namun, ternyata mobil yang diperoleh dari sahabatnya itu tidak bisa diandalkan lagi. Itu yang dirasakannya setelah mengobrak-abrik jalanan dengan mobil itu selama dua tahun belakangan. Dan saat ini, adalah kali kedua mobil bongsor itu bertingkah.

Setelah dioperasi habis alias bongkar mesin, ternyata sakitnya tidak sembuh total. Mobil itu ibarat tubuh yang terkena malaria. Kalau sudah pernah sembuh, jangan pikir bisa sembuh total. Sesekali pasti akan muncul lagi, dan bahkan bisa lebih parah terutama ketika daya tahan tubuh sedang menurun. Mungkin itu yang sedang dialami si harimau itu.

Si Bapak tua itu ke luar dari mobil. Mencoba mengutak-atik telepon genggamnya, mencari-cari kontak yang bisa dihubungi untuk membantunya.

“Halo, bos? Lagi di mana?” tanya si bapak tua.

“Lagi di bengkel, ada apa lagi?” tanya si kontak di seberang.

“Bisa minta tolong?” tanya si bapak tua lagi,” Mobil lagi rusak ini, harus diderek,” lanjutnya.

Tuttt..tuttt..tuttt..

Terdengar komunikasi yang sengaja diputus oleh si kontak di seberang. Si bapak tua tersenyum. Menghibur diri, mengundang damai kembali bersemayam di hatinya.

Hari semakin sore, gelap temaram sudah muncul menggayuti lokasi Si bapak tua dan mobilnya. Hatinya mulai sunyi. Tetap masih tersenyum mengutak-atik telepon genggamnya. Belum ada kontak lain yang dia hubungi. Masih ragu-ragu, antara menghubungi yang sebelumnya atau tidak. Di tengah keraguan, ia duduk sejenak di dalam mobil.

Ia pun tertidur karena kelelahan seharian mengerjakan ladangnya.

Pagi harinya, ia terbangun. Ia sudah berada di rumah. Ia lalu bergerak ke luar rumah. Senyum seketika terpancar di wajahnya. Damai begitu damai, lebih damai saat ia bingung ketika mobilnya bermasalah lagi.

“Pa, besok pakai mobil baru ini, ya. Jangan pakai yang bekas itu lagi!” ucap istrinya, “ Ini hadiah dari si bontot mu, dia nggak mau ditelepon buat ngederek mobil,” lanjutnya.

“Ah, syukurlah!!!” senyum damai si bapak tua merekah lagi.

Jakarta, 12 Desember 2014, 13.25
Niko Saripson P Simamora

Kisah Anak Juragan Bus

Posted: June 4, 2014 in cerpen
Tags: , , , ,

Sudah menjadi kebiasaan Jaka, setelah mengantar kekasihnya ke rumah dengan menggunakan taksi, ia akan berganti angkutan tepat di perempatan jalan yang cukup jauh dari rumah kekasihnya itu. Hal itu ia lakukan karena sebenarnya ia tidak menikmati perjalanan dengan menggunakan taksi karena pengatur udara yang membuat ia pusing. Namun, karena ia di dalam bersama kekasihnya, ia melupakan itu dan lebih menikmati berbincang dengan pujaan hatinya itu. Setelah sendiri, ia akan berhenti tepat di tempat bus kopantas biman yang menunggu penumpang, lalu naik ke dalamnya.

Di dalam bus, acapkali ia memperhatikan seorang anak kecil yang ngamen di dalam bus. Sebelum memulai aksinya, anak kecil itu akan membagi-bagikan amplop kepada penumpang yang satu persatu memenuhi bus itu. Setelah itu, ia akan mulai bernyanyi. Nyanyian yang ia dendangkan tidak terlalu terdengar dengan jelas. Ia hanya kelihatan bergumam, sambil sesekali tersenyum mencolek sebagian penumpang yang kemungkinan sudah sering ia lihat di bus itu. Sesudah bernyanyi, ia akan bergerak kembali mengambil amplop-amplop yang ia bagikan sebelumnya. Untuk beberapa penumpang ia seolah memaksa untuk memberikan uang, dan kebanyakan akhirnya memberikan juga. Sementara yang lain, tidak ia lakukan seperti itu.

Kegiatan itu menjadi sebuah hiburan bagi Jaka, sehabis melakukan kebiasaannya mengantar pacarnya. Ia sangat tertarik memperhatikan gerak-gerik anak kecil itu, sambil terkadang membayangkan masa kecilnya dan juga hal-hal lain yang berhubungan dengan dunia anak kecil. Usia anak itu sekitar lima atau enam tahun. Masih sangat belia dan sepantasnya tidak berada di tempat seperti itu sendiri dan mencari uang. Dalam jam-jam seperti itu, anak kecil itu seharusnya ada di rumah dan belajar. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang Jaka bayangkan. Jaka selalu tidak habis pikir akan keadaan itu. Ia pun berusaha sedapat mungkin untuk tidak memberi karena ia menganggap hal itu hanya akan memanjakan dan selanjutnya menjadi sebuah kebiasaan bagi si anak. Jaka pun beranggapan dengan tidak memberi membuat si anak tidak betah dengan keadaan seperti itu sehingga akan mengambil keputusan untuk tidak lagi mengamen. Sebegitu jauh memang pikiran Jaka, si pemuda yang idealis, konservatif dan kaku.

Suatu hari, Jaka kembali dari mengantar kekasihnya dengan taksi dan berhenti tepat di tempat di mana bus kopantas biman menunggu penumpang. Namun, ia cukup terkejut ketika mengetahui bahwa tidak ada bus yang berhenti dan menunggu penumpang. Awalnya Jaka berpikir bahwa kemungkinan bus itu masih belum tiba, sehingga ia berdiri saja menunggu. Setelah setengah jam menunggu, ternyata bus yang ia tunggu-tunggu belum datang juga, sementara sudah cukup banyak penumpang yang menunggu. Satu jam berlalu dan bus pun belum datang.

Beberapa penumpang setia bus itu sudah tampak gusar dan mulai mengeluhkan keadaan itu. Sementara Jaka sebagai seorang pemuda yang sabar kelihatan masih santai saja. Ia masih mengharapkan bus itu akan segera datang. Namun, tunggu punya tunggu tidak datang juga hingga akhirnya seorang Polisi yang sedang beristirahat dari mengatur lalu lintas menghampiri penumpang.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian mungkin sedang menunggu bus kopantas biman yang sering berhenti di sini ya?” tanya Pak Polisi tersebut.

“Iya, iya…” jawab para penumpang.

Jaka pun tak ketinggalan mendekat untuk mendengar informasi dari Pak Polisi tersebut.

“Jadi begini, semua supir dan kondektur yang bekerja untuk perusahaan bus tersebut sedang tidak bekerja karena melayat anak bos mereka yang meninggal tadi pagi. Jadi, bapak ibu sekalian silakan mencari angkutan yang lain” kata Pak Polisi menjelaskan.

Terlihat wajah-wajah penumpang yang bingung dengan penjelasan Pak Polisi tersebut sambil berlalu bubar dari tempat itu. Sebagian lagi ada yang bergumam, mungkin kesal karena sudah menunggu lama. Sementara itu, Jaka terlihat mengerutkan dahi dan tidak berterima dengan penjelasan singkat Pak Polisi tersebut. Ia pun langsung menemui Pak Polisi tersebut.

“Pak, kenapa supir dan kondektur tidak bekerja hanya karena anak bosnya meninggal?” tanya Jaka penasaran.

“Begini mas, kalau mas sering perhatikan, anak kecil yang mengamen di bus, dialah anak bos yang punya perusahaan bus itu” jawab Pak Polisi.

“Hah?Trus Pak?” tanya Jaka lagi.

“Anak itu sebenarnya sudah berumur tiga puluh tahun, tetapi karena menderita sebuah penyakit yang belum diketahui namanya membuat beliau kelihatan seperti anak kecil. Karena mengidap penyakit itu, ia susah bergaul di sekolah dan lingkungannya. Sehingga ia memilih untuk hidup di jalan dan bergaul dengan supir dan kondektur. Karena supir dan kondektur merasa dekat dengan anak itu, mereka rela tidak bekerja hari ini” jawab Pak Polisi dengan jelas.

Jaka terhenyak mendengar cerita Pak Polisi itu. Sambil mengucapkan terima kasih, Jaka berlalu dari Pak Polisi itu. Ia pun berjalan mencari angkutan lain sambil bergumam dalam hati, “Ternyata hidup tidak melulu apa yang tampak di luar”.

 

Jakarta, 4 Juni 2014, 15.30

Niko Saripson Pandapotan Simamora