Archive for May, 2012

Sang Penyintas

Posted: May 19, 2012 in Uncategorized
Tags: ,

Badan lemah itu terbaring lesu di atas tempat tidur rumah sakit milik pemerintah. Jarum infus melekat di tangannya, sementara selang oksigen terpasang melalui hidungnya. Matanya kerap terpejam sepanjang hari, hanya desahan suara yang sesekali terdengar dari mulutnya. Makanan pun diasup melalui selang yang terpasang di hidung. Cuma satu dua orang yang bergantian berada di dekatnya, sanak yang lain lebih memilih menunggu di sofa dekat pintu kamar mandi yang masih dalam satu ruangan. Ada juga beberapa orang , sepertinya pihak pemerintah, rekan kerja, dan sahabat yang datang sebentar untuk sekedar melihat dan berbincang sebentar dengan keluarga yang menjaga. Dokterpun terus mengontrol kondisi ditemani perawat untuk melihat perkembangan pasiennya.

Di luar, lebih banyak lagi orang yang menunggu, diantaranya beberapa wartawan media cetak maupun elektronik, beberapa polisi dan tentara, rekan kerja dan sahabat-sahabat. Semua berharap dan mendoakan yang keadaan yang cepat membaik. Sementara itu, pesawat televisi  yang terpasang di beberapa sudut rumah sakit senantiasa menayangkan berita terkini, masing-masing stasiun televisi dengan berita yang kurang lebih sama.

Sebuah lapangan bola di salah satu desa bagian dari daerah kantong hujan itu seketika ramai. Bukan karena ada pertandingan, justru tak ada hubungannya dengan sepakbola. Ya, beberapa helikopter berjajar, sesekali bergantian terbang  membawa beberapa regu penyelamat, wartawan, dan sukarelawan. Semuanya tampak sibuk tanpa mengenal lelah.

Beberapa ahli juga tampak sibuk ditanyai, dimintai pendapat dan analisis seusai kapasitas masing-masing. Kebanyakan mereka tidak menduga kejadian yang telah terjadi, sebagian lagi tidak mau mendahului untuk memberikan keterangan sebelum dilakukan investigasi.

Sejak misteri hilangnya pesawat udara buatan salah satu negara pecahan komunis itu, segenap warga yang mengetahuinya ikut bersimpati dan memanjatkan doa. Keberadaan pesawat ditemukan setelah satu hari penuh dilakukan pencarian dari udara menggunakan helikopter. Lokasi jatuhnya pesawat diketahui berada di lereng gunung yang terjal. Usaha evakuasi dilakukan dengan segala upaya.

Bapak yang terbaring itu siuman. Sanak keluarga segera mendekat sambil tersenyum. Orang-orang di luar seketika berkerumun mengintip dari kaca tembus pandang yang terdapat di pintu. Dokter seketika masuk ke ruangan, memeriksa kondisi dengan sedikit heran. Lalu keluar, berbincang-bincang dengan wartawan dan mempersilakan satu orang perwakilan dari wartawan untuk masuk ke ruangan dan mewawancarai bapak tersebut. Pak tua itu adalah sang penyintas dari kecelakaan pesawat udara yang menabrak gunung tersebut. Lima hari sejak kejadian, tim penyelamat menemukan Bapak tersebut berlindung di balik kursi pesawat.

Senyum simpul terlukis di bibirnya, hanya sedikit kata yang terucap, “Tidak selamanya joy flight berakhir dengan joy”.

Bandung, 12 Mei 2012 10:10

Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Sang Gembala

Posted: May 12, 2012 in puisi
Tags: , ,


Berangin-angin di sore hari

Berpanas-panas di siang hari

Berembun-embun di pagi hari

Berjaga-jaga di malam hari

 

Menganjur dengan gagah

Merangkul dengan ramah

Cabar hati dihalau cegah

Membawa suasana rumah

 

Berkorban adalah keharusan

Mulut tanpa keluhan

Perut kenyang harapan

Mengeladau dengan senyuman

 

Bandung, 12 Mei 2012

Niko Saripson P. Simamora

Inilah Harimu

Posted: May 8, 2012 in puisi
Tags: , , , , ,


Kebanggaan di awal pertapaan

Membawa asa kepada segenap sanak

Kesempatan menjadi harapan

Hanya syukur yang tersentak

 

Melalui waktu dengan perjuangan

Sampingkan ego demi kebanggaan

Tidak berharap penghargaan

Hanya syukur yang berkorban

 

Kenangan manis menjadi kenyataan

Senyum menghiasi tantangan

Kaki melaju mapan

Hanya syukur untuk masa depan

 

Inilah harimu

Syukur untuk asamu

Berikan senyum manismu

Raihlah harimu

 

 

Bandung, 8 Mei 2012, 01.10

Niko Saripson P Simamora

Berkaca dari keberadaan orang-orang di sekeliling kita, tentunya memiliki sedikit banyak pengaruh dalam diri kita masing-masing. Dengan kata lain, kita akan cenderung mengadopsi gaya hidup orang lain yang menurut kita baik dan membuang jauh-jauh hal yang lagi-lagi menurut kita kurang baik. Ya, setiap pribadi adalah pemimpin setidaknya untuk dirinya sendiri dan prinsip kepemimpinan adalah pengaruh, walaupun dalam lingkup yang kecil.

Berbicara tentang gaya hidup, pertama-tama dibentuk dalam keluarga lalu kemudian lingkungan-lingkungan yang lain mengikutinya. Keluarga sebagai lembaga dasar pembentukan manusia dasar sebelum terjun ke dalam lingkup pergaulan di luar keluarga. Pengaruh ayah dan ibu tentunya menjadi pembentuk dasar setiap anak, entah itu besar atau kecil, sadar maupun tak sadar. Setelah itu, baru kemudian lingkungan yang mempengaruhi. Lingkungan, dalam hal ini, akan banyak ragamnya. Pertama-tama lingkungan tempat tinggal, sekolah/kampus, klub hobi, kantor, gereja, masjid, dan lain-lain.

Penerapan gaya hidup yang kita terima dari orang lain terkadang terjadi pertukaran yang mungkin tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Contohnya, ketika kita melihat bagaimana seorang anak pengusaha yang sudah barang tentu memiliki kecukupan atau bahkan kelebihan materi akan cenderung memiliki gaya hidup yang mewah, terlihat dari cara berpakaian, kendaraan yang dipakainya, peralatan komunikasi yang dipakainya, dan sebagainya. Kita bandingkan dengan seorang anak sederhana dari kabupaten dengan kemampuan materi orangtuanya yang pas-pasan, gaya hidupnya pun tidak akan mewah. Nah, ketika kedua orang tersebut bergaul dekat, secara sadar maupun tidak, akan terjadi pertukaran pola pikir. Dikarenakan keduanya saling ingin menunjukkan rasa empati. Sederhananya, si anak kaya akan cenderung untuk memilih pola hidup sederhana dan si anak sederhana dengan segala daya upaya berusaha menampilkan diri terlihat mewah. Hal ini memang tergolong kasuistik, namun acapkali terjadi.

Berdasarkan kasus di atas, terjadinya perubahan pola pikir tersebut akan mempengaruhi kehidupan masing-masing ke depan. Si anak kaya bisa dikatakan mudah untuk menjadi orang yang sederhana, karena hanya butuh menurunkan standar hidupnya. Namun bisa berbeda dengan si anak sederhana, yang dengan susah payah harus menaikkan standar hidupnya dengan hal-hal yang pas-pasan. Saya ingatkan kembali bahwa ini adalah hal yang kasuistik. Oleh karena itu, bila dilihat dampak ke depan dalam masing-masing kehidupannya, si anak kaya menjadi positif dan si anak sederhana terkesan negatif.

Sebaiknya seperti apa, sih? Menurut saya, baiklah masing-masing hidup dalam standar hidup yang cukup baginya. Pertama-tama, usahakan jangan terpengaruh dengan gaya hidup yang menekankan materi. Yang kedua, bila materi kita memang memungkinkan untuk memiliki gaya hidup di atas standar, silakan saja asalkan tetap memiliki batas hingga tidak terkesan berfoya-foya. Dan saya ingatkan kembali, bahwa pemahaman yang benar akan rasa cukup membawa kita kepada kehidupan berkelimpahan, penuh syukur dan tanpa iri hati. Lihat gaya hidupmu, kawan!

Ruang Hidrografi Lantai 4, Labtek IX-C, ITB,

7 Mei 2012, 00.37, Niko Saripson P Simamora