Pekik merdeka membahana
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Kemerdekaan mengangkat derajat
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Merdeka karena dibenarkan
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Jangan nodai kemerdekaan
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Bangsaku insan yang merdeka
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Junjung tinggi derajat merdeka
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Kebenaran adalah kemerdekaan hakiki
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Kebenaran demi kemerdekaan
Kemerdekaan untuk kebenaran
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Niko Saripson P Simamora,
Cipularang, 17 Agustus 2016, 07:10

Tak Pernah Gagal

Posted: July 26, 2016 in puisi, Uncategorized
Tags: , , , ,

Ketika tubuh menyentuh udara bumi

Banyak ketakutan yang menghinggapi diri

Usia matang tidak menjadi jaminan

Pengetahuan pun hanya pemanis perbincangan

Kekuasaan hanya sesaat dan menyesatkan

Kekayaan terlihat menarik tapi menjemukan

Kekerabatan hanya sebatas kehidupan

Apa yang lumrah adalah kekejian

Mata menjadi sombong

Lidah penuh bohong

Tangan menjadi penumpah darah

Hati bisa berencana jahat serta zinah

Kaki hanya bisa berlari mengejar kebatilan

Saksi dusta tumbuh bermekaran

Pecahlah sesama saudara bertengkaran

Sudahlah nyata bahwa segala sesuatu menuju kegagalan

Adakah kau rasa yang mampu menghalaukan

Aku yakin masih ada

Apakah itu

Kasih

Cinta

Sayang

Sebutkan itu

Mereka tidak pernah gagal

Rasakan dan lakukan!

Niko Saripson P Simamora
Bandung, 26 Juli 2016, 14.00 WIB

Galah panjang telah tergelar

Di tengah arena luas terbentang

Petak-petaknya pertanda tantang

Kepada siapa yang gemar

 

Gertakan datang menghadang

Penantang harus petah berpikir

Menerjang lintang dengan lancar

Menahan diri membeka tenang

 

Seolah menanti kelak menyerang

Menahan langkah dengan tegar

Menghela nafas menyambut segar

Segera merengkuh momen menang

 

Seakan sangar bertindak barbar

Melalui rintang dengan garang

Menembus hembusan sepoi alobar

Sesaat kemudian bersorak girang

 

Bandung, 30 Juni 2016, 19:30

Niko Saripson P Simamora

 

Perlahan kaki menapaki langkah demi langkah
Menempuh jarak maju tanpa batas pandang
Beban jiwa belum menjadi pembendung saluran
Peluh segar mengalir sejauh kepastian harapan

Sekelompok gajah berjalan dalam ketidakpastian
Bersatu mengumpulkan tenaga bangkit membangun
Jalur emas yang menjadi primadona negeri terkini
Memantik sebuah kesadaran paripurna nan luhur

Indahnya lembah membahana hingga semesta
Bermula ketika lahar terbatuk menyapa langit
Pesona biru merekah menyapa lembut kornea
Airmu jernih sumber kehidupan segenap bangsa

Tidak ada suara yang membelah tua pun muda
Hanya nyanyian alam membawa tenang sanubari
Iramanya harmonis
Kebulatan tekad menjadi kekuatan penuh bersama

Bandung, 3 Juni 2016, 05:50
Niko Saripson P Simamora

 

Euforia Galau

Posted: May 7, 2016 in puisi, Uncategorized
Tags: , , ,

Ramai-ramai orang sedang membicarakanmu

Tidak kurang ruang untuk memuat kabarmu

Ke manakah kami selama ini menurutmu

Adakah punggung kami selama ini menghadapmu

 

Sinar matahari selalu hadir menyengatmu

Pantulan bening biru pesona pancaranmu

Apakah itu hanya belaka sensasimu

Ataukah sebenar-benarnya rupamu

 

Sejak lama insan meneguk puas airmu

Jernih segar aura sedap rasamu

Mengapa tidak pernah kami menghargaimu

Mungkinkah lebih puas untuk memerasmu

 

Sekarang kami datang lagi kepadamu

Kami sadar telah lama mengabaikanmu

Seramainya euforia untuk menyenangkanmu

Demi generasi yang selalu menyanjungmu

 

Enyahlah rasa galau terhadapmu

Saatnya tangan turun menyapamu

Ramai-ramai orang sedang membicarakanmu

Ini wajah kami datang untuk memelukmu

 

Bandung, 7 Mei 2016, 19.10

 Niko Saripson P Simamora

PerEMPUan

Posted: April 21, 2016 in puisi, Uncategorized
Tags: , , , ,

Ada sebuah kisah tentang sosok pesona
Hadir di saat Khalik bermesra dengan Adam
Nihil sebuah keinginan dari insan
Hanya kehendak dari Sang Kuasa
Munculnya dia pun diambil dari tubuh fana
Dia bukan yang pertama tapi terutama
Tanpanya, hampa seorang debu perkasa
Dengannya, hidup menjadi semakin berwarna
Jalan-jalannya membawa kepada makna
Kekuatan terasa dalam sentuhan lembutnya
Keberadaanya adalah sumber munculnya bangsa
Meski begitu Ia pun masih bisa tergoda
Dunia terkadang begitu penuh bahala
Jangan pernah menganggapnya hina
Tetaplah memandang kepada asa
Berilah selalu tempat adiratna
Bagaimanapun dia sumber adiwangsa
Engkau sepantasnya disebut Empu
PerEmpuan adalah sebuah muruah
Mari saling menjaga sesama
Kisah ini kisah kita
Pantaslah posisinya menjadi adiluhung

Bandung, 21 April 2016, 21:00, Hari Kartini
Niko Saripson P Simamora

Tabir Terbelah!

Posted: March 29, 2016 in puisi, Uncategorized
Tags: , , , , , ,

Gelap tidak seperti biasa
Sang surya pun enggan menyengat
Semesta tidak punya nyali
Ada kuasa apa gerangan?

Para perwira takjub penuh heran
Penghukuman biasa menjadi amaran
Tak ada ragu, tak perlu sedat
Tapi suasana itu berbeda

Olok-olok dibalas diam
Cambuk dibalas tegar
Silang dibalas tenang
Paku dibalas doa

Ini berbeda
Bukan seorang manusia biasa
Ada kuasa ilahi di sana
Sungguh berbeda

Kala itu tangis masih meraung
Ratap wanita membahana
Detik mencekam
Seakan menjelang kiamat

Gempa mengguncang
Tirai Terbuka!
Tabir Terbelah!
Hah, apa pasal?

Sekat antara manusia dan ilahi terbongkar
Fenomena ajaib dalam sejarah
Insan duniawi bebas menyapa sorga
Jiwa kalis dari lumpur dosa

Tabir terbelah!
Sekali untuk selamanya!

Bandung, 29 Maret 2016, 07.30 WIB
Niko Saripson P. Simamora