Archive for December, 2014

Senyum Damai Si Bapak Tua

Posted: December 12, 2014 in cerpen
Tags: , , , , ,

Mobil tuanya bertingkah lagi. Rasa kesal pasti ada dalam hatinya. Tapi, dia pintar menyembunyikan ekspresinya. Senyum masih merona dari wajahnya. Mencoba merasa damai terpancar dari bahasa tubuhnya. Jangan sampai keadaan mempengaruhinya. Ia yang harus menguasai keadaan.

Mobil itu sebenarnya tidak terlalu tua. Masih tergolong mobil lama yang banyak beredar di jalanan. Tentu, masih lebih tua bis-bis metro mini di ibukota. Awalnya sangat bangga ketika mendapatkan mobil tersebut di masa menjelang pensiun. Namun, ternyata mobil yang diperoleh dari sahabatnya itu tidak bisa diandalkan lagi. Itu yang dirasakannya setelah mengobrak-abrik jalanan dengan mobil itu selama dua tahun belakangan. Dan saat ini, adalah kali kedua mobil bongsor itu bertingkah.

Setelah dioperasi habis alias bongkar mesin, ternyata sakitnya tidak sembuh total. Mobil itu ibarat tubuh yang terkena malaria. Kalau sudah pernah sembuh, jangan pikir bisa sembuh total. Sesekali pasti akan muncul lagi, dan bahkan bisa lebih parah terutama ketika daya tahan tubuh sedang menurun. Mungkin itu yang sedang dialami si harimau itu.

Si Bapak tua itu ke luar dari mobil. Mencoba mengutak-atik telepon genggamnya, mencari-cari kontak yang bisa dihubungi untuk membantunya.

“Halo, bos? Lagi di mana?” tanya si bapak tua.

“Lagi di bengkel, ada apa lagi?” tanya si kontak di seberang.

“Bisa minta tolong?” tanya si bapak tua lagi,” Mobil lagi rusak ini, harus diderek,” lanjutnya.

Tuttt..tuttt..tuttt..

Terdengar komunikasi yang sengaja diputus oleh si kontak di seberang. Si bapak tua tersenyum. Menghibur diri, mengundang damai kembali bersemayam di hatinya.

Hari semakin sore, gelap temaram sudah muncul menggayuti lokasi Si bapak tua dan mobilnya. Hatinya mulai sunyi. Tetap masih tersenyum mengutak-atik telepon genggamnya. Belum ada kontak lain yang dia hubungi. Masih ragu-ragu, antara menghubungi yang sebelumnya atau tidak. Di tengah keraguan, ia duduk sejenak di dalam mobil.

Ia pun tertidur karena kelelahan seharian mengerjakan ladangnya.

Pagi harinya, ia terbangun. Ia sudah berada di rumah. Ia lalu bergerak ke luar rumah. Senyum seketika terpancar di wajahnya. Damai begitu damai, lebih damai saat ia bingung ketika mobilnya bermasalah lagi.

“Pa, besok pakai mobil baru ini, ya. Jangan pakai yang bekas itu lagi!” ucap istrinya, “ Ini hadiah dari si bontot mu, dia nggak mau ditelepon buat ngederek mobil,” lanjutnya.

“Ah, syukurlah!!!” senyum damai si bapak tua merekah lagi.

Jakarta, 12 Desember 2014, 13.25
Niko Saripson P Simamora

Advertisements

Bebaskan Rasamu

Posted: December 3, 2014 in puisi
Tags: , ,

Bebaskan rasamu

Baru dimulai

Perjalanan sejati

Mantapkan hati

Bebaskan rasamu

Banyak kerikil

Mengganggu kakimu

Mengusik akal

Bebaskan rasamu

Udara kotor

Merasuk dadamu

Membawa ketir

Bebaskan rasamu

Bunyi riuh

Menggoyang asamu

Beralih langkah

Bebaskan rasamu

Lepas ambisimu

Buang egomu

Depak citamu

Bebaskan rasamu

Berjalanlah cerau

Bernapaslah syahdu

Bersendenglah nirjemu

Bebaskan rasamu

Bebaskan bebaskan

Rasamu rasamu

Rasamu bebaskan

Jakarta, 3 Desember 2014, 11:03

Niko Saripson P Simamora