Archive for June, 2013

Cerita Foto

Posted: June 27, 2013 in news
Tags:

68610022_edited

Sepintas aku tidak melihat apa-apa dari sebuah foto yang terlihat ketika aku mengutak-atik data-data hasil jepretan kamera analog jadul Nikon FM10-ku. Hanya sebuah pindaian dari cetakan klise foto yang merefleksikan cahaya seadanya di sela-sela sebuah momen wisuda dari kakakku. Foto itu terlihat cukup apik karena objeknya dibalut pakaian yang sering digunakan dalam acara-acara resmi. Cukup kontras memang, yang satu merefleksikan budaya Eropa sedang yang satu merefleksikan budaya Indonesia. Tetapi, justru menambah tingkat elegansi dari kualitas gambar itu.

Hmm…

Foto ini memang tidak banyak menceritakan apa-apa ketika melihatnya sepintas saja. Mari mulai melihat sedikit lebih kedalaman cerita yang bisa didapat dari gambar itu. Sudah siap?! Oke, kencangkan sabuk pengaman anda, lihatlah bahwa bagian atas lelaki di dalam foto itu sudah memutih, ya, uban sudah menjadi penghias di kepalanya. Tahukah anda? Sekitar dua puluh tahun yang lalu, uban itu belum berani menampakkan dirinya. Tentu saja. Kala itu, lelaki itu muda dan sangat enerjik. Aku menjadi saksi hidup akan hal ini. Ketika itu, aku melihat bahkan menyentuh langsung kepala itu. Aku duduk persis di belakangnya, bertumpu pada pundak kekarnya, diajak berkeliling sore-sore di sekitar rumah, kalau tidak salah, rumah dinas tempat adikku dilahirkan. Perasaan takutku sama sekali tidak ada, ya, kakiku dipegang erat dan tanganku berpegang kepada kepala. Aman sudah.

Coba bandingkan sekarang. Tentu tak pantas lagi aku berada di pundaknya. Aku bahkan lebih tinggi darinya. Di lain sisi, satu hal yang tak berubah dan kusyukuri, senyumnya  masih sama. Asli masih sama. Sekali lagi, senyumnya masih sama. Senyum tulus dan bahagia bahkan bangga ketika bisa menghantarkan anak-anaknya melewati masa-masa studi dan lulus dari pendidikan tinggi. Satu hal yang juga ia dapatkan dengan susah payah di masanya. Dari luar, tubuhnya menua, namun semangatnya tidak. Masih awet, bahkan hingga saat ini. Suaranya masih tegas, pemikirannya masih mantap, hidupnya tetap sederhana, tetapi kasihnya memperkaya. Oh, terima kasih Tuhan!

Oh iya, di kesempatan berikutnya kita akan kupas tentang wanita super di sampingnya. Oke..oke!!!

Selamat ulang tahun, Pa’el! Masa-masa indah di usia lima puluhan akan segera berakhir, bersiaplah dengan pengalaman-pengalaman baru bersama kasih karunia Sang Bapa.

 

Bandung, 27 Juni 2013, 00.15

Niko Saripson P. Simamora

-Hari Ulang Tahun Ke-59 Ramses Simamora, Amani Marganda, Ompung ni si Ashanda-

Advertisements

Betapa beruntung nasib seorang Ester ketika Raja Ahasyweros-raja atas seratus dua puluh tujuh daerah dari India sampai Etiopia- mengangkatnya menjadi ratu menggantikan Ratu Wasti yang dilengserkan dari permaisuri hanya karena menolak menaati titah raja, yang bila dipikir-pikir cukup sederhana. Bila dibandingkan saat ini, mungkin ratu itu habis diolok-olok oleh perempuan lain di lingkungan kerajaan padahal hanya diminta ‘tepe-tepe’ oleh Raja Ahasyweros.

Bila diperhatikan, hal itu menjadi sebuah sindrom kekuasaan pertama yang muncul di kalangan istana. Raja dengan segala kekuasaannya memiliki kewenangan yang tak terbatas atas segala hal, selama itu di daerah kekuasaannya. Di lain sisi, Ratu Wasti pun tak mau kalah. Emang lu aja yang bisa berkuasa, Gua juga pengen. Mungkin itu yang mendasari beliau tidak menghiraukan titah sang Suami.

Raja atas bisikan dari pembesar-pembesar yang juga memiliki sindrom kekuasaan akhirnya membuang sang ratu. Tragis sekali. Kecenderungan manusia memang selalu ingin menampilkan kekuasaannya, apalagi laki-laki. Jadilah Raja Ahasyweros tanpa permaisuri, sehingga sesuai pesan dari pembesar-pembesar, diadakanlah sayembara untuk mencari perempuan-perempuan tercantik yang beruntung dari seluruh negeri untuk dijadikan Ratu.

Berita itu santer hingga ke telinga Mordekhai, orang buangan dari Yerusalem yang tinggal di sekitar Benteng Susan. Ia pada waktu itu mengasuh Hadasa, anak saudara ayahnya yang sudah yatim piatu. Ester, sebutan lain Hadasa, adalah seorang yang elok perawakannya dan cantik parasnya. Ia pun turut sayembara dan mengikuti prosedur yang ada. Dalam pada itu, Mordekhai senantiasa mendukung dengan berjalan tiap-tiap hari dari depan istana untuk mengetahui keadaan jagoannya itu.

Ester menjadi seorang ratu, namun Ia tetap menghargai Mordekhai sebagai ayah angkatnya. Mordekhai pun begitu, tidak serta merta merasa dekat dengan lingkaran kekuasaan. Bahkan mereka masing saling kontak, begitupun ketika Mordekhai mengetahui persekongkolan untuk membunuh raja. Mereka bekerja sama secara apik. Ester menjadi informan kepada raja, Mordekhai pun tidak serta merta merasa sok pahlawan.

Sindrom kekuasaan kemudia terpancar dari Haman, pembesar yang dinaikkan pangkatnya oleh raja pada saat itu sudah mengetahui keberadaan Mordekhai  dan bangsanya. Sindrom kekuasaan memang dipengaruhi  oleh motif pribadi. Ia kemudian melapor kepada raja dan ingin memunahkan mereka. Mordekhai tak punya kuasa menghadapinya, ia pun hanya bisa berkabung dan diikuti oleh bangsanya sehingga kedengaran kepada Ratu Ester.

Dengan segala upaya, Ratu Ester memanfaatkan kekuasaannya untuk sebesar-besar keselamatan bangsanya. Inilah sindrom kekuasaan yang positif. Kekuasaan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kesejahteraan banyak orang. Pada akhirnya, kekuasaan yang dimanfaatkan dengan benar memberikan kemenangan kepada semua orang. Haman pun harus mati di tempat penyulaan yang disediakannya untuk Mordekhai. Di lain sisi, Mordekhai semakin dihormati bahkan diberikan ‘bintang mahaputra adipradana’ oleh Raja Ahasyweros. Menarik sekali bukan?

 

Jakarta, 26 Juni 2013, 18.50

Niko Saripson P Simamora

Diadaptasi dari Ester 1-10

 

Kepala mendongak

Punggung telentang

Awan bergerak

Nirwana merentang

 

Langit biru

Daun hijau

Air kemilau

Semesta syahdu

 

Senyum merekah

Otot membuncah

Kaki melangkah

Tiada resah

 

Kusentuh airmu

Dingin auramu

Kuhirup udaramu

Segar baumu

 

Way Abung

Sejenak merenung

Otak bertarung

Ilham melengkung

 

Indah pesona

Tiada terkata

Pena tertata

Membangun makna

 

Bukit Kemuning-Lampura, 22 Juni 2013, 14.30 WIB

Niko Saripson P. Simamora

Galiot Baja Akur Sedulur

Posted: June 6, 2013 in puisi
Tags: , , , , , ,
Terinjak kaki ke tanahmu
Keras nan liat tengkuk terpaku
Pertanda mineral penyusunmu
Tegak leher buat pandu
 
Tertambat galangan di labuhanmu
Tenang mendayu angin merayu
Menghantar karun tak karu
Baruna tersenyum simpul sipu
 
Terbuai sayap di apronmu 
Segar tak bacul hawamu
Mengudara kilat pancar kemilau
Batara candra segenap haru
 
Ah, tak ada kurang apamu
Semua persil berkoloni bagimu
Selayak galiot baja menghias terasmu
Akur sedulur demi jaya bangsamu
 
Kota Baja, 6 Juni 2013, 21.34 WIB
Niko Saripson P Simamora

Kota Mengudara

Posted: June 3, 2013 in puisi
Tags: , , ,

Jalan-jalan di sini dulu sepi

Nenek moyangku jadi saksi

Seluas tanah bisa jadi lokasi

Anak manusia duduk meratapi

 

Hentakan bumi dirasa biasa

Kaki-kaki biota menjadi penanda

Sesak dan gundah beranjangsana

Namun tidak menyirat luka

 

Sekarang kaki melangkah ke mana?

Denyutnya nirlanggam teraba

Semua serba dikemas bara

Sakitnya menghantar mara

 

Ini kota sudah mengudara

Sejatinya bumi diregang paha

Meringkas di bibir senyum sapa

Seumpama rasa sebegitu tara

 

Kota udara menyisa banyak tanya

Kaki-kaki menginjak kepala

Menebal batas jiwa raga

Menghayati kodrat sang bangsa

 

Jakarta, 3 Juni 2013, 23.53

Niko Saripson P Simamora