Archive for November, 2011

Mahaerupsi gunung api Toba 74.000 tahun yang lalu merupakan yang terbesar di dunia dalam kurun waktu dua juta tahun terakhir. Sebegitu dahsyatnya letusan ini, sehingga mempengaruhi peradaban manusia saat itu bahkan hingga kini. Sebaran awan panas mencapai radius 200.000 km2 dengan suhu mencapai 550 oC bila dibayangkan menjadi musibah dahsyat yang tak pernah terpikirkan oleh umat manusia saat itu. Tak ada yang bisa melawan aktivitas alam ini, atau mencegahnya layaknya seorang juru kunci yang dianggap punya daya kendali. Sekalian lingkungan bisa dipastikan luluh lantak dan hanya menjadi saksi bisu kegarangan gunung api raksasa ini. Bisa jadi peristiwa ini menjadi awal mula perubahan iklim dan temperatur global jagad ini.

Lalu, mari kita melangkah ke 74.000 tahun setelahnya. Betapa kita tidak terkejut dengan indahnya alam yang leluasa kita pandangi saat ini. Ya, sisa kedahsyatan letusan supervolcano Toba itu menjelma menjadi warisan manis di generasi ini. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Tao Toba Na Uli, Danau Toba yang permai. Indah, permai, elok, rancak, uli, ture hingga tak terungkapkan kata-kata pujian yang disematkan kepada kaldera terbesar di dunia ini. Sebuah lirik lagu Batak menggambarkannya demikian :

O Tao Toba

Angka dolok na timbo
do manghaliangi ho
o TaoToba na uli
tapianmu na tio i tongtong
di bahen ho dalan lao tu pulomi

hauma na tung bolak
adaran na pe lomak
di pangisi ni luat mi
pinahan na pe rarak
pandaraman pe bahat
nahumaliang topi mi

Reff:
O Tao Toba
raja ni sude na tao
tao na sumurung na lumobi ulimi
molo huida rupami sian na dao
tudos tu intan do denggan jala uli
barita ni hinaulim di tano on

umpama ni hinajogim di portibi on
mambahen masihol saluhut ni nasa bangso
mamereng ho o Tao Toba na uli.

O Danau Toba

Segala bukit yang tinggi
yang mengelilingimu
o Danau Toba yang permai
airmu yang jernih, tetap
dibuat menjadi jalan menuju pulaumu

daratannya pun subur
sawah yang begitu luas
daratannya pun subur
pencaharian pun banyak
di sekeliling tepi mu

Reff:
O Danau Toba
raja segenap danau
danau yang lebih baik lagi permai
kalau kupandang rupamu dari kejauhan
seperti intan bagus dan permai
berita keindahanmu di tanah ini

pantun keindahanmu di bumi ini
membuat rindu segenap bangsa
melihatmu o Danau Toba yang permai

Betapa damai jiwa bila mendengar lagu di atas seraya duduk di tepinya atau sekedar lintas pandang dari kejauhan. Suguhan kopi hitam dan lampet (sejenis penganan dari tepung beras) menjadi penambah nikmat suasana danau ditambah udara dingin nan sejuk. Indah betapa indah. Bahkan setiap tahun, segenap rakyat diajak bersuka dengan Pesta Danau Toba. Oh, sungguh warisan manis.

Namun, berita keindahan Danau Toba kini semakin terdengar miring. Danau yang merupakan reservoir air tawar segar terbesar di Asia Tenggara ini seolah meradang. Eksploitasi keindahan disertai kekayaan alam sekitar meningkat signifikan tanpa disertai pemeliharaan yang mumpuni. Warisan manis itu kini mulai terasa hambar. Tanya mengapa? Sudah saatnya merenung, keindahan alam juga butuh perawatan layaknya gadis cilik yang akan tumbuh menjadi wanita cantik. Merawat Danau Toba tidak hanya sebatas datang, melakukan kegiatan sosial dan setelah itu pulang dengan senang. Pemeliharaan melalui pola pikir harus menjadi yang utama. Pendidikan ke masyarakat di sekitar danau harus menjadi agenda banyak pihak yang akan melakukan kegiatan-kegiatan kepedulian terhadap Danau Toba.

Sejenak layangkan pandang kembali ke 74.000 tahun yang lalu. Begitu ngeri dan suram amarah gunung api raksasa Toba, namun manis warisannya. Tugas kita kini hanya merawat dengan bertanggung jawab sehingga Danau Toba akan tetap manis dan menghayalkan Sang Khalik tersenyum dan mengizinkan manisnya warisan ini untuk selama-lamanya serta cincin api yang melintasinya menjadi penambah manisnya cerita.



 

Advertisements

Sakit ini “membunuhku”

Posted: November 15, 2011 in otak atik otak
Tags: ,

 

Pengalaman dirawat dua kali berturut-turut dalam kurun waktu 2 bulan menjadi pengalaman terburuk yang harus kualami. Tak pernah terbayangkan olehku menjadi penghuni rumah sakit. Keyakinan bahwa doa dan harapan keluarga kami yang selama ini selalu kami pegang teguh runtuh seketika, terutama Ayah saya. Dia sangat tekun berdoa agar segenap keluarga senantiasa dalam keadaan sehat dan sedapat mungkin tidak menginjak rumah sakit. Bahkan saya pun sangat bersemangat ketika bercerita tentang hal ini kepada teman-teman saya. Namun apa lacur, saya menjadi orang yang memupus harapan ini.

Hal ini sangat mengkhawatirkan orangtua saya begitupun saya sendiri apalagi ketika mengetahui penyakit yang saya derita adalah malaria, si pembunuh nomor satu di dunia menurut WHO. Kepercayaan diri saya turut runtuh, tubuh saya tidak sekuat yang saya dan mungkin teman-teman saya pikirkan. Jarak yang memisahkan saya dengan orangtua sayapun menjadi penambah kadar kuatir di antara kami. Namun, saya yakin pertolongan Tuhan tidak pernah kurang, selalu cukup dan tepat waktu. Saya dibantu oleh sahabat-sahabat saya di tanah rantau ini dengan sangat baik. Saya tidak pernah membayangkan bantuan yang seperti mereka berikan, bahkan terkadang rasa segan untuk meminta bantuan yang timbul. Namun, apa yang mereka tunjukkan adalah ketulusan. Saya sangat menghargainya sehingga tidak tahu harus berbuat apa untuk membalasnya. Yang saya dapatkan adalah pelajaran, “Jangan berharap atau mengambil sesuatu (keuntungan, dsb) dari persahabatan tetapi berilah sesuatu kepada persahabatan. Beri! Beri! Beri!”

Saya memang sudah lama keluar dari rumah sakit(dan tidak akan pernah dirawat lagi>>>Amin), namun trauma masih menghantui saya. Begitu banyak hal yang bisa saya lakukan sebelum sakit, namun saya harus menguranginya. Cara hidup sehat harus menjadi bagian dari diri saya dan saya sedang berusaha untuk senantiasa menerapkannya. Semoga ini menjadi gaya hidup saya. Dan saya sarankan juga agar teman-teman semua menjaga kesehatan dan bila perlu sering berkonsultasi dengan dokter. Hidup adalah anugerah. Hidup sehat adalah pilihan untuk menghargai anugerah. Selamat hidup sehat!!

Agama dan Budaya

Posted: November 8, 2011 in otak atik otak
Tags: ,

Agama dan budaya, dua kata yang bila disandingkan akan menimbulkan perdebatan yang sengit namun menarik. Menarik? Tentu saja. Dalam keseharian umat manusia, setiap gerak-gerik dapat direfleksikan dalam unsur agama dan budaya.

Sebagai hasil karya manusia, agama dan budaya memuat unsur yang tentunya dapat diterima oleh manusia itu sendiri. Dan hasil karya ini dapat berbeda maupun sama di tempat berbeda dan di tempat yang sama. Agama budaya atau budaya agama. Jelaslah bahwa hasil karya manusia ini memiliki keterbatasan. Keterbatasan itu semakin diperparah oleh natur dosa yang merusak seluruh aspek kehidupan manusia ketika diusir dari taman Eden. Keterbatasan itu harus menjadi perhatian segenap umat manusia yang memiliki agama dan budaya.

Cara terbaik untuk tetap bisa menjalankan agama dan budaya dalam koridor yang benar adalah dengan menyandarkannya dengan kebenaran. Ya, kebenaran yang unik dan satu-satunya yaitu kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta Semesta, Allah kita. Bagaimana mendapatkan Kebenaran itu? Turuti perintahNYA, baca Alkitab!

Hore!!!

Bandung, 8 November 2011- 12.15

Niko Saripson P Simamora

Selamat Jalan,Oppung!

Posted: November 6, 2011 in Uncategorized

“Olo”, kata terakhir yang saya dengar dari mulut Oppung dengan nada lirih ketika saya bertelepon begitu mengetahui Oppung terbaring sakit.

Sedemikian banyak kata yang saya ucapkan untuk menguatkan Oppung dan memberi harapan serta menagih janjinya untuk hadir pada hari wisudaku, namun hanya jawaban di atas yang terucap. Kini aku mengerti, Oppung sudah tahu akan segera bertemu BAPA dan hal itu sangat istimewa baginya.

 

Sekilas memori mengarahkanku beberapa bulan sebelumnya, kami juga sempat berbincang-bincang sekedar bertanya kabar. Oppung mengingatkanku untuk menjaga kesehatan selama masih muda (aku kecolongan ketika harus masuk rumah sakit dua kali dalam kurun waktu dua bulan setelah percakapan itu) seraya mengatakan bahwa kalau dirinya sudah cukup tua dan akan segera borhat (=berangkat). Pernyataan itu sempat kusanggah dengan mengatakan bahwa Oppung masih harus hadir dalam wisuda dan melihatku menikah bahkan punya cucu laki-laki ini. Namun, Oppung sudah tahu kehendakNYA. Ia tidak menolak juga mengiyakan,hanya memberi sinyal kalau aku bisa mengerti nanti.

 

Tanggal 26 Oktober 2011, Pukul 10.15 di Sumbul, Oppung menghembuskan nafas terakhir di dunia dan berangkat menuju Kebahagiaan Kekal, Sorga Abadi.

 

Selamat jalan,Oppung! Kebahagiaan surgawi milikmu kini. Teladanmu dalam mengandalkan Tuhan menjadi warisan yang paling berharga bagi kami.