Archive for March, 2011

Hari Bahagia Untuk Mama

Posted: March 21, 2011 in Uncategorized

Hari ini, tepat tanggal 21 Maret 2011, adalah hari yang istimewa untuk seorang yang bernama Lidia Manik. Oh, tentu saja. Perempuan cantik ini telah dianugerahi usia emas oleh Sang Mahakuasa. Sungguh merupakan berkat yang luar biasa ketika di hari yang istimewa ini, istri dari seorang suami ganteng nan bijaksana ini, berada dalam kesehatan yang baik dan sukacita yang lengkap. Pengalaman hidup lima puluh tahun merupakan perjalanan yang cukup panjang bagi nande yang satu ini. Namun, atas berkat Tuhan saja, damai sejahtera tetap menjadi bagian hidupnya.

Lebih dari setengah masa hidupnya telah membimbing dua putri yang cantik dan dua putra yang ganteng. Semuanya itu tentunya membawa pengalaman hidup yang luar biasa. Bahkan, bisa dikatakan bahwa kehadiran empat kurcaci itu memberi warna yang beragam dalam kehidupan ibu ini. Paling beruntung lagi, ibu yang satu ini menjadi seorang penolong bagi seorang suami yang luar biasa. Sungguh semua itu adalah berkat Tuhan. Pokoke mantap.

Begitu banyak kisah yang telah ma’el(=panggilan mama di rumah) jalani. Ada yang indah, yang bisa kita syukuri. Ada juga yang kurang indah (baca:buruk), apalagi menghadapi si kanai yang kadang sipanggaron karena siangkangan, si kirmik yang suka murhing, si kingkong yang jugul ini, atau si kemong yang murtang. Hehehe. Tapi tetap kita syukuri juga.

Tidak banyak hal yang bisa kuungkapkan lagi dalam kata-kata, ya ma’el. Hanya sebuah doa yang bisa kupanjatkan semoga di hari bahagia ini, sukacita dan damai sejahtera tetap menjadi milik mama. Mama tetap menjadi “leher” yang menopang kepala keluarga kita, si pa’el. Dan terlebih lagi, tetap menjadi “tiang doa” yang menyangga segenap keluarga. Juga tetap menjadi abdi negara yang baik terutama dalam melayani kesehatan masyarakat. Dan senantiasa semangat dalam melayani Tuhan dalam paduan suara, persekutuan doa, dan apapun kegiatan mama. Tak lupa, kami pesankan umur panjang kepada mama supaya bisa sehat-sehat menjalani hidup di hari-hari ke depan, terutama setelah menyandang gelar baru sebagai oppung.

Selamat Ulang Tahun, Ma’el!!!

Kami mengasihimu..(pa’el, gan, ir, nik, ray)

21 Maret 2011, 00:15

Advertisements

Dalam rangka menghikmati SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 2010, ITB-Wanadri-Rumah Nusantara mengadakan Pameran dan Lokakarya yang bertema “Menjaga Tepian Tanah Air”. Acara ini berlangsung dari Senin-Jumat, 25-29 Oktober 2010 di Campus Center Timur ITB. Dalam rangkaian acara tersebut, saya berkesempatan mengikuti lokakarya dengan topik “Permasalahan Perbatasan Wilayah NKRI di Pulau-pulau Terdepan Indonesia” bertempat di Auditorium IPTEKS Campus Center Timur ITB.

Narasumber yang hadir diantaranya : Prof. Dr. Etty R. Agoes (Guru Besar Hukum Internasional Unpad), Kol.Laut Trismadi (Dishidros-TNI AL), Nawir H. Pedju (PT.  Seliacipta Bestari Lima), Prof. Sjamsir Mira (ITB), Prof. Joenil Kahar (ITB-Mantan Ka.BAKOSURTANAL) dan dari Tim Garis Depan Nusantara. Dengan moderator Dr. Eka Djunarsjah (Dosen Hidrografi Tek. Geodesi ITB, Kepala Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB).

Lokakarya diawali oleh paparan dari Prof. Etty tentang Aspek Hukum yang mengatur tentang wilayah NKRI, batas wilayah, serta yurisdiksi terhadap kedaulatan wilayah tersebut. Secara khusus dijelaskan juga tentang masalah perbatasan di laut dan aspek legal perundang-undangan Republik Indonesia terhadap Hukum Laut yang disepakati secara Internasional( sering dikenal dengan UNCLOS 1982).

Dilanjutkan dengan pemaparan dari Kol. Laut Trismadi yang mengemukakan perihal penanganan permasalahan perbatasan maritim NKRI dan pulau-pulau kecil terluar. Diungkapkan bahwa Indonesia telah menginventarisasi 92 pulau kecil terdepan dan telah dideposikan ke PBB, sehingga ke-92 pulau tersebut telah dilindungi secara hukum menjadi milik Indonesia. Trismadi juga mengemukakan masih perlu dilakukan perundingan tentang batas laut dengan negara tetangga, walaupun sebagian sudah selesai dilakukan.

Dari aspek pendidikan, Prof. Sjamsir Mira mengungkapkan pengalaman-pengalaman beliau ketika masih aktif mengajar di ITB. Beliau mengungkapkan bahwa pernah merancang “Profil Kelautan ITB” berkaitan dengan pengamatan beliau akan kebanyakan bidang ilmu di ITB yang berurusan dengan laut. Bahkan beliau mengungkapkan bahwa negara Indonesia bukan merupakan kepulauan yang dikelilingi laut, melainkan laut yang ditaburi pulau-pulau. Ungkapan tersebut menunjukkan betapa luasnya laut Indonesia. Beliau juga mengharapkan untuk ke depannya, pola pikir Laut ditanamkan sejak dini kepada anak-anak Indonesia. Ini dibuktikan oleh Tim Garis Depan Nusantara (GDN) yang telah berekspedisi ke 92 pulau terdepan dan mengungkapkan masih banyak anak-anak yang hidup di dekat laut masih memiliki pola pikir darat dibuktikan dengan masih banyaknya anak-anak yang ketika disuruh untuk menggambar yang mereka gambarkan adalah gunung, jalan, bahkan mobil, gedung tinggi, mobil dan sebagainya. Hal tersebut juga menjadi pesan yang disampaikan oleh Prof. Joenil Kahar. Beliau mengingatkan bahwa pulau terdepan menjadi teras Indonesia, oleh karena itu perlu manajemen yang baik.

Nawir H. Pedju seorang praktisi memaparkan tentang landasan berpikir untuk menjaga Tepian Tanah Air yang telah tergerus. Beliau mengungkapkan pentingnya Pendidikan, Politik, Ekonomi yang disebut sebagai Triple Helix dalam upaya menjaga kedaulatan RI khususnya di daerah perbatasan. SDM yang baik, bila dikelola dengan baik akan menghasilkan keluaran yang baik dan berdampak baik dalam peningkatan martabat bangsa di mata internasional. Sebelum acara berakhir, tim GDN berbagi sedikit pengalaman mereka tentang ekspedisi ke 92 pulau terdepan Indonesia tersebut. Dengan semangat yang berkobar-kobar, kegiatan yang telah direncanakan lima tahun sebelumnya ini, dapat terlaksana dengan baik.

Jayalah Maritim Indonesia!!!

 

Niko Saripson P Simamora

Bandung, 25 Oktober 2010

Siang hari itu merupakan hari yang terasa cukup panas walaupun di luar terlihat mendung. Sebagian besar anak muda sibuk berkutat dengan soal ujian yang sudah beberapa saat disodorkan. Ternyata hari itu terasa panas karena dipengaruhi oleh perasaan yang was-was ketika melihat soal-soal yang diujikan. Kata-kata soalnya cukup familiar, namun makna di baliknya terasa gelap di pikiranku. Gelap segelap-gelapnya hingga gerakan penaku tidak banyak menari-nari di atas lembar jawaban. Istirahat sejenak. Pikiranku menerawang ke arah yang tak menentu. Alih-alih memikirkan jawaban pertanyaan, aku malah mencoret-coret bagian kosong di belakang lembar soal. Menggores pena yang merumuskan formula pemikiran yang timbul saat itu. Demikian rumusan yang kuperoleh secara spontan :

1.    Betapa bodohnya orang yang tidak belajar, dalam bidang apapun.

2.    Orang bodoh yang sedikit belajar berlaku seolah-olah orang pintar.

3.    Orang yang belajar, menghindarkan dirinya dari kebodohan

4.    Orang yang paling bodoh menutupi kebodohannya dengan cara-cara yang bodoh.

5.    Orang yang lebih paling bodoh ikut serta dalam kegiatan orang yang paling bodoh.

6.    Pembodohan lebih cepat merambat.

7.    Ah, udah capek aku jadi orang bodoh.. (BELAJARLAH!!!).

Rumusan di atas timbul sebagai pelarian dari bodohnya diriku. Sedikit senyum sempat mewarnai wajahku ketika memutuskan untuk menuliskannya. Ada perasaan malu bahwa dengan menuliskan hal-hal di atas, aku mengikrarkan diri sebagai orang bodoh. Ya, aku harus mengakuinya, berawal dari ketidakmampuan diriku menjawab soal ujian, aku semakin menyadari bahwa aku ini orang bodoh. Sedikit pun tidak ada bekal di otak yang bisa dimanfaatkan untuk menjawab soal-soal tersebut. Buntu benar-benar buntu. Sepertinya aku juga punya rekan senasib, siapapun itu. Itu merupakan saat yang suram bagiku. Aku sempat berlaku seolah-olah orang pintar, tapi sangat sulit bagiku. Juga sempat ada gejolak untuk menutupi kebodohanku dengan cara-cara yang bodoh, tapi nuraniku menentang keras seolah berkata, “Jangan masukkan dirimu ke dalam daftar orang yang paling bodoh!” Akupun menurutinya. Jadilah aku orang yang minim aktivitas di kala itu. Aku bersyukur bisa menghindari diri menjadi orang yang paling bodoh ataupun orang yang lebih paling bodoh. Namun, satu kepastian aku adalah orang bodoh.

Berdasarkan pengalaman ini, aku memetik beberapa pelajaran berharga. Pertama, sadarlah akan keadaan diri. Kedua, bila sudah sadar akan kebodohan diri, belajarlah untuk meghindari kebodohan. Ketiga, minta satu atau dua orang teman untuk mengontrol kita agar kita bertanggung jawab untuk belajar atau setidaknya mengontrol kita agar jangan sampai jatuh menjadi orang yang paling bodoh atau lebih paling bodoh. Keempat, mohon kekuatan dari Sumber Hikmat untuk memberikan kita kekuatan dalam melepaskan diri dari kebodohan.

Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

1 Kor. 1:27

Niko Saripson P Simamora

Bandung, 10 Desember 2010 (02:45)

(nb:karena ini adalah catatan orang bodoh,kalau ada yang salah, mohon dikoreksi. Terima kasih telah membaca catatan orang bodoh ini)

 

Mendengar frasa “Indonesia tenggelam” mungkin akan menimbulkan banyak interpretasi. Interpretasi yang berbeda-beda tersebut adalah hal yang wajar, tergantung dari mana sudut pandangnya. Namun bila dipandang secara umum, frasa itu dapat membentuk opini negatif terhadap Indonesianya. Jelas saja pengungkapannya akan mengandung banyak reaksi bila dimodifikasi menjadi Indonesia yang tenggelam. Wah! Pernyataan yang seharusnya kita hindari.

Pandangan tersebut akan berbeda dengan mahasiswa yang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi teknik terbaik di negeri ini. Mendengar “Indonesia Tenggelam” sudah tidak asing lagi. Ungkapan itu mengacu kepada salah satu lokasi di kampus yang terletak di tengah kampus diapit empat laboratorium teknik (labtek) dikenal sebagai labtek V, VI, VII, VII namun sudah berubah nama menjadi Gedung Benny Subianto, Gedung T.P Rachmat, Gedung Yusuf Panigoro, dan Gedung Achmad Bakrie. Lokasi ini disebut Indonesia Tenggelam karena terdapat gambaran peta Indonesia pada bagian lantai kolam.

Adanya peta Indonesia di sentra kampus tersebut bisa dianggap sebagai kebanggaan akan luasnya Indonesia dengan segala kekayaan di dalamnya. Namun, sebutan yang disandangkan terhadapnya, menurut saya adalah sesuatu yang kurang elegan. Yang saya takutkan terhadap sapaan yang sering terngiang di kampus tersebut mempengaruhi alam bawah sadar dan membentuk bingkai pemikiran yang setuju dengan sebutan tersebut. Mengapa tidak? Sesuatu yang dibiasakan akan membentuk karakter. Karakter tersebut akan mempengaruhi ekspresi yang timbul dalam berbuat. Hal ini memang terlihat sepele, tetapi jangan terkejut kalau sepeda motor di jalan bisa tergelincir karena batu yang kecil, juga mata yang menjadi buta hanya karena pasir kecil.

Oleh karena itu, sebagai mahasiswa yang sangat mencintai bangsa ini, sudah sepantasnya kita mengaurakan hal yang positif terhadap bangsa ini. Afirmasi yang positif akan membawa ekspresi yang positif. Saya rindu bila di kampus tersebut, sebutan “Indonesia Tenggelam” diganti dengan “Indonesia Memancar” disingkat “Incar”, dengan alasan bahwa air mancur yang memancar di kolam tersebut merupakan gambaran anak-anak bangsa produk kampus tersebut yang akan berpencar ke seluruh pelosok negeri ini dan memancar di sana.

Anak-anak bangsa, memancarlah!!!

Salam,

Niko Saripson P Simamora

Bandung, 17 Januari 2011